in: Games | July 1, 2011 | by: Pladidus Santoso

NostalGame: Lunar 2 Eternal Blue Complete

Apa yang Saya Benci Dari Lunar 2 Eternal Blue Complete?

Kapan Waktu Tepat untuk Save?



Save dimana saja mungkin merupakan fitur yang dicintai di game ini namun seringkali justru menghasilkan kebingungan untuk menentukan timing yang tepat. Sudah bukan rahasia lagi jika game-game RPG lain akan menyediakan save point tepat sebelum sebuah boss battle untuk menjamin para gamer tidak harus mengulang dari jauh jika sampai kalah. Bagaimana jika sebuah game RPG tidak memiliki save point? Anda akan merasakannya di Lunar Eternal Blue Complete ini. Ketika Anda lupa melakukan save dan tiba-tiba Anda bertemu dengan boss battle yang hadir tanpa peringatan, Anda harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.

AI Mode


Di dalam pertarungan, selain memasukkan perintah secara manual, gamer juga dapat meminta karakter untuk otomatis menggunakan serangan. Dengan nama AI Mode, setiap karakter akan berusaha untuk menghasilkan serangan dan pertahanan yang paling efektif untuk mengalahkan musuh. Konsep yang dihadirkan memang patut diacungi jempol, namun pelaksanaanya justru sering berakhir malapetaka. Berhasil di musuh-musuh lemah, AI Mode tidak akan dapat digunakan di Boss Battle. Belum lagi ketika Anda dihadapkan pada pertarungan “pasti kalah” sesuai plot, AI Mode justru membuat karakter Anda menghabiskan banyak item untuk healing. AI Mode tidak dapat mengenali pertarungan mana saja yang tidak dapat dimenangkan.

Desain Karakter


Sebagai gamer yang memainkan dua seri Lunar di Playstation, saya harus mengatakan bahwa desain karakter di Eternal Blue Complete ini cukup mengecewakan. Tidak tampak menarik mata, beberapa karakter bahkan terkesan menjiplak sebagian desain dari seri Silver Star Story. Seolah Anda sedang memainkan dua karakter yang sama. Walaupun tidak berpengaruh secara signifikan  terhadap permainan yang ditawarkan, namun patut menjadi catatan.

Sensasi Setelah Memainkannya Kembali

Bagaimana sensasi setelah memainkannya kembali? Awesome! Sebagai salah satu game RPG yang paling saya sukai di zaman Playstation dulu, Lunar Eternal Blue Complete masih menghadirkan sensasi keterpukauan yang sama. Balutan grafis nya yang sederhana justru membuat game ini begitu memorable. Semakin menarik karena visualisasi seperti ini masih tampak nyaman di mata walaupun generasi gaming saat ini sudah menghasilkan kualitas grafis yang mencenangkan.

Walaupun hanya sempat bermain beberapa jam, keinginan untuk leveling up karakter sudah terpompa bahkan sejak awal permainan. Saya memutuskan untuk menaikkan level Hiro hingga lima level di atas yang seharusnya. Permainan terasa jauh lebih mudah setiap kali Hiro naik level dan itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan Lunar. Membuat semua usaha ini tampak terbayarkan.

Kesempatan untuk melakukan save dimana saja justru menjadi blunder setelah begitu lama tidak memainkan game ini. Saya sempat harus mengalami game over setelah berhasil leveling up cukup lama karena boss battle yang tidak terprediksi akan hadir. Akibatnya? Saya harus mengulangnya lagi dari awal. Terasa beban? Sedikit, namun kesederhanaan game ini membuat proses itu menjadi jauh lebih menyenangkan dan mudah. Apalagi jika Tactics mode sudah diset dengan baik.

Terlepas dari apakah Anda pernah memainkan Lunar Eternal Blue Complete Edition sebelumnya di Playstation, game ini masih mampu menawarkan kekaguman yang sama seperti ketika memainkannya pertama kali. Jika Anda memiliki waktu lebih untuk sejenak berhenti dan membiarkan otak mengingat kembali, maka tidak ada salahnya memberikan game ini sebuah kesempatan untuk dimainkan kembali. Saya hanya bisa merenung dan terdiam melihat bagaimana game di masa lalu mampu menghasilkan kualitas seperti ini dengan kemampuan konsol yang terbatas. Sesuatu yang tampak bertolak belakang dengan situasi yang terjadi di jagat game belakangan game ini. Industri yang kita cintai ini tampak kehilangan harapan dan semangat kreativitasnya. Mari berharap agar game sekelas Lunar masih memiliki kesempatan untuk lahir lagi di masa depan.

Daftar Isi
Pages: 1 2
Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES