LOGO

Media Sosial Rekatkan Hubungan Mahasiswa dan Dosen

media sosial 2

Sebuah penelitian yang dikeluarkan oleh Pearson Learning Solutions dan Babson Survey Research Group menunjukan, 41 persen dosen universitas menggunakan media sosial sebagai alat pengajaran. Persentase itu naik dari tahun lalu yang hanya sebesar 34 persen.

Seorang dosen di University of New Hampshire, Krista Jackman mengatakan, sebulan sebelum masuk ke kelasnya atau ketika musim liburan berakhir, Ia selalu berinteraksi dengan mahasiswanya melalui Twitter. Tujuannya, agar komunikasi antara pengajar dengan mahasiswa ketika di kelas atau saat perkuliahan bisa lebih akrab, lancar, dan terbuka.

Tujuan saya dalam semua kelas yang saya ajarkan ialah untuk mendapatkan mahasiswa saya merasa nyaman dengan cara secepat yang saya bisa,” kata Jackman, dilansir dari USA Today.

Jackman pun tak sendiri dalam hal penggunaan media sosial sebagai alat pengajaran terhadap mahasiswanya. Survei ini dilakukan terhadap lebih dari 8.000 fakultas yang ada di Amerika Serikat. Hasilnya, sebanyak 41 persen dosen mulai akrab dengan media sosial dalam menjalin hubungan dengan mahasiswanya. Secara harfiah, fokus media sosial dalam penelitian ini ialah blog, wikipedia, dan podcast, serta platform jejaring sosial yang lebih jelas, seperti Facebook, Twitter, dan LinkedIn.

Apa yang telah kami coba dapatkan dengan penelitian ini selama beberapa tahun ialah untuk benar-benar mendapatkan pemahaman tentang bagaimana jejaring sosial dapat digunakan secara efektif dalam proses belajar mengajar,” kata Hester Tinti-Kane, penulis laporan tersebut.

Jon Marshall, asisten profesor di Northwestern University mengakui, Ia mulai menggunakan Twitter di salah satu mata kuliahnya untuk dapat berhubungan lebih baik dengan mahasiswanya. Ia pun sering menjawab pertanyaan mahasiswanya tiap hari libur melalui akun Twitter-nya.

Marshall menyadari betul, komunikasi tatap muka tetap menjadi hal paling penting dan tak bisa tergantikan. Ungkapan melalui kata-kata atau verbal lebih dapat dipahami mahasiswa ketimbang melalui tulisan yang dibatasi hanya 140 karakter saja. Hanya saja, “Ketika Anda memiliki kelas yang besar, menurut saya, media sosial membantu saya untuk mengenal mereka,”.

Hal ini juga diakui oleh Cheri Bally seorang mahasiswa semester di University of Florida. Menurutnya, media sosial memberi kemudahan Bally dalam berkomunikasi dengan dosen dan membuat pengalaman belajar yang tadinya rumit, menjadi jauh lebih sederhana dan dapat dimengerti.

Kendati demikian, ada juga dosen yang kontra terhadap penggunaan media sosial sebagai salah satu sarana pengajaran. Terdapat dua kehawatiran terbesar bagi dosen yang ragu-ragu untuk mulai gunakan media sosial, yakni masalah privasi dan integritas kepatuhan mahasiswa.

Banyak profesor yang malah khawatir, pihak ketiga mungkin dapat melihat interaksi antara dirinya dengan mahasiswa melalui media sosial. Ini mengenai masalah privasi yang dapat mengganggu. Bisa saja pihak ketiga yang tidak terlibat dalam mata kuliah dosen tersebut, malah ikut campur mengganggu interaksi antar pengajar dengan mahasiswa.

Sumber: USATODAY

Random Articles
Back to Top