in: Games | June 23, 2011 | by: Pladidus Santoso

NostalGame: Brave Fencer Musashi

Apa yang Saya Benci dari Brave Fencer Musashi?

Skill Jebakan


Tidak jarang rasa penasaran Anda untuk melemparkan fusion dan mengasimilasi setiap musuh yang ada berujung ke kekecewaan besar, bahkan bencana. Beberapa musuh terkadang menghadirkan skill yang justru merugikan Musashi itu sendiri. Hal yang paling dibenci tentu saja mengetahui bahwa skill yang diserap ternyata tidak memberikan kontribusi yang berarti. Momen saat Anda berkata, “Kalau tahu gitu, gue nyimpen skill yang sebelumnya!”. Ini adalah momen yang akan sering Anda rasakan.

Ke mana Saya Harus Melangkah?


Gameplay yang dihadirkan oleh Musashi hampir menjadikan game ini sebuah open-world. Bagaimana tidak? Kita memang memiliki quest-quest yang harus dilaksanakan, namun dengan kurangnya informasi yang ada, Anda harus cermat untuk menentukan wilayah yang harus dieksplor. Tidak ada clue yang jelas membicarakan dimana letak tujuan Anda secara tepat. Keuntungannya, Anda bisa leveling up jika sering tersesat. Sisi negatifnya? Anda akan berjalan seperti pengembara tanpa tujuan.

Kualitas Grafis


Oke, kita kembali ke masalah yang mungkin terlewat klasik untuk dilewatkan. Walaupun tampilan yang dihasilkan masih menggambarkan sosok Musashi dan dunia dimana ia bernaung, kualitas grafis yang dihasilkan game ini harus diakui buruk. Tidak hanya semua elemen yang didesain begitu kotak, namun beberapa daerah dibangun seperti terputus begitu saja dari dunia sekitarnya. Untungnya, hal ini tidak terlalu berpengaruh karena gameplay yang dibawa Musashi menghasilkan adiksi yang membuat gamer gelap mata.

Sensasi Setelah Memainkannya Kembali

Walaupun saya tidak memainkannya terlalu lama, namun menghidupkan kembali Brave Fencer Musashi benar-benar membawa kembali semua kenangan yang lama terkubur. Dari adegan-adegan penuh memori saat mendapatkan Lumina hingga musik yang mengitari ketika Musashi mulai melakukan eksplorasi untuk menyelesaikan quest pertama. Semuanya terasa begitu melekat di otak. Bahkan, kualitas grafis yang buruk (apalagi dari kacamata saat ini) tidak berpengaruh signifikan ke kenikmatan memainkan game ini. Jika Anda merupakan gamer yang pernah memainkan game ini dan memiliki waktu luang, tidak ada salahnya memainkan kembali Brave Fencer Musashi ini.

Saya sendiri terakhir kali berperan sebagai Musashi saat game ini dilahirkan kembali untuk Playstation 2 dengan sosok karakter yang lebih dewasa. Gameplay yang diusung memang tidak jauh berbeda, termasuk juga plot yang dihadirkan. Walaupun secara rata-rata Musashi di PS2 mampu menghibur dan membuat saya bertahan lama di layar televisi, belum ada yang bisa mengalahkan sensasi yang dihasilkan seri Musashi di Playstation. No one can beat the classics! Mungkin ini saat yang tepat pula untuk mengucapkan bagi teman dari masa lalu yang menjadi racun bagi saya untuk mencintai game ini. Musashi rocks!


Daftar Isi
Pages: 1 2
Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES