LOGO

Performa Corsair Dominator GT 2133C9 DDR3 di Platform AMD

Part: 1 2 3

Masih segar di ingatan kami, minggu lalu kami me-review Corsair Dominator GT 2133C9 4 GB Kit. RAM kit yang satu ini cukup spesial bagi kami karena spesifikasinya yang tinggi dan voltage defaultnya yang rendah. Pengujian demi pengujian yang dijalani platform Sandy Bridge tersebut pun dilaluinya dengan stabil tanpa masalah. Namun, timbul pertanyaan di benak kami, ”Bagaimana bila RAM ini dijalankan di platform yang sama sekali berbeda dari biasanya; AMD misalnya?”.

Rasa penasaran yang sangat besar tersebut membuat kami memutuskan untuk men-setup sebuah pengujian yang tidak biasa kami lakukan: Memory Testing untuk Platform AMD .

Mari kita lihat testbed yang baru saja kami rakit!

* Anda yang ingin mengetahui detail lebih lengkap mengenai modul RAM Corsair Dominator GT 2133C9 ini, dapat melihatnya di review kami minggu lalu *

Testbed Setup

Berikut adalah testbed baru yang kami sediakan khusus untuk pengujian kali ini:

  • Prosesor: AMD Phenom II X6 1090T  ‘Thuban’
  • Motherboard: MSI 870A Fuzion Power Edition
  • RAM: Corsair Dominator GT CMT4GX3M2B2133C9 2×2 GB kit
  • Graphic Card: MSI GTX460 Hawk Talon Attack 1 GB GDDR5
  • Storage: Hitachi 500 GB SATA
  • Power Supply: Antec True Power Quattro 1200 W OC version
  • Heatsink: Thermalright Venomous X
  • Monitor: LG 24”, 1920×1080
  • OS: Windows 7 64-bit

Kami sengaja menggunakan prosesor Thuban (dan bukan Deneb), prosesor dengan core Thuban memiliki toleransi yang lebih baik untuk clockspeed memori sistem dibandingkan core Deneb. Pilihan motherboard kami percayakan kepada MSI 870A Fuzion Power, sedangkan dan komponen lain kami samakan dengan testbed biasanya.

Limitasi Testing di platform AMD

Ada alasan khusus kami memilih sistem Intel Sandy Bridge sebagai platform utama pengujian memori. Meskipun dihantui limitasi BCLK, memory controller Sandy Bridge terkenal cukup tangguh untuk menangani frekuensi memori tinggi (>1800Mhz). Ini sangat berbeda dengan AMD.

Prosesor AMD, walaupun sudah menawarkan support DDR3 sejak dirilisnya Phenom II X4 955BE , sampai hari ini masih memiliki limitasi memory controller. Kebanyakan integrated memory controller (IMC) AMD akan menemui limitnya di frekuensi sekitar DDR3-1700 s/d DDR3-1750Mhz. Limitasi frekuensi ini sangat bergantung kepada kualitas IMC prosesor dan juga kombinasi board + RAM yang digunakan. Adakalanya kami melihat setup AMD yang bisa menjalankan RAM di DDR3-2000+, namun ada juga yang sudah tidak mau berjalan di DDR3-1666Mhz.

Yang membuat keadaan lebih buruk bagi AMD, ada beberapa vendor mobo yang mengalami ‘anomali’ timing memori. Misalnya, di divider memori 1:4, sebuah RAM hanya bisa berjalan di DDR3-1600CL8, sedangkan DDR3-1600 CL7 akan membuatnya berhenti beroperasi. Namun, di divider memori 1:3.33, DDR3-1600CL6 dapat dioperasikan dengan stabil. Kasus ini sering dijuluki “broken divider” yang terjadi karena masalah kompatibilitas mobo dengan RAM yang dipakai.

Karena alasan tersebut, pengujian frekuensi memori di AMD akan memiliki ruang gerak yang cukup sempit dan juga membutuhkan pengaturan yang tidak sedikit karena tidak adanya XMP (Xtreme Memory Profile).

Kami juga perlu mengingatkan bahwa Corsair Dominator GT 2133C9 divalidasi di lab Corsair menggunakan sistem Intel (baik P55 maupun P67), sehingga tidak pernah ada jaminan bahwa RAM Corsair ini akan berjalan di 2133Mhz di platform AMD. Jadi, jika ada limitasi frekuensi memori, itu merupakan limit dari IMC dan board yang kami gunakan, bukan dari RAMnya.

