Jagat Review

Twitter Facebook Youtube Flickr RSS

Review Assassin’s Creed Brotherhood PC: Perjalanan Akhir Ezio?


Ubisoft memang layak mendapatkan acungan jempol super besar karena berhasil melahirkan franchise unik seperti Assassin’s Creed. Game yang berfokus pada jelajah memori karakter bernama Desmont ini memang lahir dengan konsep yang bisa terhitung baru, jika dibandingkan dengan game lain yang mengusung gameplay serupa. Assassin’s Creed mampu menggabungkan elemen permainan open-world mirip Grand Theft Auto dengan elemen stealth kental layaknya Hitman, dipadukan dengan berbagai cerita sejarah yang mampu disulap menjadi plot yang menarik. Assassin’s Creed tumbuh menjadi franchise yang sukses luar biasa.

Berbagai elemen sejarah yang sempat kita pelajari melalui buku pelajaran di masa sekolah dulu, divisualisasikan kembali oleh Assassin’s Creed dalam detail yang mengagumkan. Kita tidak sedang membicarakan detail gedung saja, tetapi juga suasana, karakter, kebiasaan masyarakat, budaya, dan hal lain yang menyertainya. Pembelajaran yang mendalam mengenai semua hal tersebut membuat Ubisoft mampu menghadirkan tema dan nuansa permainan yang tiada bandingnya. Ketika Assassin’s Creed lahir, Anda berperan sebagai Alltair, sang assassin di masa perang salib dulu. Sekuel selanjutnya membawa Anda pada karakter baru, Ezio yang merupakan assassin di masa Renaissance Italia. Seri nya yang terbaru, Brotherhood, masih membawa Anda pada misi Ezio yang belum terselesaikan.

Tugas Assassins adalah membunuh. And that's what we do!

Desmont mulai menyelusuri tempat-tempat leluhurnya.

Assassin’s Creed: Brotherhood memang sudah dirilis untuk konsol sejak akhir tahun lalu, tetapi tidak untuk PC. PC menjadi “anak tiri” dengan tanpa ada alasan yang jelas dari pihak Ubisoft sebagai pihak publisher. Untuk mengobati kekecewaan para gamer PC, Ubisoft menjanjikan perbaikan kualitas grafis dan dukungan tiga dimensi untuk Brotherhood. Janji tersebut harus saya akui memang terpenuhi dengan sangat baik ketika saya membandingkan versi XBOX 360 dengan versi PC. Anda bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal ini melalui preview Assassin’s Creed Brotherhood yang pernah saya rilis beberapa waktu yang lalu. Bagaimana dengan keseluruhan permainan yang dihadirkan? Simak terus review ini.

Plot

Tongkat Borgia yang dapat digunakan untuk memanggil Minerva.

Minerva.

Apakah Anda sempat memainkan Assassin’s Creed 2 sebelum memainkan game ini? Jika jawaban Anda adalah belum, maka saya menyarankan Anda untuk memainkannya terlebih dahulu. Mengapa? Karena Assassin’s Creed: Brotherhood merupakan sekuel Assassin’s Creed 2 dengan meneruskan plot yang sama. Jika Anda belum memainkan seri sebelumnya, Brotherhood hanya akan membawa Anda pada kompleksitas cerita yang akan sulit untuk dimengerti, mencegah Anda mendapatkan pengalaman bermain yang lebih maksimal.

Cerita akan dimulai dari akhir Assassin’s Creed 2. Setelah Ezio berhasil mengalahkan Borgia dan bertemu dengan Minerva, sang dewi misterius, sebuah pesan tentang akhir dunia disampaikan. Ezio kembali ke Monteriggioni untuk menjalankan hidup yang dikiranya akan berakhir damai. Bagaimana tidak? Apple of Eden sudah berada di tangan para Assassin, Borgia sudah kalah, dan Monteriggioni berkembang menjadi kota yang sudah mulai ramai, tidak mungkin lagi ada sesuatu yang salah di kehidupan tersebut. Namun, ternyata perjuangan Ezio masih belum berakhir.

Kita diserang!

Cesare dan Lucrezia Brogia: Pasangan incest yang kejam

Anak-anak Borgia, Cesare dan Lucrezia memutuskan untuk membalas dendam atas nama ayahnya. Pasangan incest ini dengan hati yang dingin menghancurkan Monteriggioni dan membunuh Mario, mentor sekaligus paman Ezio. Dalam keadaan yang terluka parah, Ezio terpaksa mundur dari wilayah pertarungan dan menyusun rencana balas dendam. Selanjutnya, Anda akan berperan sebagai Ezio yang memiliki misi sederhana: menghancurkan keluarga Borgia, mengambil kembali Apple of Eden, dan merestorasi kembali Roma.

