in: Movies - News | August 29, 2012 | by: Ernest Dimitria

IFFPIE: Angkat Isu Perdamaian Melalui Festival Film Internasional

“Perdamaian dunia” merupakan tema film yang jarang mendapat perhatian, khususnya dalam industri yang terus dihujani film-film laga, sci-fi, dan fantasi. Mengingat pentingnya tema tersebut sebagai inspirasi kehidupan bermasyarakat saat ini, lahirlah sebuah kompetisi film yang diberi nama International Film Festival for Peace, Inspiration, and Equality (IFFPIE).

“Kok gak ada yang membuat international film festival khusus bertema perdamaian?” tutur Damien Dematra (sutradara Si Anak Kampoeng) selaku founder dan director IFFPIE. Ia lanjut menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut mendorong dirinya dan kelompok masyarat World Peace Movement (WPM) untuk mengadakan festival film perdamaian.

Sofia Koswara, Chairwoman WPM, mengatakan bahwa IFFPIE berhasil menjaring 500 peserta dari berbagai negara dan telah terpilih 92 film di antaranya sebagai finalis. Kompetisi tersebut akan dimulai dengan penayangan tiga kandidat juara di Blitz Megaplex Grand Indonesia pada tanggal 30 Agustus 2012, diikuti dengan penayangan sebagian film di @America Pacific Place, pusat kebudayaan Perancis, dan Universitas Indonesia pada bulan September. Selain itu, pihak panitia mengupayakan agar film pemenang untuk diputar di XXI dan festival film Cannes.

Bintang film seri 24, James Cromwell dan Julian Sands, turut menghiasi kompetisi IFFPIE. Keduanya pun mendapat penghargaan khusus dari juri sebagai pemeran utama dalam film Admission (Cromwell) dan The Maiden and the Princess (Sands). Selain dua bintang tersebut, para juri juga menobatkan Special Jury Award kepada David Anders (pemeran The Maiden and the Princess), Levi Chen (sutradara Dalai Mongol), Jim Hanon (sutradara Little Town of Betlehem), Nefise Özkal Lorentzen (sutradara A Balloon for Allah), Satoshi Hirayama (sutradara Heart Sutra), John Viscount (penulis Admission), dan Rubaiyat Hossain (sutradara Meherjaan).

Damien menerangkan di antara 500 peserta yang masuk, 65% di antaranya datang dari Amerika Serikat, banyak film juga yang datang dari Israel dan Palestina. “Menonton film-film ini rasanya seperti kembali kuliah, belajar perdamaian dari para profesor perdamaian,” ujar Damien. Sayangnya, tidak semua film finalis dapat ditayangkan di Indonesia, karena mengangkat isu-isu agama dan suku yang terlampau sensitif.

Tahun ini merupakan pertama kalinya IFFPIE diselenggarakan dan para panitia berharap ajang tersebut dapat berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Tags: