[PR] Gerakan Menuju Manajemen Infrastruktur Pusat Data
Jakarta, 19 Desember 2011 – Data Center Infrastructure Management (DCIM) merupakan sebuah kata – kata yang sedang terkebal di seputaran arsitektural TI saat ini. Namun diluar semua entusiasme, masih terdapat sedikit konsensus dimana apa yang sebenarnya dibutuhkan, atau bagaimana hal ini membedakannya dari generasi – generasi manajemen fasilitas dan data sebelumnya.
Idealnya, DCIM harus menyediakan sebuah jembatan antara lingkungan – lingkungan data, infrastruktur perangkat keras TI dan sistem pendukung seperti pemanas dan pendingin. Dalam cara ini, para manajer dapat memantau dan memuat data langsung dengan sebuah mata ke performa yang tinggi dan sumber daya yang efisien serta penggunaan energi. Bagaimana, tepatnya, hal ini dapat diselesaikan masih dalam pengembangan, namun, dan biasanya melibatkan beberapa integrasi antara arsitektur manajemen tingkat lanjut dengan sistem yang sudah dipakai secara turun-temurun. Meskipun demikian, pergerakan semakin kuat, dengan Gartner memperkirakan segmen ini akan lompat dari 1 persen penetrasi pasar saat ini ke lebih dari 60 persen pada tahun 2014.
Bagian dari pergerakan ini berasal dari fakta bahwa kebanyakan organisasi telah memberikan sedikit perhatian kepada manajemen fasilitas selama bertahun-tahun, lebih memilih untuk berinvestasi dalam kontrol untuk lapisan logis, menurut Dan Fry, Vice President of Converged Solutions dari sebuah firma manajemen iTRACS. Hal ini telah menyebabkan situasi yang di luar kendali dimana sumber daya fisik sering kurang dimanfaatkan dan kurang terkoordinasi, sehingga biaya energi yang tinggi, kurangnya data kinerja dan meningkatnya risiko kegagalan.
Maka solusinya, adalah dengan memastikan beragam lapisan infrastruktur data perusahaan dapat dikelola sebagai unit kohesif, yang mana bagi iTRACS berarti menggabungkan platform manajemen infrastruktur fisik dengan sistem manajemen data sebanyak mungkin. iTRACS saat ini bekerjasama dengan CA untuk merancang interface umum manajemen untuk otomatisasi tumpukan ecoSoftware dan platform Converged Physical Infrastructure Management (CPIM).
Tentu saja, bagian dari permasalahan dengan perangkat lunak perusahaan dari berbagai tingkatan adalah terbukanya beragam interpretasi, membuatnya sulit untuk membedakan antara pendekatan inovatif yang sebenarnya dan produk-produk dan kemampuan-kemampuan yang dibungkus ulang. APC by Schneider Electric, contohnya, berusaha untuk membedakan dirinya dari CFD dan perangkat lunak pemantau yang biasa dengan platform StruxureWare, yang menggabungkan kekuatan memantau dan modul-modul pendingin otomatis dengan serangkaian pilihan plug-ins dan scripting untuk kustomisasi manajemen yang luas. Perangkat lunak APC by Schneider Electric ini juga menyediakan interface untuk iPhone, iPad dan peranti-peranti bergerak berbasis Android.
Tekanan persaingan seperti membuat DCIM menjadi sebuah perlengkapan di banyak perusahaan selama beberapa tahun mendatang. Industri TI telah melihat pengurangan drastis pada konsumsi energi selama dekade terakhir dikarenakan virtualisasi dan teknologi lainnya. Namun, hal ini dilihat secara luas sebagai latihan yang sedang berlangsung. Dengan menggabungkan virtualisasi terkini dan platform manajemen data dengan beberapa perangkat lunak yang membentuk lapisan fisik dan infrastruktur pendukung di lapisan bawah, tujuannya adalah untuk menemukan sumur baru yang akan mendorong efisiensi biaya operasi menurun lebih jauh lagi.













