[PR] Pertimbangan Memilih Tempat Kerja Bukan Hanya Berdasarkan Gaji Saja: Studi dari Cisco Memperlihatkan Aturan Baru untuk Menarik Talenta Muda Bekerja
JAKARTA, Indonesia – 7 November 2011 – Menurut studi yang dilaporkan oleh Cisco, minat para profesional muda dan mahasiswa terhadap penggunaan social media, perangkat mobile dan Internet secara lebih bebas di tempat kerja ternyata cukup kuat sehingga dapat mempengaruhi pilihan pekerjaan, bahkan lebih berpengaruh daripada gaji yang diterima.
Temuan tersebut dan lainnya, yang dapat dilihat laporan kedua 2011 Cisco Connceted World Technology Report memperlihatkan tingginya tingkat permintaan angkatan kerja generasi berikutnya untuk dapat bekerja dari lokasi mana pun serta mendapatkan fleksibilitas untuk menggunakan perangkat pilihannya. Permintaan ini memperlihatkan pentingnya hubungan antara Internet, budaya angkatan kerja dan keunggulan daya saing perusahaan. Selain itu, secara mengejutkan ditemukan bahwa cara lama untuk menarik dan menjaga karyawan muda tidak lagi berpengaruh bagi generasi Milenium.
Temuan Utama
- Studi tahunan kedua Cisco Connected World Technology Report, yang mensurvei lebih dari 2.800 mahasiswa dan profesional muda di 14 negera, dilakukan untuk mengkaji tantangan apa yang mungkin perusahaan akan hadapi saat mereka berusaha untuk menyeimbangkan antara kebutuhan karyawan dan perusahaan, di tengah meningkatnya permintaan akan kemampuan jaringan, mobilitas dan juga resiko keamanan.
Pengaruh pada pilihan kerja dan gaji
- Hasil studi tersebut memperlihatkan bahwa satu dari tiga mahasiswa dan profesional muda berusia di bawah 30 tahun (33%) lebih memprioritaskan kebebasan menggunakan social media, fleksibilitas pemakaiain perangkat dan dapat bekerja secara mobile, di atas gaji yang diterima. Temuan ini memperlihatkan bahwa ekspektasi dan prioritas dari angkatan kerja generasi berikutnya tidak hanya mengenai uang saja.
- Dapat bekerja secara mobile, fleksibel dalam memilih perangkat yang akan digunakan untuk bekerja dan membaurkan antara kerja dan kehidupan personal merupakan pertimbangan utama yang dapat menentukan perusahaan untuk dapat memperoleh talenta bisnis berikutnya.
- Lebih dari dua dari lima mahasiswa (40%) dan profesional muda (45%) mengatakan bahwa mereka bersedia menerima pekerjaan dengan gaji lebih rendah tapi mendapatkan fleksibilitas sehubungan dengan penggunaan perangkat dalam bekerja, akses ke social media dan dapat bekerja secara mobile, dibandingkan dengan pekerjaan yang menawarkan gaji lebih tinggi tetapi memberikan lebih sedikit fleksibilitas.
Pengaruh penggunaan social media dan kebijakan pemakaian perangkat mobile menjadi pertimbangan memilih pekerjaan
- Lebih dari setengah mahasiswa yang disurvei (56%) mengatakan jika mereka bertemu dengan perusahaan yang melarang penggunaan social media, mereka tidak akan megambil pekerjaan terebut atau bergabung dengan perusahaan tersebut namun akan berusaha untuk mencari jalan untuk dapat lolos dari kebijakan yang diterapkan.
- Sekitar dua dari tiga mahasiswa (64%) mengatakan bahwa mereka berencana untuk menanyakan kebijakan perusahaan mengenai penggunaan social media saat mereka diwawancara. Dan satu dari empat dari semuanya (24%) mengatakan bahwa kebebasan penggunaan social media merupakan pertimbangan utama dalam menentukan pilihan pekerjaan yang akan diterima.
- Pada kenyataannya, lebih dari dua dari lima karyawan (41%) mengatakan bahwa perusahaan tempat mereka bekerja menggunakan poin fleksibilitas penggunaan perangkat dan kebijakan penggunaan social media untuk menarik dan merekrut mereka.
- Hampir tiga dari karyawan yang disurvei (31%) percaya bahwa tingkat kenyamanan penggunaan social media dan perangkat merupakan faktor mengapa mereka dipekerjakan. Hal ini merupaan indikasi bahwa perusahaan melihat nilai dari generasi Milenium yang menggunakan teknologi untuk mendorong efisiensi dan daya saing perusahaan.
Pengaruh Kemampuan untuk bekerja di lokasi mana pun dan jam kerja fleksibel dalam pemilihan pekerjaan
- Kebijakan perusahaan adalah alasan utama (48%) bagi karyawan yang dilarang untuk mengakses jaringan dan aplikasi perusaaan secara remote.
- Menanggapi pelarangan ini, karyawan berharap bisa mendapatkan fleksibilitas lebih besar dalam bekerja. Paling tidak satu dari empat karyawan (29%) mengatakan bahwa tidak adanya remote access akan mempengaruhi pilihan kerja, seperti meninggalkan perusahaan lebih cepat daripada menunggu lebih lama, tidak lebih serius dalam bekerja, atau menolak pekerjaan.
Pentingnya Perangkat Mobile
- Pentingnya perangkat mobile dan informasi di dalamnya lebih penting daripada uang. Setengah dari mahasiswa dan profesional muda (49%) mengatakan bahwa mereka lebih memilih untuk kehilangan dompet atau tasnya daripada kehilangan smartphone atau perangkat mobilenya.
- Saat ini sudah tidak cukup hanya memiliki satu perangkat saja. Lebih dari tiga dari empat karyawan (77%) memiliki lebih dari satu perangkat, seperti laptop dan smartphone atau beberapa telepon dan komputer. Satu dari tiga karyawan (33%)menggunakan paling sedikit tiga perangkat untuk bekerja.
- Mayoritas dari mahasiswa yang disurvei, tujuh dari 10 mahasiswa (71%) percaya bahwa perangkat yang disediakan oleh perusahaan seharusnya dapat digunakan baik untuk personal maupun kerja karena semakin membaurnya komunikasi kerja dan personal dalam kehidupan sehari-hari.
- Empat dari lima mahasiswa (81%) ingin memilih perangkat yang dipakai untuk kerja mereka – atau menerima anggaran yang dapat dikeluarkan untuk membeli perangkat kerja sesuai pilihan mereka atau menggunakan perangkat milik pribadi sebagai tambahan dari yang disediakan perusahaan.
- Sekitar tujuh dari 10 karyawan (68%) percaya bahwa perusahaan seharusnya membolehkan mereka untuk mengakses social media dan situs personal menggunakan perangkat yang disediakan perusahaan.
- Lebih dari dua dari lima mahasiswa (42%) percaya bahwa perusahaan seharusnya bisa fleksibel dan mengerti akan kebutuhan mereka untuk tetap terkoneksi di social media dan situs personal.
Perilaku di tempat kerja yang memberikan fleksibilitas dan akses dari lokasi mana pun
- Tiga dan 10 mahasiswa (29%) merasa bahwa saat mereka mulai bekerja, telah menjadi hak mereka – lebih dari benefit yang diberikan perusahaan – untuk bekerja dari lokasi di luar kantor dengan jam kerja yang fleksibel.
- Sekarang ini, lebih dari setengah karyawan (57%) dapat terkoneksi ke jaringan perusahaan dari luar lingkungan kantor, tapi hanya satu dari empat (28%) dapat melakukannya kapan pun dan dari lokasi mana pun. Dua dari lima (43%) melihat bahwa memiliki kemampuan untuk terkoneksi ke jaringan dari lokasi mana pun dan kapan pun merupakan fungsi yang yang penting dalam pekerjaan mereka.
