in: Movies | August 16, 2012 | by: Ernest Dimitria

The Bourne Legacy: Kisah Baru yang Tidak Menurunkan Kualitas Sebuah Franchise

 

Absennya Matt Damon dalam The Bourne Legacy berhasil memunculkan kekhawatiran dan prasangka buruk dari para penggemar franchise tersebut. Kualitas installment keempat tersebut diragukan walaupun dibintangi oleh Jeremy Renner yang telah menunjukkan kebolehannya dalam film laga Mission Impossible: Ghost Protocol dan The Avengers. Asumsi tersebut muncul atas landasan anggapan bahwa film Bourne belum lengkap tanpa kehadiran Jason Bourne. Apakah benar begitu?

Kenyataannya, The Bourne Legacy berhasil menggeser posisi The Dark Knight Rises dalam Box Office pada minggu pertama rilisnya. Bagi saya, The Dark Knight Rises merupakan konklusi terbaik dari sebuah trilogi adaptasi komik termegah sepanjang masa. Akhir film tersebut berhasil membuat saya terharu, layaknya ketika harus ditinggalkan oleh serial televisi yang telah menghibur selama satu dekade, dan saya pun bertanya, “Spielberg? Cameron? Ini zamannya Nolan!” ketika closing credit mulai diputar. Melihat keberhasilan The Bourne Legacy dalam mendepak film yang membuat saya merasakan semua itu memunculkan rasa penasaran yang semakin membuncah. Bagaimana kualitas The Bourne Legacy dan prospek franchise tersebut setelah ditinggalkan tokoh protagonis orisinalnya?

Lahirnya tokoh baru

Seperti yang pernah kami singgung sebelumnya, kehadiran Jeremy dalam film ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran Matt sebagai Jason Bourne. The Bourne Legacy mengangkat kisah seorang karakter protagonis baru bernama Aaron Cross yang merupakan bagian dari Operation Outcome, sebuah program rahasia departemen pertahanan. Dalam program tersebut para agen diberi asupan pil hijau untuk meningkatkan kemampuan fisik dan pil biru untuk meningkatkan kemampuan kognitif.

Kelangsungan program tersebut menghadapi ancaman setelah Jason Bourne mengekspos Operation Blackbriar dan Treadstone Project yang menyeret sejumlah petinggi CIA ke dalam investigasi FBI. Sebagai langkah penanggulangannya, Eric Byer (Edward Norton) memutuskan untuk menghabisi semua aset Outcome, termasuk Aaron dan salah seorang agen Outcome yang ditemuinya di Alaska. Sebuah UCAV (Unmanned Combat Air Vehicle) pun dikirim untuk membunuh kedua agen Outcome tersebut. Untungnya, Aaron berhasil lolos (sehingga film dapat berlanjut…duh!).

Di saat yang sama, para peneliti yang terlibat dalam program rahasia tersebut juga menjadi sasaran pembunuhan. Hanya satu peneliti yang berhasil lolos, yaitu Marta Shearing (Rachel Weisz). Terjebak dalam konspirasi yang berpotensi merenggut nyawa mereka, Aaron memutuskan untuk melindungi Marta. Sebagai gantinya, Marta akan menghilangkan ketergantungan Aaron terhadap pil hijau yang diberikan kepadanya selama program Outcome berlangsung. Mengapa demikian? Silakan Anda tonton sendiri untuk mendapatkan jawabannya!

Awal dan akhir yang…

Aaron menyelam di Alaska, kemudian naik ke permukaan dan menghangatkan tubuhnya di depan api unggun mengawali The Bourne Legacy. Adegan pembuka tersebut sempat membuat saya mengernyitkan dahi, mencoba menalari inti yang hendak ditonjolkan sebelum judul film ditampilkan dengan tegas di layar. Tidak ada perasaan tegang atau pertanyaan seputar plot film yang muncul ketika melihat adegan pembuka tersebut. Judul “The Bourne Legacy” yang terpampang pun tidak memunculkan excitement yang biasanya muncul dalam adegan film serupa.

Namun, kekurangan (sangat) minor tersebut langsung terobati dengan rangkaian dialog dan drama seputar konspirasi yang menyelubungi program-program rahasia tersebut, misteri yang kerap menyinggung nama Jason Bourne, serta aksi yang menegangkan dari Aaron Cross dan para pemburunya.  Walaupun dosis dialog yang disuguhkan cukup banyak, terutama di bagian awal, pertukaran informasi antar karakter terasa begitu cepat dan memaksa penonton untuk berkonsentrasi guna memahami masalah, serta sangkut pautnya dari tiga film sebelumnya. Aksi baku tembak, baku hantam, dan kejar-kejaran disebarkan secara sistematis dengan dosis yang berangsur meningkat selama film berjalan.

Satu adegan yang menurut saya patut disebutkan terjadi ketika Aaron dan Marta berada di Manila, Filipina. Dari adegan kejar-kejaran on foot dengan pihak kepolisian hingga menyusuri kepadatan lalu lintas Manila dengan sepeda motor, menjadi tontonan yang menegangkan. Tentunya, adegan tersebut mengakibatkan kerusakan jalan dan kehancuran sejumlah kendaraan. Koordinator stunt dalam adegan tersebut patut diacungi jempol. Anda dapat menyaksikan segelintir aksi tersebut dalam artikel kami ini.

Lalu, apakah The Bourne Legacy dapat menyamai kualitas, bahkan melampaui ekspektasi yang dibangun dari tiga film sebelumnya? Apakah absennya Jason Bourne membuat installment keempat Bourne tersebut tidak pantas ditonton? Bagi saya film ini menyuguhkan kualitas yang tidak mengecewakan, sama seperti tiga installment sebelumnya. Kehadiran Jeremy Renner dan tokoh utama baru, Aaron Cross, berhasil mematahkan anggapan dan prasangka bahwa The Bourne Legacy akan mengecewakan. Justru film ini mendapat suntikan pengembangan yang cukup berarti, terutama dalam adegan baku hantam yang kini dikemas dalam tampilan dengan tingkat getaran kamera yang berkurang. Kemampuan akting Jeremy, Edward Norton, dan Rachel Weisz pun berhasil mendongkrak kualitas drama dalam film ini.

Sayangnya, adegan penutup yang dipilih oleh sutradara Tony Gilroy terasa sangat menggantung. Bukan menggantung layaknya ending sebuah film horror yang menimbulkan rasa penasaran, melainkan memunculkan sensasi yang serupa dengan ketika mendengar ending lagu dengan nada yang sumbang. Mungkin sensasi tersebut merupakan pengaruh dialog dan aksi yang membuat film berdurasi 135 menit ini terasa begitu cepat. Satu hal yang perlu dicatat dari pemilihan ending tersebut adalah kemungkinan hadirnya installment kelima Bourne yang menjelaskan lebih lanjut sepak terjang Aaron Cross dan Marta Shearing dalam dunia espionase. Jika petualangan Aaron dilanjutkan, apakah franchise ini akan tetap mempertahankan nama Bourne? We’ll see…

Tanggal rilis:
29 Agustus 2012 (Indonesia)

Genre:
Action, thriller

Durasi:
135 menit

Sutradara:
Tony Gilroy

Pemain:
Jeremy Renner, Rachel Weisz, Edward Norton

Studio:
Universal Pictures, Relativity Media

Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES