in: Memory - RAM - Overclocking | January 18, 2015 | by: Alva "Lucky_n00b" Jonathan

Overclocking Review: Silicon Power XPower DDR3-2400 16GB (2x8GB) Kit

SP_Logo

Silicon Power merupakan sebuah vendor komponen PC yang memiliki spesialisasi di bidang industri flash data storage. Dari tahun ke tahun, Silicon Power (SP) memproduksi berbagai macam flash drive, memory cards, SSD, dan juga DRAM module. Berbicara secara khusus mengenai modul memori DDR3, memang brand SP akan terdengar agak ‘asing’ di telinga. Meskipun demikian, kami mendapat sebuah kesempatan unik untuk menjajal salah satu produk memori DDR3 mereka, yang diberi nama Silicon Power Xpower DDR3 Series.

Xpower, Untuk Gamer dan Enthusiast

SILICONPOWER_2400_03

Modul memori yang masuk ke lab JagatReview ini memiliki spesifikasi cukup tinggi, yakni sebuah 16GB Kit(2x8GB) yang dirating pada kecepatan DDR3-2400. Dari semua memori yang masuk ke lab kami tahun lalu, ini adalah pertamakalinya kami me-review sebuah memori dengan densitas IC cukup besar, yakni 8 GB per modul (dan menjadikannya 16GB dual-channel kit). Berdasarkan keterangan dari web mereka, seri Xpower ini merupakan RAM DDR3 seri teratas yang dimiliki Silicon Power, dan mereka yakin bahwa memori ini memiliki ‘exceptional overclocking performance‘ yang akan berguna bagi gamer maupun PC enthusiast untuk memaksimalkan kinerja PC-nya.

Seberapa jauh memori berukuran 16GB ini bisa dipacu? Mari simak bersama!

 

Ruang Lingkup dan Metoda Pengujian

Fokus kami pada pengujian ini adalah menguji seberapa jauh memori Silicon Power Xpower bisa dioverclock di sistem kami dan menjalankan benchmark, dan bagaimana hasil overclocking ini berpengaruh kepada performa sistem secara keseluruhan. Pengujian dimulai dengan menguji performa saat keadaan default(spesifikasi sesuai kemasan), lalu pengujian overclock dilangsungkan.

Detail dari jalannya pengujian adalah sebagai berikut:

1) Pengujian overclocking akan dilakukan menggunakan pendingin aircooling, baik CPU maupun RAM. Extreme cooling sama sekali tidak digunakan disini karena yang menjadi fokus adalah performa memori dalam skenario penggunaan sehari-hari.

2)  Untuk pengujian utama, RAM akan diuji dengan dua setting DRAM Voltage(VDimm), yakni 1.65V dan 1.75V. Dua setting ini dipilih karena setting tegangan memori seperti ini masih cukup aman untuk digunakan sehari-hari. Kemudian kami akan menambahkan satu lagi pengujian dengan voltase 1.85V, untuk pengujian benchmarking saja(tidak untuk pengujian kestabilan dengan LinX).

3) Pada setiap setting voltage, kami akan mencoba mencari beberapa konfigurasi overclock(kombinasi antara timing dan frekuensi RAM) yang masih stabil untuk menjalankan berbagai benchmark dalam pengujian kami. *Definisi ‘stabil’ disini adalah bisa menjalankan semua software pengujian tanpa BSOD/Crash*

 

Software Uji

Kami memilih beberapa benchmark yang cukup ‘menyiksa’ memori untuk melihat apakah konfigurasi overclock kami cukup stabil untuk menjalankannya. Berikut ini benchmark yang kami pilih:

1) 3DMark 11 Physics Score: Benchmark ini yang akan menguji kecepatan CPU dan RAM dalam memproses simulasi perhitungan physics dengan Bullet Open Source Physics Library. Skor physics test ini hampir tidak dipengaruhi oleh GPU, dan hampir sepenuhnya tergantung pada kecepatan prosesor dan RAM.

