LOGO

[Review] “The Hobbit: An Unexpected Journey” is Unexpectedly Boring

Bersemangat, penasaran, hingga bosan. Itulah tiga perasaan yang muncul ketika saya membaca novel The Hobbit. Meskipun demikian, berita mengenai rencana pengadaptasian novel karya J. R. R. Tolkien itu tetap membuat saya tertarik. Apalagi mengingat sutradara yang ditunjuk untuk menggarap adalah Peter Jackson yang sukses menghadirkan salah satu trilogi film adaptasi terbaik sepanjang masa, The Lord of the Rings (LOTR).

Bilbo Baggins dengan pedang andalannya.

Pada dasarnya, The Hobbit merupakan prekuel LOTR yang menjawab pertanyaan mengenai awal pertemuan antara Bilbo Baggins—paman Frodo Baggins—dengan cincin kekuatan milik Sauron. Pertemuan itu diawali dengan petualangan seru dan membahayakan yang dialami Bilbo (Martin Feeman) dengan Gandalf (Ian McKellen) dan kumpulan kurcaci yang dipimpin oleh Thorin (Richard Armitage). Petualangan tersebut dilakukan oleh para kurcaci untuk merebut kembali kota Erebor dan semua kekayaan di dalamnya dari seekor naga bernama Smaug.

Visually stunning, unexpectedly boring

Sejak awal film dimulai hingga akhir, satu hal yang masih konsisten dan bahkan mengalami peningkatan dari LOTR ada di sisi visual. The Hobbit: An Unexpected Journey menyuguhkan pengalaman visual yang menakjubkan, dari pemandangan lokasi, detail make-up, hingga kemulusan CGI.

Gollum terlihat lebih hidup.

Karakter Gollum yang kembali disuarakan oleh Andy Serkis sekarang tampak lebih hidup. Setiap ekspresi yang dimunculkan lebih mulus dan mampu mewakili setiap emosi, serta menggambarkan seberapa berharganya cincin kekuatan tersebut baginya. Sifat Gollum yang mengerikan, terutama saat ia pertama kali bertemu dengan Bilbo, tampak begitu jelas. Dalam waktu tampilnya yang terhitung sebentar, Gollum masih mampu mengundang gelak tawa penonton hanya dengan ekspresi wajahnya.

Meskipun tampak menjijikan, ketiga troll ini membuktikan keunggulan visual The Hobbit.

Selain Gollum, kawanan troll dan goblin yang sempat menjadikan Thorin dan para kurcaci sebagai tawanan pun menjadi bukti adanya peningkatan kualitas visual The Hobbit: An Unexpected Journey dibanding LOTR.

Sayangnya, kenikmatan visual yang disuguhkan hanya sebatas animasi dan keindahan lokasi syuting. Aksi perang yang dipenuhi adegan adu pedang, kapak, dan tembak-tembakan panah terasa terlalu minim. Memang latar waktu yang digunakan The Hobbit sangat berbeda dengan LOTR. Kali ini tidak ada uruk hai yang ganas atau sekelompok Nazgul yang mengejar-ngejar musuh dengan naga. Aksi kaum elf pun terhitung minim, bahkan hampir tidak ada. Pertempuran yang terjadi lebih banyak antara para kurcaci dengan orc yang dipimpin oleh Azog (Manu Bennett). Itu pun masih terasa terlalu timpang dibanding intensitas percakapan yang ada.

Bilbo di tengah para kurcaci yang lapar.

Thorin, pemimpin kurcaci yang dingin.

Ternyata pengalaman menonton The Hobbit: An Unexpected Journey tidak jauh berbeda dengan membaca novelnya. Dari bersemangat ketika narasi pembuka terdengar, berubah menjadi rasa penasaran ketika adegan demi adegan bergulir, dan berakhir dengan perasaan bosan melihat masalah demi masalah yang timbul. Tampaknya keputusan untuk membagi satu novel ke dalam tiga film berkontribusi terhadap munculnya rentetan perasaan tersebut, karena setiap detail cerita dieksplorasi secara mendalam, termasuk bagian-bagian membosankannya.

Tokoh-tokoh penting dalam trilogi LOTR—Gandalf, Galadriel, Saruman, dan Elrond—kembali muncul di The Hobbit.

Jika Anda penggemar berat LOTR, Anda tentu akan menyukai The Hobbit: An Unexpected Journey. Namun, bagi  Anda yang cukup kritis dalam menilai sebuah film, saya sarankan untuk melupakan kesuksesan Peter Jackson dalam menggarap trilogi LOTR sebelum menonton film ini.

Tanggal rilis:

14 Desember 2012

Genre:

Fantasi

Durasi:

169 menit

Sutradara:

Peter Jackson

Pemain:

Martin Freeman, Ian McKellen, Richard Armitage, Hugo Weaving

Studio:

New Line Cinema, MGM

Random Articles
Back to Top