Ruang Lingkup Pengujian

Meskipun tadi kami menyebutkan bahwa menguji memori di platform AMD memiliki ruang gerak terbatas dalam hal frekuensi memori, perlu kami utarakan juga bahwa AMD memiliki range setting memori yang luas. Ini disebabkan oleh HTRef Clock (kadang disebut FSB) yang limitnya agak jauh dari default (sangat berbeda dari Sandy Bridge yang BCLKnya sangat terbatas). Variabel setting di sistem AMD pun cukup banyak, masih ada CPU-NB Frequency, HT Link, unganged vs ganged memory mode, dsb. Maka dari itu, untuk mempermudah pengujian ini, kami perlu menerapkan beberapa “rule” , seperti:

– CPU dijaga di clock 3600Mh. Semua power saving dimatikan untuk menyimulasikan keadaan prosesor AMD Phenom II X6 1090T di Turbo Core defaultnya.

– HT Link dijaga sedekat mungkin ke 2000Mhz.

– CPU-NB Frequency di antara 2600Mhz dan 2800Mhz, untuk memanfaatkan ekstra bandwidth yang dimiliki memori.

Unganged memory mode only. Semua Timing memory diset manual per channel (DCT0 dan DCT1).

– Vdimm maksimal 1.65 V

– Semua konfigurasi harus bisa melewati pengujian LinX 0.6.4 64-bit setidaknya 5x loops.

Konfigurasi Memori

Setelah menguji puluhan kemungkinan kombinasi frekuensi memori dan timing serta melewati banyak (sekali) BSOD yang membuat kami terpaksa meng-install ulang OS, akhirnya kami mendapat 3 (tiga) konfigurasi memori paling optimal yang memenuhi persyaratan kami.

a) Konfigurasi 1

CPU: 225 x 16 (3600 Mhz)

CPU-NB: 2700 Mhz

HT Link Speed: 2025 Mhz

DRAM Frequency: DDR3-1800 Mhz

DRAM Timing: 8-8-8-24 ,1 T

b) Konfigurasi 2

CPU: 232 x 15.5 (3600 Mhz)

CPU-NB: 2784 Mhz

HT Link: 2088 Mhz

DRAM Frequency: DDR3-1850 Mhz

DRAM Timing: 8-9-8-24 , 2 T

c) Konfigurasi 3

CPU: 300 x 12 (3600 Mhz)

CPU-NB: 2700 Mhz

HT Link: 2100 Mhz

DRAM Frequeny: DDR3-1600 Mhz

DRAM Timing: 6-8-6-24, 1 T

Frekuensi DDR3-1850 adalah batas atas sistem kami. Kami berusaha menggunakan timing loose seperti 9-10-9-27 2 T, namun sistem kami tidak pernah bisa stabil di frekuensi di atas DDR3-1850 Mhz. Frekuensi 1900 Mhz sempat tercapai namun hanya untuk sebatas benchmark ringan karena tidak stabil sama sekali. Di frekuensi 1850 Mhz, kami terpaksa menggunakan CMD Rate sebesar 2 T dan timing 8-9-8-24.

Kami memutuskan tidak menguji frekuensi 1333-1500 Mhz karena performanya terlalu rendah berapa pun ketat timing yang kami berikan. Timing terketat yang kami dapat di pengujian ini adalah 6-8-6-24 , 1 T yang dicapai dengan frekuensi DDR3-1600 Mhz. Kami pernah mencoba men-setting timing ke 6-7-6 dan 6-6-6 di frekuensi ini namun RAM kami gagal mencapainya dengan stabil.

Untuk setting voltase memori,  kami harus menggunakan VDimm 1.65 V untuk mencapai kestabilan. Tampaknya, 2133 Mhz CL9 dengan 1.5 V hanya bisa terjadi di P67 / P55 platform. Hanya konfigurasi DDR3-1800 CL8-8-8-24 yang bisa dicapai menggunakan VDimm 1.6 V, sedangkan sisanya memaksa kami menggunakan 1.65 V.

Selanjutnya, kami akan mem-benchmark performa RAM dengan konfigurasi seperti yang kami sebutkan di atas tadi. Kami juga akan menyertakan performa RAM dalam keadaan default (DDR3-1333CL9-9-9-24 1T, CPU-NB 2000 Mhz) sebagai perbandingan.

Part: 1 2 3
Random Articles
Back to Top