- Tujuh dari 10 mahasiswa (70%) percaya bahwa berada di kantor secara regular bukanlah hal yang penting, kecuali ada pertemuan penting di kantor. Kenyataannya, satu dari empat orang merasa produktifitasnya akan meningkat kalau mereka diijinkan untuk bekerja dari rumah atau dari luar kantor. Angka yang sama terjadi juga di segmen professional, dengan 69% percaya bahwa kehadiran di kantor secara reguler tidaklah penting. Sedangkan di studi tahun 2010 memperlihatkan tiga dari lima (60%) karyawan dari segala umur percaya bahwa datang ke kantor tidak lagi penting. Temuan di tahun 2011 mengindikasikan ekspektasi dari angkatan kerja generasi berikutnya untuk dapat bekerja secara fleksibel, mobile dan gaya kerja lebih baru, semakin meningkat.
- Lebih dari setengah mahasiswa dan karyawan menginginkan untuk dapat mengakses informasi perusahaan melalui jaringan perusahaan menggunakan komputer mereka di rumah (63%) dan melalui perangkat mobile mereka (51%).
- Di masa depan, angkatan kerja generasi berikutnya berharap dapat mengakses jaringan dan aplikasi perusahaan melalui perangkat yang tidak disediakan perusahaan seperti layar navigasi mobil, layar di balik kursi di pesawat dan televisi.
Mengenai studi ini
- Studi ini diprakarsai oleh Cisco dan dijalankan oleh InsightExpress, firma riset pemasaran pihak ketiga yang berlokasi di Amerika Serikat.
- Studi ini dilakukan untuk mendapatkan pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi perusahaan sekarang ini, sementara mereka tetap harus dapat menjawab kebutuhan karyawan dan bisnis sekarang dan masa depan, di tengah semakin meningkatnya kemampuan mobilitas, resiko keamanan dan teknologi yang dapat menghantarkan aplikasi dan informasi secara mulus – dari virtualisasi data center dan cloud computing sampai jaringan kabel dan nirkabel.
- Studi ini menggunakan dua survei – satu terhadap mahasiswa dan satu lainnya mensurvei professional muda di usia 20 tahunan. Setiap survei menyertakan 100 responden dari setiap 14 negara, yang menghasilkan total 2.800 responden.
- 14 negara yang disurvei adalah Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Brazil, Inggris, Perancis, Spanyol, Jerman, Italia, Rusia, India, China, Jepang dan Australia.
Kutipan Pendukung:
Sujai Hajela, VP and general manager, wireless networking business unit, Cisco
“Temuan di Cisco Connected World Technology Report menyediakan wawasan mengenai bagaimana mahasiswa dan profesional TI muda mengakses informasi, serta bagaimana komunikasi perusahaan berubah sebagai hasilnya. Selain pengaruhnya terhadap komunikasi bisnis, studi ini memberikan bukti bahwa angkatan kerja generasi berikutnya dan tuntutannya terhadap teknologi akan mempengaruhi pemilihan kerja, perekrutan dan keseimbangan kehidupan kerja dan personal. Bagaimana perusahaan menjawab tuntutan ini akan mempengaruhi daya saing perusahaan serta kesuksesan strategi sumber daya manusia. Ini bukan lagi tren teknologi, tapi sudah menjadi tren bisnis.”
Sheila Jordan, VP Communication and Collaboration IT, Cisco
“Temuan ini memperlihatkan bahwa mahasiswa dan profesional muda, di beberapa kasus lebih memilih kebebasan mengakses social media dan penggunaan perangkat dalam bekerja, bagi angkatan generasi berikutnya bisa lebih penting dari pada besarnya gaji. Hasil dari Cisco Connected World Technology Report memperlihatkan bahwa perusahaan perlu untuk mengetahui fakta ini dan meresponnya dengan tepat – bagi banyak industri, status quo dari lingkungan kerja sebelumnya menjadi sesuatu di masa sebelumnya.”














