Notebook Murah Akan Gantikan Netbook
Form Factor: Kunci Penetrasi
Intel menyadari bahwa Atom sudah tidak bisa lagi digunakan untuk mengisi pasar entry level. Sejujurnya, kami bahkan tidak pernah melihat Intel menganggap Atom sebagai prosesor entry level. Kemungkinan besar, Intel sendiri kurang menyukai arah dan perkembangan penggunaan prosesor Atom. Masalahnya, sekadar membuat prosesor atau sistem yang murah saja ternyata tidak cukup untuk mendobrak pasar netbook dengan prosesor notebook.

Performanya tinggi karena menggunakan prosesor notebook. Tapi ASUS X44H tidak sepopuler netbook karena ukurannya yang besar.
Setelah Intel menghadirkan Pentium (contoh: B960) dan Celeron (contoh: B815) di kelas Sandy Bridge, tampaknya banyak produsen berharap bisa menembus pasar netbook dengan mudah. Meski harga sudah mencapai 3 jutaan rupiah, pasar tersebut tetap tidak terganggu. Setelah diusut, ternyata masalah utamanya terletak pada form-factor. Sebagian besar pengguna netbook adalah orang-orang yang membutuhkan notebook berukuran layar mungil atau bodi tipis dan ringan, agar mudah dibawa-bawa. Sementara, Pentium dan Celeron dengan TDP 35W agak susah untuk masuk ke casing mungil atau tipis.
Notebook mungil/tipis dengan harga netbook
Prosesor Low-Voltage menjadi solusi Intel untuk memasuki pasar ini. Dengan seri berakhiran 7 (Pentium 987, Celeron 877) yang berarti memiliki TDP 17W, hadirlah notebook berukuran mungil dan tipis yang memiliki harga murah. Uniknya, prosesor ini memiliki performa prosesor yang cukup kuat dan efisien karena berbasiskan teknologi Sandy Bridge yang diturunkan clock-nya. Sementara, Intel HD Graphics yang terpasang pada prosesor Celeron dan Pentium tersebut ternyata merupakan turunan dari HD graphics 3000. Meski hanya 6 EU, kemampuan grafisnya sudah bisa disetarakan dengan AMD E-450, terutama setelah update driver terbarunya.

Akhirnya Acer hadir dengan menawarkan notebook dengan tubuh mungil dan harga 3 juta rupiah. Kabarnya, penjualan notebook ini sukses besar.
Acer hadir dengan solusi Celeron B877 yang sempat kami uji kemampuan gaming-nya di artikel ini. Notebook 11.6” bertajuk Acer Aspire One 756 tersebut dijual dengan harga 3 juta rupiah. Ditambah dengan penggunaan RAM standar 4GB, pasar langsung bisa menerimanya sebagai solusi pengganti netbook. Meski masih banyak yang mempertanyakan nama Celeron, kami rasa hanya masalah waktu untuk menghapus citra Celeron yang kurang baik di masa lampau itu.

Seri slim dari Acer ini juga tampak cukup berhasil. Dengan harga kisaran 3.6 juta rupiah dan tubuh tipis, pasar pun mulai bergeser dari netbook.
Masih dari Acer, di dalam seri slim V5 pun ada sebuah notebook tipis berlayar 14” yang menggunakan prosesor Pentium B877. Hasilnya, harga notebook tipis itu mencapai 3,6 juta rupiah dan mulai menggebrak pasaran.

Ini adalah notebook yang hangat dibahas akhir-akhir ini. Bodi tipis dan performa tingginya hadir dalam paket harga 3.9 juta.
ASUS sudah mengumumkan akan hadirnya seri slimbook X401A yang menggunakan Pentium B970. Pilihan ini memang agak aneh, tapi bukan ASUS namanya kalau tidak bisa berinovasi dengan sistem pendingin dan performa tinggi. Harga yang ditawarkannya berkisar 3,9 juta rupiah.

Inilah notebook seharga netbook yang sesungguhnya. Axioo HNM C725 ditawarkan dengan prosesor notebook, layar 14”, dan harga hanya 2.7 juta rupiah.
Axioo pun tak mau ketinggalan dengan tawaran pendobrak pasar netbook. Meski tidak memiliki tubuh yang mungil, Axioo HNM C725 menggebrak dengan harga yang luar biasa murah, di kisaran 2,6 juta rupiah. Prosesor yang digunakan notebook 14” ini adalah prosesor celeron B820 yang bertenaga cukup besar.
Inikah akhir dari genre netbook?
Pada akhirnya, prosesor notebook sudah berhasil masuk ke kelas harga dan bahkan form factor netbook. Performa lebih tinggi dan lebih seimbang akan membuatnya tampil sebagai pilihan yang jauh lebih masuk di akal dibandingkan netbook. Kami yakin, solusi berbasis AMD Llano atau Trinity pun akan segera hadir menyusul keberhasilan Celeron dan Pentium mendobrak kelas netbook. Apabila ini berlanjut, di pertengahan tahun mendatang, netbook sudah tidak menjadi primadona kelas ekonomis lagi. Atau, netbook bahkan akan hilang dari pasaran. Setidaknya, kami cukup yakin bahwa netbook berbasis Atom akan mengalami hal ini.

ukuran gan hehe.. emang sy aja pilih 1215B karena ukuran dan yah performa lumayan.. klo bua kerjaan di rmh mah PC andalan
menurut saya tergantung orang saja, untuk yang membeli netbook umumnya tidak terlalu memperdulikan performa tetapi memperdulikan dari segi ringkas akan ukuranya yang kecil dan enteng, yang menurut saya menjadi pengganti netbook adalah munculnya sebuah perangkat (entah namanya apa) yang mirip seperti netbook namun memakai processor ARM kita semua tahu gpu berbasis arm a15 terbaru bahkan sudah mendukung open gl dan open cl yang menjadi ancaman untuk platprom x86 yaitu intel dan AMD tahun 2013 menurut saya perangkat seperti itu bak kacang goreng
@sutama.. ada benarnya. Tapi melihat kebiasaan org Indonesia yg memasang adobe photoshop dan corel di netbook, sptnya ARM msh butuh waktu lama utk masuk ke kalangan spt ini. Padahal, inilah konsumen kita. Selalu ingin yg lebih, tp sering terlambat mengadopsi teknologi baru dgn baik.
Mengenai prosesor ARM terbaru, sptnya akan butuh waktu setidaknya 1-2 thn sblm software dan aplikasi mulai memanfaatkan semua fiturnya. Saat ini, bahkan 4-core di ARM saja blm begitu bermanfaat.
Perang ARM vs x86 akan seru. Tapi di tahun depan sptnya masih blm membuat x86 tergantikan dgn mudah. Mgkn di akhir thn depan sudah mulai ada perubahan pandangan user.
Untuk saat ini, sptnya strategi mengganti Netbook menjadi Notebook dgn form factor serupa dan harga sama, menjadi pilihan paling rasional. Itu adalah basis wacana ini.
Oya, saya setuju, kalau org mencari yg ringan dan tdk peduli performa, mgkn memilih netbook. Tapi argumennya adalah: ada pilihan yg sama ringannya, sama harganya, namun performa jauh lbh baik.. masa sih, mau ambil yg lbh lamban kalau ada yg lebh kencang dgn harga, ukuran, dan bobot yg sama?
@Dedy irvan
saya setuju dengan pernyataan terakhir agan. tapi dari pengalaman saya di daerah hanya orang tertentu saja yang mau tau dengan performa, umumnya anak sekolah/ mahasiswa yang suka main PES sama PB. jadi pertanyaan pertama mereka ketika mo beli netbook / notebook : “bisa buat main bola / PB gak?” Untuk mereka baru bisa dijelaskan perbandingan performa netbook/ notebooknya.
Sementara konsumen lain (siswi, mahasiswi, pegawai, guru, yang sepengetahuan saya adalah pengguna netbook terbesar…… di daerah saya) yang memang aktivitasnya seperti yang disebutkan di atas (internetan, office), yang mereka tau cuma intel atom, pokoknya netbook = intel atom. AMD? apaan tuh? Ditambah lagi pengetahuan penjual yang minim.
Jadi kalo menurut saya, notebook murah baru bisa menggantikan netbook, kalo stock netbook di toko udah abis, dan gak diproduksi lagi. hehehe …..
kalo saya pake Asus U24E, “form factor netbook”, performa & harga notebook …
kalo saya make Acer Ferrari One 200
@wiro sableng.. ada benarnya, faktor ketersediaan barang memang membuat pedagang ada andil yak.. apalagi utk habisin stok.. tapi di thn 2013.. hmm, sy ga bisa byk cerita nih.. hehe..
[...] Halaman berikutnya… pengganti netbook yang lebih perkasa Next Page [...]
faster processor, better graphics, slimmer platform, lighter weight, longer battery life, bigger storage, and A4 magazine size … tak lupa cheaper price…
That’s All I Want !!!
di tunggu review aspire one 756 nya nih… terutama battery life nya.. masih ragu gara2 baterai nya 2600mAh.. ( _._)”
oh iya.. nambah 1 request lagi dong… boleh ngga??
di review mobile computing tolong di tambah review temperatur dong…. ^_^ setidaknya dibagian palm-rest, keyboard, touchpad, sama bagian bawah….
makin lengkap review dari tim jagatreview nih kalo ditambah review suhu nih….
cuma saran dari saya aja ini mah… hehehe
bagus banget ini artikelnyaa.. X)
waiting amd a8 aka trinity.
SETUJU MA AGAN DIATAS