in: Games | May 2, 2011 | by: Pladidus Santoso

NostalGame: Suikoden II

Berbagai pendapat mungkin akan langsung bertebaran jika kita melemparkan pertanyaan, “Game RPG apa yang menurut Anda terbaik di masa kejayaan Playstation dulu?”. Dari begitu banyak judul yang lahir di masa itu, mungkin sebagian besar dari Anda akan menjawab seri Final Fantasy atau mungkin Wild Arms. Bagi saya pribadi, hanya satu RPG yang dapat membuat saya duduk tenang di depan televisi hingga mengorbankan waktu tidur. Game itu adalah Suikoden II.

Suikoden II merupakan salah satu game RPG paling menyenangkan, memuaskan, dan menantang bagi saya pribadi. Bagaimana tidak? Dengan memasukkan berbagai muatan politik dan strategi di dalamnya, Suikoden II tampil jauh berbeda dengan RPG-RPG yang lain. Apalagi sistem battle beranggotakan enam orang dengan range serangan yang membuat elemen permainan menjadi jauh lebih menarik. Apa yang membuat saya semakin tidak lepas darinya? Tentu saja 108 karakter yang bisa direkrut dengan syarat-syarat tertentu.

Saya masih ingat saat dulu selalu menyempatkan diri untuk singgah di warung internet demi mencari informasi lengkap tentang cara mendapatkan semua karakter yang ada. Hal ini “terpaksa” saya lakukan ketika diskusi dengan teman-teman sekolah yang lain tidak menghasilkan jawaban yang pasti. Jauh lebih banyak mendapatkan rumor yang tidak berhasil lolos uji kebenaran. Apalagi setelah mengetahui bahwa kelengkapan karakter ini akan memengaruhi ending dan plot cerita di depan. Saat itu, saya sangat bersemangat.

Bagi Anda yang sempat memainkan game yang mampu tampil dengan epik ini, siapkan sabuk pengaman Anda karena kita akan kembali ke masa dimana Suikoden II masih menjadi idola para penggemar game RPG. Gali kembali semua memori Anda yang menyenangkan dan ikutlah saya berbagi informasi tentang salah satu game RPG terbaik ini.

Plot

Suikoden II menyediakan salah satu plot terbaik dalam game sejauh pengamatan saya. Berfokus kepada pengkhianatan yang dilakukan Luca Blight terhadap negaranya sendiri, karakter utama kita bersama dengan sang sahabat, Jowy menjadi kambing hitam dari semua rencana itu. Dikucilkan dan menjadi target pembunuhan, sang karakter utama memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pemberontakan yang dikepalai oleh Flik dan Viktor. Komitmen untuk menyelamatkan kota-kota dari serangan Luca menjadi fokus di awal cerita. Sisi politik dan berbagai intrik yang ada berkembang dari sana. Mulai dari upaya mencari Runes, keputusan Jowy untuk memilih pihak lawan, Pilika yang simpatik, hingga usaha mengalahkan Luca Blight yang menyeramkan itu.

Daftar Isi
Pages: 1 2 3 4 5
Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES