in: Direct Release | February 24, 2015 | by: Jagat Review

[PR] Mengapa Database Berbasis Cloud Ada di Masa Depan Anda?

Cloud-Computing

Cloud menjadi lebih rumit –dan ramai. Ada lebih banyak tawaran baru berupa “as a service” atau “sebagai layanan” muncul belakangan ini, layaknya tayangan reality show yang menjamur di berbagai saluran TV.

Namun, ada salah satu tawaran yang sepertinya akan jadi kebutuhan utama suatu enterprise, dan merupakan platform jangka panjang bagi inovasi TI, yaitu database sebagai layanan atau database as a service (DBaaS). Baru-baru ini, Larry Ellison, Executive Chairman dan CTO Oracle mengeluarkan prediksi mengenai hal tersebut: “Database adalah bisnis perangkat lunak terbesar kami dan database akan selalu menjadi bisnis cloud terbesar kami.”

Layanan database berbasis cloud, atau database sebagai layanan (DBaaS), mampu menyediakan kemampuan database di ranah online, kapan dan di mana pun kemampuan itu dibutuhkan. Pengguna bisa mengakses satu bagian database (skema), atau bahkan seluruh database yang komplit. Enterprise juga bisa menyediakan DBaaS-nya dijalankan di pusat datanya untuk pelanggan internal.

Jika dilakukan dengan benar, DBaaS bisa menghemat biaya secara signifikan dibanding strategi database tradisional. Selain itu, ada juga manfaat-manfaat besar lainnya yang didapatkan lewat cloud: kelincahan, skalabilitas, kecepatan penerapan, dan terus tersedianya kemampuan baru.

Karena itulah meskipun termasuk kategori cloud yang baru, banyak enterprise yang tertarik dengan DBaaS. Diestimasikan, pasar untuk database berbasis cloud atau DBaaS ini akan tumbuh dari 1 miliar dolar tahun ini hingga 14 miliar dolar di tahun 2019.

Meskipun momentum itu sudah terbangun, penting untuk dipahami bahwa pusat data konvensional di suatu perusahaan tidak akan ditinggalkan begitu cepat. Perusahaan biasanya akan melakukan pendekatan secara bertahap, di mana jenis database tertentu dipindahkan ke cloud, sementara yang lainnya tetap on premise.

“Kini pelanggan seringkali menjalankan sistem database yang dikhususkan untuk suatu kebutuhan, di server dan penyimpanan yang menempel dengan pusat datanya,” ujar Amit Suxena, Senior Director and General Manager, Core Technology dari Oracle. Database yang vital, contohnya sistem rekening nasabah bank atau sistem merchandise diskon toko, dianggap sebagai pendukung utama kemajuan perusahaan. “Karena tingkat kepentingannya yang cukup tinggi, database seperti ini kemungkinan besar akan tetap dijalankan secara on premise untuk beberapa tahun ke depan,” lanjut Amit.

Bukan berarti tidak ada banyak database yang diuntungkan jika diterapkan di komputasi cloud. Perusahaan besar biasanya memiliki ribuan database. Dari jumlah ribuan itu, ada banyak database yang cocok diterapkan di cloud, seperti yang dijelaskan Amit.  Database yang bisa diterapkan di cloud itu termasuk juga database yang digunakan untuk mengembangkan aplikasi baru atau mengujinya dan sistem produksi yang tidak begitu kritikal. “Tujuan akhirnya, tentu saja, untuk mengurangi biaya keseluruhan yang dibutuhkan untuk menjalankan semua database di suatu perusahaan,” kata Amit.

Cloud, dikombinasikan dengan virtualisasi, bisa membantu perusahaan dalam mencapai tujuan pengurangan biaya tersebut. Teknologi mesin virtual memungkinkan satu server fisik untuk menjalankan banyak server virtual, dan akhirnya terjadilah konsolidasi server.

“Konsolidasi yang ada sekarang mungkin bisa mengurangi jumlah server. Misalnya untuk 9,000 database yang biasanya dijalankan di atas 9,000 server, Anda bisa mengkonsolidasinya menjadi 500 server. Namun tetap saja jumlah database yang harus diatur ada 9,000 database. Bagaimana kalau jumlah database tersebut bisa dikonsolidasikan menjadi 40 database saja?” lanjut Amit.

Di situlah arsitektur database Oracle yang baru berperan. Rilis terbaru dari sistem flagship Oracle, Oracle Database 12c, menampilkan arsitektur baru yang fundamental bernama Oracle Multitenant. Arsitektur ini memungkinkan developer menciptakan database yang pluggable –hingga 252 database –yang berjalan di satu database “penampung”.  Dengan menerapkan  Oracle Multitenant, kini perusahaan bisa melakukan fungsi administrasi paling umum, seperti patching, upgrade, dan backup, di  database penampung itu. Pada akhirnya, solusi ini bisa menurunkan biaya pengaturan database secara drastis. Ditambah efisiensi di arsitektur multitenant baru ini, database dengan jumlah 5 kali lipat lebih banyak, bisa dijalankan di satu server atau mesin virtual.

Amit melanjutkan “Oracle Multitenant bisa mengurangi biaya perangkat keras. Tapi yang paling utama, solusi ini bisa mengurangi biaya tenaga kerja.”

Dengan lebih sedikitnya database yang harus diatur, kerjasama antara alat administrasi database perusahaan, Oracle Enterprise Manager 12c, dan Oracle Multitenant dapat mengotomisasi monitoring dan menyetel database yang pluggable. Solusi ini juga menyediakan pengukuran dan chargeback yang memungkinkan manajer memonitor dan melaporkan penggunaan database. Kemampuan chargeback merupakan fungsi penting di arsitektur cloud privat yang berorientasi pada layanan, di mana sebagian besar pelanggan ingin menerapkan Oracle DBaaS.

Kelincahan bisnis

Dengan menerapkan DBaaS, pelanggan berharap dapat melakukan penghematan biaya di CapEx dan OpEx, dan mereka menyadari hal itu bisa terjadi dengan menggunakan DBaaS di arsitektur cloud privat. Pelanggan juga ingin menyediakan tenaga TI yang efisien, yang saat ini bisa didapatkan dari luar perusahaan. “Salah satu alasan mereka ingin menerapkan database sebagai layanan on premise adalah untuk memberikan kelincahan yang sama di semua bisnis unit dengan menggunakan cloud,” kata Amit.

Karena itulah kemampuan database berbasis cloud dari Oracle –Oracle Database 12c dengan Oracle Multitenant, Oracle Enterprise Manager 12c, bersama alat-alat untuk keamanan, kinerja, dan pemulihan  dari Oracle yang telah diasah selama bertahun-tahun – sangat cocok dengan kebutuhan perusahaan. Oracle sendiri menharapkan ada lebih banyak perusahaan yang mengadopsi Oracle Database 12c yang berhubungan dengan DBaaS.

Pelanggan bisa mendapatkan manfaat Oracle DBaaS di cloud publik atau di cloud privat Oracle yang mereka terapkan dan atur sendiri. “Oracle Database 12c Multitenant Architecture adalah titik utama usaha kami dalam mendesain ulang database untuk cloud, baik itu cloud publik atau pun privat,” kata Amit.

Secara  meningkat, enterprise memindahkan database aplikasi percobaan atau yang tidak vital ke cloud public. Hal ini mendukung cloud hibrida, di mana ada beberapa database yang tetap di pusat data perusahaan dan ada beberapa yang sudah dipindah ke cloud. Strategi Oracle adalah untuk pastikan aplikasi database apa pun yang dijalankan on premise, juga bisa dijalankan di cloud publik atau pun sebaliknya. Di Oracle OpenWorld 2014 di San Fransisco, Larry Ellison  mendemonstrasikan bagaimana pelanggan bisa memindahkan database Oracle on premise dalam hitungan menit tanpa mengubah lini kode satu pun.

Saat semakin banyak CIO mencari fleksibilitas semacam itu, Oracle memposisikan dirinya untuk mendukung sistem tersebut dengan infrastruktur cloudnya dan teknologi database cloud yang canggih. “Pelanggan akan mengerti bahwa Oracle adalah yang terbaik di dunia dalam hal menerapkan database sebagai layanan di cloud,” kata Amit.

Profil Narasumber:

Amit Suxena, Senior Director and General Manager, Core Technology, ORACLE CORPORATION

amit oracle

Amit menjabat sebagai Senior Director untuk Grup Teknologi di Oracle Corporation. Amit mengepalai Core Technology Business untuk Oracle di beberapa negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Amit bergabung dengan Oracle lebih dari 4 tahun lalu, awalnya sebagai Global Key Account Director untuk salah satu pelanggan perbankan terbesar Oracle di Asia Pasifik. Selain menduduki posisi tersebut, Amit juga menangani bagian Financial Services Industry untuk bisnis Oracle Applications, dan juga mengepalai bagian penjualan bisnis teknologi di Oracle Singapore.

Amit mendapatkan gelar Master Business Administration jurusan Marketing dari Universitas Pune di India.

Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES