in: Games | October 23, 2011 | by: Pladidus Santoso

NostalGame: 1942

Tembakan, pesawat, dan bunyi deru peluru yang keras memang kini bekembang menjadi salah satu genre paling utama di industri game. Jika kita membicarakan game yang berfokus pada hal ini di masa sekarang, maka nama Ace Combat dan H.A.W.X sudah pasti menjadi yang terdepan. Pertarungan dengan kecepatan tinggi dan akurasi tembakan yang  menentukan hidup dan mati karakter membuat game pesawat selalu menarik untuk diikuti. Apalagi jika mampu menghadirkan atmosfer dan setting perperangan yang epik di dalamnya. Namun di masa lalu, ketika industri game masih dipenuhi dengan berbagai inovasi jempolan, pesawat tampil jauh lebih sederhana.

Apakah Anda termasuk gamer yang sempat memiliki NES di masa lalu? Maka game yang satu ini pasti tidak akan terdengar asing di telinga Anda. Di masa di mana game dibuat dengan piksel sederhana dan warna-warna cerah, game yang satu ini berhasil menyedot perhatian yang cukup besar di masa lalu. Bersettingkan perang besar yang lebih banyak terjadi di laut, Anda berperan sebagai seorang pilot gagah berani yang maju dan berjuang seorang diri. Memang terdengar bodoh untuk konsep saat ini, namun di masa lalu, hal seperti ini mampu membangun atmosfer yang cukup epik untuk sebuah game dua dimensi. Mereka yang besar di tahun 1980 dan 1990-an tentu mengenal game yang satu ini. Ucapkan selamat datang untuk 1942!

Masih ingatkah Anda tentang game yang satu ini? Gamer yang seringkali memainkan catridge “All in One” di NES tentu tidak akan melewatkan game yang satu ini. Apalagi mereka yang seringkali mangkal di pusat-pusat arcade gaming di masa itu. 1942 selalu menjadi game yang tepat untuk sekedar menghabiskan waktu, well, jika Anda tidak termasuk salah maniak yang terobsesi dengan arcade centre zaman dulu. Gamer yang tujuan utamanya tidak untuk sekadar mendapatkan kesenangan dengan memainkan 1942, tapi dengan segala upaya dan doa berusaha menjadi pemilik high scores di mesin arcadenya.

Ketika pilihan game vertical shooter di masa lalu masih sangat terbatas, 1942 menghadirkan gameplay dan tema yang paling nyata. Sebagian besar game bergenre sama di saat itu lebih berfokus untuk membasmi lebih banyak alien dan pesawat-pesawat tanpa asal-usul, 1942 datang dengan plot perang dunia yang tergolong langka di kala itu. Begitu banyak hal yang membuat game ini meninggalkan kesan yang mendalam, tidak hanya sekadar gameplay saja, tetapi juga berbagai elemen pendukung di dalamnya. Anda tentu masih mengingat bunyi telegram yang menjadi “background music”nya atau beberapa kejadian yang seringkali menyebalkan. Terlepas dari itu, 1942 harus diakui merupakan pondasi dasar yang telah menginspirasi banyak game setelahnya.

Apakah Anda termasuk gamer yang pernah memainkan 1942 sebelumnya? Jika iya, jangan ragu untuk ikut bergabung di dalam artikel ini, mengambil sedikit memori yang mungkin sudah terlupakan dan mengingat kembali masa-masa muda menyenangkan bersama dengan pesawat hijau yang satu ini.

Plot

Ada hal yang cukup aneh terjadi di seri 1942 ini. Seperti yang kita tahu, game ini pertama kali diluncurkan untuk mesin Arcade,  kemudian diport ke NES dan meraih popularitas yang jauh lebih besar di sana. Tangan dingin yang berada di baliknya? Perusahaan yang melahirkan banyak franchise raksasa setelahnya seperti Street Fighter dan Resident Evil. Benar sekali, Capcom lah yang menjadi pencetus kelahiran game epik 1942 ini. Seperti yang kita tahu, Capcom adalah perusahaan yang berbasis di Jepang. 1942 juga diciptakan oleh Yoshiki Okamoto yang notabene merupakan seorang yang berkebangsaan Jepang. Namun plot utama dari 1942 justu meminta Anda untuk menghancurkan pesawat-pesawat Jepang dengan tanpa belas kasihan.

1942 bersettingkan awal Perang Dunia II, dimana Jepang dan Amerika Serikat mulai bersitegang di Samudera Pasifik. Anda memerankan pilot sebuah pesawat Amerika bernama Super-Ace yang ditugaskan untuk menembus pertahanan Jepang dan menuju ke Tokyo. Sebuah perjalanan yang tidak sulit jika Anda melakukannya dalam keadaan damai. Dalam keadaan perang? Ini juga berarti meminta Anda untuk menghancurkan setiap pesawat dan angkatan Laut Jepang yang menghalangi di sepanjang jalan. Pertempuran Anda pun dimulai.

Sebagai sebuah game vertical shooter yang sederhana, 1942 tentu tidak menghadirkan sistem kontrol yang kompleks. Anda hanya memiliki dua fungsi tombol: menembak dan bermanuver untuk menghindari peluru. Inti permainan adalah menembak semua musuh yang muncul di layar dan sekaligus memastikan bertahannya hidup Anda dengan menghindari setiap peluru yang ada. Tembakan sang Super-Ace ini pun dapat bertambah kuat seiring dengan jumlah power up yang Anda kumpulkan. Anda hanya perlu memastikan setiap pesawat merah yang muncul di layar hancur untuk mendapatkan upgrade yang satu ini. Sederhana bukan?

Berbeda dengan game-game vertical shooter saat ini, 1942 masih tergolong sebagai game vertical shooter yang manusiawi. Anda tentu tidak akan menemukan “pagar tembakan” yang dilontarkan musuh seperti layaknya yang sering Anda temukan di Touhou, misalnya. Anda juga tidak akan menemukan boss battle epik yang saat ini menjadi elemen utama yang tak mungkin dipisahkan dari sebuah game vertical shooter. Semua kekurangan di 1942 pada akhirnya dirombak dan diperbaiki di seri selanjutnya, 1943.

Apa yang Saya Sukai dari 1942?

Manuver Super-Efektif


Jika Anda membicarakan 1942, maka Anda pasti akan membahas gerakan super efektif yang satu ini, sebuah inovasi yang entah mengapa tak pernah diikuti game-game vertical shooter selanjutnya. Di game vertical shooter saat ini, Bomb dan Serangan Special mungkin menjadi senjata paling efektif untuk menyelamatkan diri dari peluru musuh yang tak terhindarkan lagi. Namun di 1942, cara ini hanya bisa dilakukan dengan menekan tombol manuver. Pesawat Anda akan berbalik dengan gerakan memutar 360 derajat yang epik dengan bunyi pesawat yang sulit dilepaskan dari kepala. Tidak hanya menghindari peluru Anda juga dapat menghindari pesawat yang datang dengan cepat menggunakan cara ini. Namun berhati-hatilah, salah menempatkan posisi setelah melakukannya sama dengan mati.

Melawan Pesawat Kamikaze yang Aneh


Bayangkan jika Anda seorang pilot pesawat tempur saat ini dan Anda diminta untuk berangkat berperang melawan angkatan udara negara lawan. Anda tentu mengantisipasi sebuah perang besar di mana Anda dan pesawat musuh harus bertukar tembakan, di mana nasib hidup dan mati ditentukan di dalamnya. Namun apa yang terjadi di 1942? Sebagian besar pesawat memang menembaki Anda, namun tidak jarang pula Anda akan menemukan skuadron pesawat yang tampil seolah sedang berusaha berkamikaze. Mereka hanya terbang mendekat ke arah kita tanpa mengeluarkan tembakan apapun, pelan namun pasti. Gerakan seperti ini seolah menjadi sebuah bahasa isyarat tidak resmi, “Tolong tembak dan hancurkan kami!!”. Pesawat-pesawat yang aneh..

Power Up! Pesawat yang Lebih Destruktif


Kemampuan upgrade tembakan Super-Ace mungkin menjadi salah satu fitur yang membuat 1942 tampil begitu menyenangkan. Dengan menembaki setiap pesawat merah yang ada, Anda berkesempatan untuk mendapatkan tembakan yang lebih besar dan luas. Dengan power-up ini, hampir semua musuh dapat dihancurkan dengan sangat mudah, hanya butuh beberapa detik saja. Apalagi jika Anda mendapatkan dua pesawat bantuan tambahan yang bisa didapatkan dengan cara yang sama. Di 1942, bukan tembakan cepat yang dibutuhkan untuk mendominasi jalannya pertarungan, tetapi luasnya tembakan. Oleh karena itu, Anda harus memastikan bahwa semua power up ini berhasil Anda temukan. Ini masalah hidup dan mati, bung!

Theme Song yang Repetitif

Berbeda dengan theme song di masa NES dulu yang kental dengan suara-suara lucu dan penuh keceriaan, 1942 datang dengan “theme song” yang bahkan tak pantas disebut sebagai sebuah lagu, namun anehnya Anda akan selalu mengingat bunyi yang satu ini. “Pipp..pipp…pippp..pippp..piiipp..” menjadi bunyi standar yang harus Anda dengar setiap kali memulai sebuah misi. Suaranya yang hampir sama dengan bunyi telegram menjadi pertanda bahwa Anda harus mulai bersiap untuk berperang. Walaupun bertahun-tahun sudah tidak memainkan game ini, namun sang bunyi telegram tampaknya masih tetap menempel di kepala saya. Ada kesan khusus ketika mendengarkannya. Efek yang cukup brutal dari sebuah bunyi yang sangat sederhana.

Daftar Isi
Pages: 1 2
Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES