LOGO
,

Overclocking di Tahun 2013: Masihkah Relevan?

Overclocking merupakan sebuah metoda yang digunakan oleh pengguna untuk meningkatkan performa komputer-nya, dengan menjalankan periferal/komponen PC pada kecepatan diatas standar pabrikannya. Tentunya, karena variabel yang ditingkatkan bernama clockspeed, maka pada akhirnya kegiatan atau teknik ini disebut overclocking.

Teknik ini awalnya dilakukan karena banyak pengguna yang tidak puas dengan kinerja komputernya, sehingga mereka mencari cara untuk meningkatkan kecepatan PC mereka. Karena overclocking umumnya bisa dilakukan dengan mengubah setting jumper/switch pada motherboard ataupun dilakukan di BIOS dan bahkan pada OS, maka kegiatan ini bisa dibilang bebas biaya, inilah yang membuat overclocking menjadi popular, peningkatan performa gratis – free performance upgrades!

Namun, menurut kabar yang kami terima dan juga beberapa diskusi di berbagai forum IT akhir-akhir ini, banyak pengguna yang mengganggap bahwa overclocking adalah ‘masa lalu’ dan sudah kehilangan relevansinya. Benarkah demikian? Mari kita analisa bersama!

Pengguna melihat ‘Perceived Performance’, bukan ‘Actual Performance’

Benchmark : Tidak selalu menjadi acuan performa bagi sebagian besar pengguna PC

Perceived Performance, adalah sebutan bagi performa yang ‘dilihat’ langsung oleh pengguna. Ingat bagaimana banyak user menilai seberapa cepat PC-nya dari seberapa cepat PC tersebut melakukan boot-up? Inilah salah satu efek dari ‘perceived performance’. Para enthusiast user mengerti bahwa untuk menentukan cepat / lambat-nya sebuah PC, mereka harus menjalankan beberapa program yang kita sebut dengan program benchmark – ini nantinya akan memberi kita informasi akan seberapa cepat PC kita , dalam bentuk ‘nilai’ yang mudah dipahami.

Tapi apakah semua pengguna PC melakukan benchmark? Tentunya tidak. Ada beberapa pengguna yang menilai seberapa cepat PC-nya murni  dari apa yang mereka ‘lihat’ dan ‘rasakan’ ketika mengoperasikan komputer mereka. Ini sebabnya, banyak pengguna akan lebih ‘merasakan’ peningkatan performa saat mereka beralih menggunakan SSD(Solid State Drive), ketimbang meningkatkan kecepatan CPU mereka sebesar 10-20%.

Seiring dengan perkembangan prosesor , memori, dan GPU, serta perangkat storage yang semakin cepat dan cepat, semakin banyak pengguna yang enggan melakukan overclocking, terutama karena PC sudah dirasa ‘terlalu cepat’, dan bahkan sebuah notebook low-end berbasis Intel Celeron 877 pun bisa menjalankan banyak macam aplikasi sehari-hari tanpa terlihat ‘lambat’. Pada sistem PC Gaming sekalipun, ketika tingkat FPS(frame per second) sudah mencapai angka diatas 120, sebagian besar pengguna sudah tidak bisa merasakan perbedaan performa ataupun peningkatan respon input lagi.

 

Desain Transistor Modern : Dioptimalkan untuk Konsumsi Daya Rendah

Konsumsi daya : jadi fokus utama selain kinerja

Seperti yang diperkirakan berbagai analis dari industri semikonduktor dan sesuai dengan permintaan pasar IT, mulai sekarang para desainer dan juga engineer prosesor memiliki fokus baru : membuat prosesor dengan konsumsi daya se-efisien mungkin, dengan menjaga performa tetap tinggi.

Jika anda memperhatikan perkembangan teknologi transistor pada prosesor masa kini dari tahun ke tahun, anda mungkin akan melihat sebuah kesamaan : prosesor dari 2 atau 3 generasi yang lalu masih memiliki clockspeed yang cenderung mirip dengan prosesor yang ada sekarang. Dengan berbagai arsitektur baru, peningkatan performa tetap bisa dirasakan pengguna , misalnya karena IPC(instruction per clock) dari prosesor yang digunakan semakin meningkat. Tapi hal ini tetap tidak menutupi fakta bahwa nampaknya produsen prosesor secara kebanyakan sudah ‘enggan’ meningkatkan performa CPU mereka melalui peningkatan frekuensi kerja (clockspeed). Alasannya : Konsumsi Daya!

Untungnya, sejauh ini desain dari CPU yang dioptimalkan untuk konsumsi daya rendah belum berarti bahwa mereka tidak bisa di-overclock sama sekali, seperti yang terlihat pada Ivy Bridge, dimana dengan pendinginan ekstrim, bisa mencapai clock diatas 6Ghz.

 

Overclocking : Makin (diper)Sulit

Tidak ada yang menyangkal bahwa tindakan overclocking membutuhkan pengetahuan teknis di bidang hardware komputer, dan bagi beberapa pengguna hal tersebut terlalu sulit dilakukan, tapi ada beberapa perkembangan menarik dalam beberapa tahun belakangan ini : overclocking yang ‘dipersulit’ oleh produsen hardware!

Contoh pertama kami adalah prosesor Intel mulai generasi Sandy Bridge, dimana karena keterbatasan di level arsitektur, BCLK(base clock) dari CPU Sandy Bridge tidak bisa dioverclock terlalu jauh, hanya sekitar 5 – 7% dari nilai defaultnya(100Mhz). Ini yang membuat semua overclocking yang dilakukan pada CPU berbasis Sandy Bridge keatas harus dilakukan menggunakan CPU Multiplier, tapi hanya CPU Intel yang berlabel K-Series yang memiliki unlocked multiplier. Dengan ini, overclocking CPU Intel kelas low-end (core i3 kebawah) sudah tidak dimungkinkan. Untungnya, prosesor Intel K-Series memiliki overclockability yang relatif baik, walau ini berarti untuk melakukan overclocking kita harus membeli prosesor seri-K.

Sebagai contoh kedua, masih ingat ketika nVIDIA membatasi kontrol voltase dari GTX 600 series ? Ini adalah juga salah satu contoh dimana Vendor sendiri yang ‘turun tangan’ untuk membatasi salah satu variabel dalam overclocking, namun ini bisa dimengerti, karena alasannya adalah keamanan dan reliabilitas dari produk itu sendiri.

 

Extreme Overclocking : Menjamur karena dukungan Vendor Mainboard

Sedikit kontradiktif dari beberapa poin diatas, ketika banyak pengguna lebih memilih perangkat komputer yang hemat daya serta easy-to-use ,dalam beberapa tahun terakhir ini  dukungan dari vendor mainboard(dan VGA) terhadap overclocking malah makin meningkat. Tidak tanggung-tanggung, beberapa diantara vendor-vendor ini secara terang-terangan memberi dukungan untuk melakukan overclocking, dari casual overclocking hingga overclocking tingkat ekstrim yang jarang dilakukan pengguna umum. Produk-produk tersebut antara lain : ASUS ROG Rampage IV Extreme, ASRock Z77 OC Formula,  Gigabyte Z77X-UP7, dan MSI Big Bang Z77 MPower.

Dukungan dari vendor mainboard ini pun membuat extreme overclocking semakin diminati sejumlah pengguna enthusiast , walaupun overclocking yang dilakukan pada konteks ini tujuannya sudah bukan lagi meningkatkan performa komputasi harian, melainkan memecahkan berbagai rekor dunia benchmark.

 

Overclocking : Mau Dibawa Kemana?

Sungguh menarik melihat perubahan yang akan terjadi di masa depan dalam bidang overclocking, khususnya tahun 2013 ini. Apakah prosesor dan GPU yang ‘sudah terlalu cepat’ akan membuat sebagian besar pengguna meninggalkan overclocking? Atau overclocking justru akan berubah ‘fungsi’, dari meningkatkan kinerja PC sehari-hari, menjadi semata-mata tempat berkompetisi untuk mendapat performa tertinggi?

Bagi kami, Overclocking is our passion. Kami akan selalu berusaha untuk mencai performa terbaik dari periferal yang kami miliki, meski peningkatan performa yang kami dapatkan sudah terlihat absurd bagi sebagian besar pengguna.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda masih melakukan overclocking untuk membantu meningkatkan kinerja PC anda? Ataukah anda sudah puas dengan performa PC anda yang sudah cukup cepat?

Silahkan share pendapat anda di kolom komentar dibawah ini !

 

Random Articles
Back to Top