LOGO

[Review] Hansel and Gretel: Witch Hunters, Dari Dongeng Menjadi Festival Pembantaian

Mengimajinasikan ulang sebuah dongeng klasik tampaknya menjadi tren yang semakin mewabah. Dongeng yang awalnya menghiasi masa kecil kita, kini mendapat sentuhan nuansa gelap dan plot yang lebih cocok dinikmati oleh konsumen dewasa. Dari Red Riding Hood pada 2011 hingga Snow White and the Huntsman tahun lalu, Hollywood menumbuhkan tren yang cukup menarik meski tidak selalu mendulang kesuksesan.

Tahun ini industri film kedatangan dua dongeng anak yang dikemas ulang. Bahkan, salah satunya sudah meluncur pada awal tahun ini, yaitu Hansel and Gretel: Witch Hunters. Berbeda dengan Snow White, film yang dibintangi Jeremy Renner (The Bourne Legacy) dan Gemma Arterton (Clash of the Titans) ini bukan sekadar modifikasi cerita, melainkan lanjutan kisah dua bersaudara tersebut setelah akhir dongeng aslinya.

Setelah berhasil membakar dan menyudahi hidup penyihir yang menyergap mereka semasa kecil, Hansel dan Gretel tumbuh menjadi sepasang pemburu penyihir. Kehebatan keduanya pun tersiar ke seluruh negeri dan membawa mereka ke kota Augsburg. Satu per satu anak-anak di kota tersebut menghilang dan para penduduk menduga adanya campur tangan penyihir.

Dalam proses pencarian, Hansel dan Gretel berhasil membunuh seorang penyihir. Namun, jejak keberadaan anak-anak yang hilang tidak ditemukan. Setelah itu, mereka berhasil menangkap seorang penyihir yang secara implisit menjawab pertanyaan mereka mengenai keberadaan anak-anak tersebut. Yang mereka temukan ternyata lebih rumit dan membahayakan dibanding dugaan sebelumnya.

Dari dongeng anak menjadi festival pembantaian penyihir

Sutradara Tommy Wirkola (Dead Snow) dan penulis Dante Harper secara ekstrem mengubah kesan yang ditonjolkan oleh kedua karakter dongeng tersebut. Ketika Red Riding Hood dan Snow White and the Huntsman mendapat rating PG-13, Hansel and Gretel: Witch Hunters langsung melesat ke rating R. Adegan penuh kekerasan dan muncratan darah segar mendapat porsi yang cukup banyak dalam film ini. Bahkan, rasanya tidak sebanding dengan jumlah dialog yang disuguhkan.

Aksi kejar-kejaran yang seru, serta baku hantam yang dihiasi hentakan senjata dan sihir menciptakan pengalaman yang menegangkan. Menonton film ini mengingatkan saya akan Underworld: The Awakening yang juga dikemas dalam durasi yang sama. Komposisi antara aksi dengan dialog memang terasa timpang, tetapi justru itu yang membuat kedua film terasa seru dan (sayangnya) cepat berakhir.

Plot yang ditulis oleh Wirkola dan Harper terbilang cukup menarik dan membuat penasaran. Sebuah pengembangan cerita, lebih dari sekadar modifikasi. Cerita yang mereka tulis pun didukung oleh jajaran pemain yang sudah tidak asing dengan genre film ini. Selain Renner dan Arterton, Hansel and Gretel: Witch Hunters diramaikan oleh Famke Janssen sebagai tokoh penjahat utama, seorang penyihir bernama Muriel, dan Peter Stormare sebagai Sheriff Berringer.

Meskipun porsi penampilan Stormare terhitung sedikit, kemampuannya dalam membawakan karakter berwatak jahat yang memancing emosi penonton kembali terbukti. Sayangnya, keberadaan karakter Berringer tidak terasa begitu penting sehingga talenta Stormare seperti tersia-siakan. Minimnya porsi penampilan karakter yang dimainkan Stormare pun mengingatkan saya akan perannya sebagai Lucifer dalam film Constantine. Sangat disayangkan.

Di luar itu semua, penampilan para pemain terbilang cukup prima dan menghasilkan sebuah tontonan yang sesekali membuat penonton meringis. Memang Hansel and Gretel: Witch Hunters terasa tidak cukup kuat untuk menjadi kandidat film terbaik tahun ini, tetapi setidaknya Wirkola menghasilkan tontonan yang menghibur.

Jika Anda berencana untuk menonton film ini, pertimbangkan kenyataan bahwa organ tubuh yang pecah, pemenggalan kepala, badan yang tercabik-cabik, dan semburan darah merupakan pemandangan yang harus Anda saksikan.

Tanggal rilis:
23 Januari 2013

Genre:
Action, fantasy, horror

Durasi:
88 menit

Sutradara:
Tommy Wirkola

Pemain:
Jeremy Renner, Gemma Arterton, Famke Janssen

Studio:
Paramount Pictures, MGM

Random Articles
Back to Top