2) Intel XTU Benchmark: Intel XTU(Xtreme Tuning Utility) adalah sebuah software tuning untuk prosesor Intel Core 3rd-Gen “Ivy Bridge’ dan 4th-Gen ‘Haswell’. Didalam software tuning ini terdapat sebuah benchmark yang mengkalkulasi bilangan prima(menggunakan algoritma mirip prime95), dan benchmark tersebut sangat menyukai performa memori yang kencang.

3) AIDA64 Memory Benchmark – Latency: Aplikasi AIDA64 Memory Benchmark (dahulu bernama Everest) sangat popular di kalangan tester/reviewer untuk menguji performa memori mereka, ini disebabkan karena aplikasi tersebut memang sangat dipengaruhi performa subsistem memori, antara lain frekuensi kerja memori, frekuensi memory controller pada sistem, dan juga latency dari memori yang digunakan. Pada pengujian ini kami tidak menguji performa ‘memory read bandwitdh’, namun menguji ‘memory latency’ karena bisa lebih efektif menunjukkan performa memori saat kecepatan memori sudah diatas DDR3-2666Mhz dengan timing longgar.

4) LinX 0.6.4: LinX dikenal sebagai program penguji kestabilan yang akan sangat ‘menyiksa’ CPU, Memory Controller, dan juga Modul Memori. Jika ada sebuah konfigurasi overclocking yang bisa menjalankan uji LinX, biasanya kami bisa berasumsi bahwa setting overclock yang digunakan akan cukup stabil untuk skenario penggunaan sehari-hari.

 

Pemilihan Test Platform

Mengingat kami akan menguji kemampuan overclocking dari Silicon Power Xpower DDR3-2400, tentunya kami harus memilih platform yang memiliki memory controller berkemampuan tinggi, maka dari itu kami memilih platform Intel Haswell LGA1150.

Berikut ini spesifikasi lengkap dari sistem yang kami gunakan:

SILICONPOWER_2400_10

  • Prosesor: Intel Core i7-4790K “Devil’s Canyon’
  • Motherboard: ASUS Maximus 7 Gene
  • RAM: Silicon Power Xpower DDR3-2400 2x8GB Kit
  • VGA: Galaxy NVIDIA GeForce GT 630 ‘Fish’ Limited Edition
  • SSD: Kingston HyperX 3K 120GB
  • PSU: Corsair AX850W
  • CPU Cooling: Thermaltake Frio OCK

Motherboard ASUS Maximus 7 Gene kami gunakan karena motherboard ini merupakan salah satu mobo berbasis Z97 yang menawarkan berbagai opsi tuning yang berguna, khususnya untuk overclocking memori. Kemudian untuk kartu grafis, kami hanya menggunakan sebuah NVIDIA GT 630 yang hemat daya karena pengujian kami dititikberatkan pada performa memori dan prosesor.

 

Daftar Isi

Halaman 1(halaman ini): Overview, Ruang Lingkup, Software + Hardware untuk pengujian

Halaman 2: Mengenal Silicon Power Xpower DDR3-2400 (bentuk fisik & spesifikasi)

Halaman 3: Uji Overclocking

Halaman 4: Kesimpulan

 

 

Disclaimer :

1)Tingkat overclocking yang didapat pada setiap pengujian kami bisa jadi berbeda dengan apa yang Anda dapatkan, bergantung pada kualitas CPU, Integrated Memory Controller(IMC), RAM, dan lain sebagainya.

2) Overclocking jika tidak dilakukan dengan benar dapat memberikan efek negatif bagi sistem Anda (mulai dari ketidakstabilan, hingga kerusakan permanen hardware) Jangan meng-overclock kalau anda tidak benar-benar yakin dengan apa yang anda lakukan. Lakukan OC dengan resiko ditanggung sendiri, Do it at your own risk!

 

Daftar Isi
Pages: 1 2 3 4
Tags: