in: Direct Release | February 2, 2015 | by: Jagat Review

[PR] Ancaman Crypto-Ransomware Meluas ke Berbagai Belahan Dunia, Trend Micro Ingatkan Perlunya Meningkatkan Kewaspadaan

crypto-ransomware

Jakarta, 2 Februari 2014 –Trend Micro Incorporated (TYO: 4704; TSE:4704), pemimpin global di bidang software keamanan, merilis peringatan tentang meluasnya ancaman crypto-ransomware yang kini mulai tercium hingga ke kawasan lain di belahan dunia, setelah sebelumnya sempat merajalela dan banyak memakan korban di kawasan Amerika dan Eropa. Varian lama dari crypto-locker, yakni Critroni atau Curve-Tor-Bitcoin (CTB) Locker, ditengarai juga tengah mengendus Asia. Meskipun belum begitu banyak insiden yang berhasil terdeteksi di kawasan-kawasan lain tersebut, namun gejala akan merebaknya insiden-insiden baru terkait crypto-ransomware dikhawatirkan akan muncul kembali dalam waktu dekat ini.

Mengenal Crypto-ransomware

Crypto-ransomware dikenal sebagai salah satu varian dari ransomware yang mampu melakukan enkripsi pada sistem komputer atau file milik korban, lalu meminta tebusan sejumlah uang untuk mengembalikan akses file atau komputer ke pengguna.

[Informasi lengkap mengenai Ransomware dapat disimak di Ransomware 101: What It Is and How It Works]

Apa yang membedakan CTB Locker dengan varian crypto-ransomware lainnya?

  • CTB Locker pada umumnya menodong korban untuk membayar sebesar 3 Bitcoins (USD 732,95)
  • Tidak membutuhkan Internet untuk melakukan enkripsi file; bahkan dapat tetap berfungsi meskipun tanpa koneksi.
  • CTB Locker diduga menawarkan dekripsi gratis ke korban untuk lima file, sebelum melanjutkan aksi pemerasan.
  • Memberlakukan perpanjangan tenggat waktu pembayaran ransom/tebusan untuk file yang telah terenkripsi.
  • Ada berbagai pilihan bahasa pada pesan-pesan todongan yang dilancarkan ke korban.

Bagaimana korban bisa terinfeksi oleh CTB Locker?

  • Korban menerima spam bermuatan malware.
  • Malware tersebut kemudian akan mengunduh CTB Locker.
  • CTB Locker mengenkripsi file-file milik korban.
  • Korban ditodong untuk menebus dan diberikan tenggat waktu tertentu untuk membayar permintaan tebusan tersebut.
  • Korban diminta membayar sejumlah Bitcoins via TOR.

crypto-ransomware2

Kawasan-kawasan baru terdampak infeksi CTB Locker

Alasan mengapa begitu banyak korban berjatuhan akibat insiden CTB Locker sangat beragam, namun yang paling sering dijumpai adalah akibat rendahnya kesadaran pengguna saat merambahi situs, serta tidak adanya perlindungan berupa solusi keamanan menyeluruh dan mutakhir yang terinstal di perangkat. Berikut, daftar negara-negara di luar Amerika, Eropa, Timur Tengah dan Afrika yang begitu merasakan dampak infeksi CTB Locker.

  • India
  • Thailand
  • Indonesia
  • Taiwan
  • Vietnam
  • Malaysia
  • Filipina
  • Australia
  • Hong Kong
  • Korea Selatan
  • Singapura
  • Selandia Baru

Jika sudah terinfeksi, bisakah korban merebut kembali data mereka?

Korban disarankan untuk tidak tergoda untuk membayar, meskipun telah dijanjikan data akan kembali setelah mereka membayar sejumlah tebusan. Peluang dikembalikannya file milik korban yang telah terenkripsi tipis sekali, meskipun korban telah membayar tebusan. Cara terbaik untuk melindungi diri dari ancaman jenis ransomware tersebut adalah melalui pencegahan.

Upaya pencegahan supaya tidak terinfeksi CTB Lockers

Berikut upaya yang perlu dilakukan pengguna supaya terhindar dari jebakan ransomware semacam CTB Lockers:

  • Hindari sembarangan mengeklik tautan-tautan berbahaya.
  • Backup data-data penting di perangkat.
  • Cek terlebih dahulu siapa pengirim email.
  • Cek berulang kali isi dari setiap pesan yang Anda terima.
  • Pastikan software keamanan Anda selalu terbarui.

“Trend Micro berkomitmen untuk terus berupaya mengembangkan solusi-solusi dalam memerangi dan memonitor munculnya varian-varian dan perubahan perilaku serta acaman terbaru crypto-ransomware. Sekelumit kejadian sudah terendus di beberapa kawasan baru, ini artinya bahwa dampak dari serangan ini mulai meluas. Kami mengimbau kepada seluruh pengguna untuk selalu waspada.” —Paul Oliveria, Technical Communications Manager, TrendLabs.

Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES