in: Movies | November 24, 2010 | by: Lucky Natalia

Kisah Menarik Bayi dari Berbagai Benua dalam “Babies”

Di Sabtu pagi yang cukup cerah, saya tidak pernah menyangka akan menyaksikan film ini bersama puluhan ibu dan bayi mereka. Walaupun film ini dirilis dalam format 2D, saya seakan menyaksikan film dengan efek tiga dimensi karena tangisan, jeritan, dan gumaman bayi yang saya dengar begitu nyata! Bagian muka studio pun berubah menjadi tempat parkir kereta bayi dadakan. Oh well, I hope this movie will satisfy me.

Menjadi orangtua dan mendidik seorang anak tampaknya bukan hal yang mudah. Well, setidaknya itu yang saya perhatikan dari pengalaman beberapa teman saya yang sudah memiliki anak. Pemikiran tersebut semakin terpatri di otak saya saat menyaksikan film dokumenter terbaru asal Prancis, Babies. Film berdurasi sekitar 96 menit ini berkisah mengenai proses perkembangan empat bayi di empat negara berbeda, Namibia, Mongolia, Amerika, dan Jepang. Keempat bayi tersebut lahir di tahun yang bersamaan dan mengalami perkembangan di waktu yang nyaris bersamaan.

Ponijao (Namibia), Bayar (Mongolia), Hattie (Amerika), dan Mari (Jepang) tumbuh dan dibesarkan di lingkungan dan kondisi keluarga yang berbeda. Ponijao adalah bayi yang lahir dari suku Himba di Opuwo Namibia. Berada di lingkungan yang masih cukup primitif, Ponijao dibesarkan dengan cara yang sangat unik, berbeda dengan cara yang biasa dilakukan oleh keluarga modern. Ia tidak pernah bertemu dokter, mendapatkan susu formula dan makanan tambahan bayi, serta tidak memiliki pakaian lengkap layaknya anak-anak pada umumnya. Ia juga tidak pernah bermain puzzle, lego, dan permainan asah otak lainnya. Ia bermain dengan bayi-bayi sebayanya di alam bebas, memanfaatkan semua yang ada di sekitarnya sebagai alat pemuas keingintahuannya. Hasilnya? Ponijao tumbuh menjadi bayi yang sehat dan ceria!

Bayar juga berasal dari keluarga yang terbiasa hidup berpindah (nomaden). Ayah dan ibunya terlalu sibuk dengan ternak mereka sehingga Bayar tumbuh menjadi anak yang mandiri. Ia kerap bermain dengan kakaknya, Degi, atau menyusuri sabana luas dan bermain dengan sapi-sapi orangtuanya. Hidup nomaden membuat keluarga Bayar harus hidup efisien, bahkan untuk urusan mandi. Bayar pun harus mandi dari air yang dikucurkan dari mulut ibunya, atau berendam di baskom kecil dan berbagi air dengan hewan ternak (untuk diminum). Namun begitu, Bayar tumbuh menjadi anak yang riang dengan sepasang pipi yang menyembul seperti bakpao.

Mari dan Hattie merupakan dua bayi yang tumbuh di lingkungan perkotaan dengan perawatan yang (bisa dibilang) mapan. Saat berumur beberapa bulan, Mari dan Hattie sudah mengikuti beragam kegiatan yang membantu perkembangan otak mereka. Mereka bermain di taman bermain, mengunjungi kebun binatang, dan bersosialisasi dengan bayi lainnya di sebuah perkumpulan. Mari dan Hattie mungkin dianggap sebagai bayi-bayi beruntung karena mendapatkan seluruh kebutuhannya. Namun, Mari dan Hattie tidak mendapatkan satu pelajaran berharga yang didapat Ponijao dan Bayar: interaksi dengan alam bebas.

Film ini dibuat dengan sangat sederhana. Tanpa komentar dan hanya diiringi musik. Sebagai film dokumenter, sang sutradara hanya perlu mengikuti rutinitas tiap keluarga tanpa banyak ikut campur di dalamnya. Hasilnya, film ini penuh potongan-potongan kejadian alamiah dan natural yang terjadi pada bayi-bayi lucu tersebut.

Thomas Balmès menyajikan sebuah pelajaran berharga bagi para orangtua di seluruh dunia bahwa tiap orangtua memiliki cara sendiri dalam mendidik anak. Saya sempat bergidik beberapa kali setiap melihat Ponijao begitu “menyatu” dengan alam di sekitarnya. Namun, saya sadar bahwa setiap manusia akan berhasil bertahan hidup di tempat mereka tinggal. Itulah adaptasi.

Film ini memang ditujukan bagi orangtua yang ingin “mengintip” teknik parenting yang diterapkan di negara lain. Namun, tingkah dan polah lucu Ponijao, Bayar, Mari, dan Hattie juga sangat menarik perhatian dan bisa dijadikan hiburan. Sebagai pengingat, ini adalah film dokumenter yang tidak memiliki dialog dan kesatuan cerita antara satu dengan yang lainnya. Bagi sebagian orang, film jenis ini akan sangat membosankan. Namun, jika Anda pecinta Discovery Channel dan segala hal yang berbau nature dan ilmu pengetahuan di dalamnya, film ini bisa jadi pilihan. Selamat menyaksikan!

Tanggal rilis:
25 November 2010
Genre:
Dokumenter
Durasi:
96 menit
Sutradara:
Thomas Balmès
Pemain:
Ponijao, Bayarjargal, Mari, Hattie
Studio:
Studio Canal

Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES