LOGO

9 Film Bertema Nasionalisme untuk Menyambut Hari Kemerdekaan

Part: 1 2

Saat ini, di tengah gempuran film-film bertema horor yang mengedepankan segi komersial, mencari film bertema nasionalisme yang memiliki kualitas baik dengan nilai edukasi di dalamnya memang sedikit sulit. Namun, biar pun sulit, bukan berarti tidak ada. Sepanjang tahun 2000-an, ada beberapa film yang memang dibuat untuk mengangkat sisi lain kehidupan masyarakat Indonesia, tidak hanya menyajikan tayangan sebagai hiburan semata, namun juga sarat dengan pandangan dan ajaran mengenai nasionalisme.

Tentunya, film-film tersebut dibuat tidak seperti film bertema nasionalisme yang pernah ada di masa tahun 60-an sampai 70-an, yang kebanyakan menyertakan adegan peperangan dan mengambil latar sejarah yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena sudah bukan masanya, film-film tersebut juga membutuhkan dana dan ketotalitasan yang sangat besar agar menjadi sebuah produk yang berkualitas dan layak tonton.

Film-film yang ada di daftar di bawah ini bukanlah film yang memberikan deskripsi gamblang—peperangan, “angkat senjata”, dan konspirasi—mengenai nilai-nilai kepatriotan. Saya lebih suka mengelompokkan film-film di bawah ini sebagai film dengan nilai-nilai nasionalisme yang disesuaikan dengan zamannya. Beberapa di antaranya—nilai nasionalisme tersebut—diselipkan dengan indah di dalam sebuah kemasan cerita yang sama sekali baru.

9. Minggu Pagi di Victoria Park

Film ini mengangkat kisah mengenai nasib tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hong Kong. Judul “Minggu Pagi di Victoria Park” merujuk ke tradisi para TKW Indonesia yang memang sering berkumpul di Victoria Park, sekadar berbagi cerita mengenai kehidupannya masing-masing. Tidak banyak atau bahkan baru kali ini ada film yang mengangkat kehidupan TKW Indonesia, yang pada kenyataannya sering mendapatkan perlakuan diskriminasi dari negaranya sendiri.

Menyaksikan film ini membuat saya merenungkan banyak hal, termasuk fakta bahwa para TKW tersebut berada dalam kondisi yang tidak memiliki pilihan lain kecuali menjalankan hidup mereka di negara orang: suka ataupun tidak suka. Melalui film ini, banyak hal yang bisa kita petik, salah satunya menumbuhkan rasa empati terhadap mereka dan berusaha menghargai perjuangan mereka untuk bertahan hidup. Yes, they belong to our country. Sudah seharusnya mereka dihargai sepatutnya, seperti yang tertulis di pintu kedatangan terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta: Selamat Datang Pahlawan Devisa.

Sutradara: Lola Amaria
Pemain: Lola Amaria, Titi Sjuman, Donny Alamsyah, Donny Damara,
Distributor: Pic[k]lock Production
Tahun rilis: 2010

8. Garuda di Dadaku

Film keluarga yang satu ini terasa begitu sarat dengan nilai nasionalisme saat si tokoh utama, Bayu (Emir Mahira), seorang anak yang baru berusia 11 tahun, memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang pemain sepak bola profesional dan bermain untuk membela negaranya di kancah internasional. Konflik di film ini memang tidak begitu kompleks dan plotnya pun sangat sederhana. Namun, itu semua tidak mengurangi makna mendalam yang ingin disampaikan sang sutradara, Ifa Isfansyah, mengenai nilai-nilai nasionalisme.

Jika Anda berpikir ini adalah film yang hanya cocok disaksikan anak-anak—karena pemeran utamanya adalah anak-anak dan plot yang disajikan terlalu sederhana dengan konflik klise yang menguji persahabatan, sebaiknya berpikir ulang. Pada dasarnya, semua film keluarga dapat disaksikan semua kalangan, tanpa terkecuali.

Rencananya, film ini akan dibuat sekuelnya dan produksinya sudah berlangsung sejak Juli lalu.

Sutradara: Ifa Isfansyah
Pemain: Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranegara, Ari Sihasale, Maudy Koesnaedi
Studio: Sbo Films Dam Mizan Productions
Tahun rilis: 2009

7. Tanah Air Beta

Ingatkah Anda dengan rumah produksi Alenia? Rumah produksi yang didirikan pasangan suami-istri Ari Sihasale dan Nia Zulkanaen ini menjadi angin segar untuk dunia perfilman Indonesia karena selalu menyajikan film-film keluarga yang berkualitas dan sarat amanat. Salah satunya adalah Tanah Air Beta yang mengangkat kehidupan keluarga yang terpisah akibat pelepasan Timor Timur dari Indonesia pada tahun 1998 silam.

Nilai nasionalisme di film ini sangat terasa saat salah satu tokoh utamanya, Tatiana (Alexandra Gottardo), memilih untuk mengungsi ke Kupang, NTT, bersama anak perempuannya, Merry (Griffit Patricia), karena tetap ingin menjadi bagian dari RI. Keputusannya itu harus dibayar cukup mahal karena harus berpisah dari anak laki-lakinya yang masih berada di Timor Timur.

Film ini terasa sangat spesial karena mengambil latar di Atambua, NTT. Tentunya, tidak banyak atau bahkan belum ada film yang mengangkat kehidupan masyarakat Atambua. Sebuah tayangan yang cukup menghibur dan juga sangat edukatif.

Sutradara: Ari Sihasale
Pemain: Alexandra Gottardo, Griffit Patricia, Lukman Sardi, Ari Sihasale
Studio: Alenia Pictures
Tahun rilis: 2010

6. King

Another great movie from Alenia Pictures! Kali ini, berkisah mengenai cita-cita seorang anak untuk dapat menjadi pebulutangkis nasional. Dalam segala keterbatasan dana yang dimiliki keluarganya, Guntur (Rangga Raditya), tidak pernah berhenti bermimpi untuk dapat menjadi atlet profesional yang akan membela negara tercintanya di dunia internasional, seperti pebulutangkis idolanya, Liem Swie King.

Film ini memang dibuat terinspirasi oleh prestasi yang ditorehkan Liem Swie King untuk Indonesia di masa-masa kejayaan buku tangkis Indonesia tahun 1980-an. Tidak hanya mengajak anak-anak Indonesia merajut mimpi, film ini juga menyodorkan pesan mulia mengenai rasa nasionalisme yang muncul di dada seorang anak yang hidup dengan sederhana. Bagaimana dengan Anda?

Sutradara: Ari Sihasale
Pemain: Rangga Raditya, Lucky Martin, Surya Saputra,  Ariyo Wahab, Wulan Guritno
Studio: Alenia Pictures
Tahun rilis: 2009

Part: 1 2

Comments

  1. weny says:

    salam,
    posting review film dengan semangat nasionalisme ini bermanfaat sekali,
    ijin untuk berbagi…
    terima kasih
    :-)
    MERDEKA!!!

  2. hendito says:

    Top si akang Ari Sihasale … sayang pemerintah kurang ngasih Dana

Random Articles
Back to Top