Kita masih memiliki sekutu yang kuat - Machiavelli.

Ezio tentu saja masih akan dibantu oleh para Assasssin lain yang setia menemaninya sejak awal perjuangan. Ada sang adik perempuan dan ibu yang memutuskan untuk bergabung dengan klan Courtesans demi membantu Ezio mencapai tujuannya. Thief dan Mercenary Guild juga masih memperlihatkan dukungan terhadap Ezio tanpa sedikitpun keraguan. Anda juga masih akan menemukan Machiavelli dan Da Vinci sebagai karakter dalam sejarah yang berhasil masuk ke dalam cerita dengan baik berkat kejeniusan Ubisoft.

Apakah Ezio akan berhasil menemukan kembali Apple of Eden? Bagaimana dengan balas dendamnya terhadap Cesare dan Lucrezia Borgia? Bagaimana dengan misteri yang selalu mengitari Desmont selama ini? Tentu saja Anda harus menemukan jawabannya sendiri karena memang kenikmatan bermain Assassin Creed adalah membuka tabir misteri tersebut. Yang pasti, Anda akan menemukan sebuah ending yang semakin memperpanjang tanda tanya yang ada, sebuah tanda bahwa franchise ini tak akan mati dalam waktu dekat.

Comments

11 Comments
TSC on April 1, 2011 at 6:15 pm

“Gamer yang berada di bawah naungan organisasi rahasia Templar (kidding).”

nice joke :p


TyranT on April 1, 2011 at 6:53 pm

Pasangan incest.. Cekakakak…
Betull.. Pakek cium2an pula… Yeukkk….


Dhana "STRIG" on April 1, 2011 at 8:53 pm

“…hadirnya warga kota “ajaib” yang karena suatu alasan ternyata dapat memanjat bangunan-bangunan yang ada secepat kita memanjat mereka.”

Setau saya ini semacam mini games, bos. Jadi ada yang kita ngejar thief (copet) entah karena dia nilep duit kita (atau mungkin ceritanya kita mergokin mereka), ditunjukan dengan lambang kantong uang berwarna merah di mini map, kemudian ada juga yang mengejar ‘borgia’s messenger’, orangnya pake baju warna merah, terus kalau ketemu langsung muncul lambang segitiga di atas kepalanya.. Keduanya cukup di-tackle aja.


Pladidus Santoso on April 1, 2011 at 9:09 pm

@Dhana “STRIG” : Bukan messenger yang gua maksud bro.. Tapi terkadang ada glitches yang bikin warga tiba2 ada di atap (biasanya sih wanita), terus dia bisa seenaknya lompatin lewat gedung, begitu aza atau naik turun gedung kayak Assassin.

@Tyrant dan TSC : Thanks for your reading.. :D


Quaarian on April 1, 2011 at 9:17 pm

multiplayernya gmn om?


Pladidus Santoso on April 1, 2011 at 9:23 pm

@quaarian : Kita masih fokus di campaign om.. :)


Wiro Sableng on April 5, 2011 at 2:03 pm

saya udah mainin dua seri sebelumnya… dan yang bisa saya katakan adalah ….. perfect!! karena saya sangat menyukai game dengan grafis tinggi dan alur cerita yang dalam.
Makasih banget info nya bro….


Pladidus Santoso on April 5, 2011 at 3:35 pm

@Wiro Sableng : cukup puas dengan ending di Brotherhood ini? Soalnya bagi saya = agak gak jelas.. :D


Wiro Sableng on April 6, 2011 at 10:00 am

saya malah ngarep ni game gak tamat-tamat bro.. hehehe……
meskipun memang battle nya terbilang cukup mudah, tapi gaya eksekusinya yg bermacam2 yg bikin saya suka bgt.
o iya, sebagai gamer yg udah bnyk namatin game, bro pasti punya info game2 yg battle nya banyak jurus2nya gt, kayak jade empire lah bro.
mainin jade empire serasa jadi wiro sableng beneran ……. :p


Pladidus Santoso on April 6, 2011 at 12:08 pm

Hahaha.. saya juga berharap franchise Assassin Creed nya enggak mati-mati.. :D Tapi berharap udah enggak Ezio lagi.. Masih banyak timeline sejarah yang masih bisa dieksploitasi.


Jagat Review | Gaming Dengan Notebook MSI GT680 on April 25, 2011 at 3:01 pm

[...] Assassins Creed: Brotherhood [...]






© 2011 Jagat Review About Us | Contact Us | Career | Terms of Service