in: Direct Release | December 2, 2013 | by: Dian Syarifuddin

[PR] Survei Terbaru Microsoft Patahkan Mitos Umum di Indonesia Tentang Layanan Cloud

Meskipun pertumbuhan positif, perlu edukasi bagi pengambil keputusan tentang manfaat cloud bagi kemampuan adaptasi dan efisiensi organisasi

Jakarta, 2 Desember 2013 – Microsoft Indonesia mengumumkan hasil survei terbaru terhadap 2.017 partner bisnisnya di 11 negara di Asia Pasifik[1], berupa miskonsepsi/mitos yang umum dirasakan pelanggan terhadap layanan cloud. Temuan baru ini menunjukkan perlunya kesadaran yang lebih tinggi tentang manfaat cloud dan mendorong Microsoft Indonesia untuk meruntuhkan kendala yang menghalangi adopsi cloud, sehingga semakin banyak organisasi, terutama UKM, mendapat manfaat dari meningkatnya produktivitas dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan.

IDC[2] memproyeksikan belanja layanan cloud publik di Indonesia tumbuh pesat dari US$ 145 juta pada tahun 2013 menjadi US$ 587 juta tahun 2017.

“Meskipun saat ini terjadi akselerasi adopsi cloud di sebagian kalangan bisnis, masih kurang kesadaran di sebagian lainnya bahwa kekhawatiran mereka sebenarnya dapat dengan mudah dipatahkan. Pelanggan yang mewakili berbagai industri di seluruh dunia telah merasakan manfaat dari adopsi Office 365. Mitos-mitos demikian menjadi penghalang organisasi menjadi lebih ulet dan produktif secara efektif dan hemat di dunia kerja yang baru, dengan pegawai yang ingin lebih fleksibel, mobile, dan mampu berkolaborasi lebih baik melalui tool sosial,” kata Bernard Saisse – Direktur Marketing & Operasional Microsoft Indonesia.

Patahkan Mitos tentang Cloud

Tabel-Survei

Dalam survei online tersebut, para partner Microsoft mengurutkan miskonsepsi atau mitos dari yang paling sering dikeluhkan oleh pelanggan dan prospek mereka tentang cloud, dan berbagi pendangan tentang bisnis cloud. 161 dari responden ini berasal dari Indonesia.

“Layanan cloud seperti Office 365 dari Microsoft terbukti memiliki keandalan serta jaminan uptime yang sangat tinggi sehingga dapat mematahkan seluruh miskonsepsi yang umum di kalangan pengguna cloud di Indonesia,” ujar Farid ZulkarnainExecutive Vice President, Navcore Nextology. Layanan cloud dari Microsoft menurutnya adalah jawaban untuk meningkatkan produktivitas dalam kegiatan operasional bisnis karena memiliki keandalan tinggi. Jaminan keandalan dan privasi ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi organisasi, terutama UKM, dalam mengadopsi layanan cloud.

Berikut ini adalah perbandingan miskonsepsi antara rata-rata responden di negara-negara kawasan Asia Pasifik dengan responden Indonesia:

Top 5 Mitos di Asia Pasifik :

  1. Kurangnya privasi
  2. Tidak aman
  3. Belum matang
  4. Tidak ada kepemilikan
  5. Kurang produktif
Top 5 Mitos di Indonesia

  1. Kurangnya privasi
  2. Tidak aman
  3. Belum matang
  4. Kurang produktif
  5. Tidak ada kepemilikan

Miskonsepsi lain yang dikeluhkan oleh pelanggan tentang cloud adalah seputar biaya dan keandalan layanan, kurangnya nilai tambah dibandingkan versi on-premise, kompleksitas layanan, serta kurang jelasnya tingkat pengembalian investasi (ROI, return-on-investment).

Terhadap pandangan-pandangan tersebut, Microsoft memiliki jawaban yang akan mematahkan setiap mitos yang disampaikan melalui program-program edukasi seperti akses ke situs referensi Office 365 Trust Center yang akan menjawab berbagai kekhawatiran ini. Selain itu, informasi lebih lanjut tentang ke-11 mitos dan fakta temuan studi ini juga dapat dilihat dalam bentuk infografis interaktif.

Bonnie Mamanua – Business Group Head, Office Division, Microsoft Indonesia, mengatakan: “Dengan pemahaman atas pentingnya produktivitas sepanjang waktu, Microsoft Office 365 dirancang sebagai jawaban atas kekhawatiran yang umum dirasakan sejak awal. Dibandingkan dengan solusi cloud lain, Office 365 memanfaatkan cloud secara penuh, sambil tetap memberi produktivitas secara off-line dalam skenario tertentu. Selain itu, Office 365 juga mendukung skenario perangkat baru serta sosial yang memudahkan kontrol dan manajemen IT.”

Office 365 didukung kebijakan keamanan terdepan dengan jaminan uang kembali berupa 99,9% uptime, yang dijelaskan secara mendalam di situs Office 365 Trust Center.

Beberapa temuan lain dari responden Indonesia di antaranya:

  • 34% (versus 46% di Asia Pasifik) secara rutin (setiap hari atau sedikitnya sekali seminggu) bertemu dengan pengambil keputusan yang memiliki pemahaman minim tentang layanan cloud.
  • 46% mengatakan memiliki bisnis yang setidaknya 10% telah berfokus pada layanan cloud.
  • Mayoritas berpendapat bahwa pengambil keputusan yang berasal dari Gen-Y (generasi yang lahir di era 1980-1990-an) memiliki pengetahuan lebih baik tentang manfaat cloud daripada pengambil keputusan pada umumnya.
  • Tiga manfaat dari adopsi Office 365 yang paling dirasakan oleh pelanggan di Indonesia adalah:
  • Penghematan biaya infrastruktur IT
  • Memberikan mobilitas pegawai
  • Kemampuan fleksibilitas dan keuletan dalam kegiatan bisnis

“UKM adalah kunci pertumbuhan dan mesin inovasi di Indonesia, jadi misi kami adalah memastikan bahwa upaya kami mampu mengedukasi dan meyakinkan para pebisnis bahwa cloud selama ini telah siap memenuhi kebutuhan bisnis mereka,” lanjut Bernard.

Momentum Cloud Office 365 di Asia Pasifik

Diperkenalkan pertengahan 2011, aplikasi produktivitas yang paling banyak digunakan orang, Office 365, merupakan bisnis yang paling pesat pertumbuhannya sepanjang sejarah Microsoft. Satu dari empat pelanggan enterprise saat ini menggunakan Office 365. Di Asia Pasifik, Office 365 tumbuh tiga kali lipat lebih cepat daripada keseluruhan layanan cloud publik yang dipacu oleh tren seperti BYOD (bring-your-own-device), meningkatnya kebutuhan untuk bekerja dari manapun, serta kolaborasi melalui tool enterprise social. Saat ini Microsoft memiliki lebih dari 13.500 partner di seluruh Asia Pasifik yang menawarkan layanan cloud bagi perusahaan berbagai skala. Beberapa pelanggan Office 365 di Asia di antaranya Palang Merah Asia Pasifik; Coles, Link Healthcare dan V8 Supercars di Australia; MedcoEnergi di Indonesia; MPH Group dan KPJ Healthcare di Malaysia; Auckland Transport dan Icebreaker dari New Zealand; Coca Cola FEMSA di Filipina, serta Kah Motor, SATS, dan Tiger Airways di Singapura.

Informasi lebih lanjut tentang Office 365 dapat diperoleh di sini.



[1] Tentang survei ini: Ini adalah survey online yang dilakukan oleh Microsoft pada partner reseller IT di seluruh Asia Pasifik. Sebanyak 2.017 partner berpartisipasi dalam survei ini dari negara-negara berikut: Australia, Hong Kong, Indonesia, Korea, Malaysia, New Zealand, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand dan Vietnam.

[2] Worldwide Cloud Blackbook, 4Q12 Update: http://www.idc.com/getdoc.jsp?containerId=240634

Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES