in: Processors | February 12, 2015 | by: Alva "Lucky_n00b" Jonathan

Review AMD Athlon X4 860K & Athlon X4 760K: Prosesor Quad-Core Murah Tanpa IGP

Uji Performa Part III: Gaming

Pada setiap pengujian prosesor, salah satu bagian yang paling menarik adalah pengujian gaming. Biasanya, skenario gaming dapat menguji berbagai komponen pendukung performa (CPU,RAM,GPU,dsb) dengan maksimal untuk melihat limitasinya. Pada pengujian kali ini, kami memilih 3 (tiga) buah game, yang dikenal cukup memberikan beban baik tidak hanya pada GPU, namun juga pada CPU. Satu dari game yang kami uji disini bahkan merupakan salah satu game dengan kebutuhan minimum tinggi, karena membutuhkan prosesor quad-core (atau memiliki 4 thread).

Pengujian kami lakukan dengan 2 (dua) resolusi, yakni 1920 x 1080, dan 1360 x 768, dilakukan dengan menggunakan tool analisis FRAPS.

Sekilas mengenai FPS dan Frame Time

Ada beberapa skenario pengujian dalam gaming yang menghasilkan variasi framerate cukup tinggi yang tidak bisa terdeteksi oleh bagian FPS dalam FRAPS. Kejadian ini membuat kami merasa bahwa data FPS saja tidak cukup, lalu kami memutuskan untuk melihat data Frametime log dari FRAPS. Frametime adalah waktu dimana 1 (satu) frame akan di-render oleh sistem, biasanya dalam satuan milliseconds (ms). Selama ini kami menggunakan FPS (Frame per second) sebagai unit pengukuran untuk mempermudah perbandingan. Namun, ada kalanya pengukuran frame time ini bisa lebih penting, karena bisa memberi kami data untuk melihat seberapa jauh variance/perbedaan dari waktu render masing-masing frame.

Tentunya, waktu render yang jauh berbeda antar frame, misal frame pertama dirender pada 16.7 ms, lalu frame kedua pada 40 ms, lalu frame ketiga pada 16.7 ms, akan membuat kita merasa adanya ‘stuttering’ dalam game.

Sebagai perbandingan, inilah konversi FPS ke Frametime:
(dengan rumus FPS = 1000/Frametime,  frametime dalam satuan ms. Berlaku sebaliknya, Frametime = 1000/FPS )

  • 120 FPS = 8.3 ms (1000/120 = 8.3)
  • 60 FPS = 16.7 ms (1000/60 = 16.7)
  • 30 fps = 33.3 ms (1000/30 = 33.3)
  • 20 fps = 50 ms (1000/20 = 50)

Ini berarti makin KECIL frametime, makin BESAR FPS-nya, dan berlaku sebaliknya.

FRAFS Bench Viewer – Worst 1% Frametime/Worst 1% FPS

Setelah menganalisa lebih lanjut, kami menemukan bahwa ada juga cara mudah untuk menentukan apakah sebuah sistem PC mengalami ‘stutter’ yang parah atau tidak. Salah satunya adalah dengan menganalisa frametime log dari FRAPS di atas menggunakan FRAFS Bench Viewer.  Tool sederhana ini dapat menghitung secara otomatis bagian 1% frame yang ‘terburuk’ dari sekumpulan data frame time.

Anda bisa melihat contohnya dibawah ini:

Data diatas adalah frametime yang sudah diurutkan, dari yang terbaik(paling kiri), hingga yang terburuk (paling kanan). Gampangnya, bagian paling kiri adalah frame time terendah (FPS Maksimum), sedangkan bagian paling kanan adalah frame time tertinggi (FPS Minimum). Bagian garis merah yang kami gambar diatas menggambarkan nilai 1% frametime terburuk dari seluruh frametime yang ada. FRAFS Bench Viewer menamakan ini sebagai ‘1% Time’ (dalam satuan ms/milidetik, atau bisa juga dikonversi ke FPS). Mencari nilai 1% FPS terburuk atau 1% Frametime terburuk dari seluruh data biasanya lebih sering memberikan nilai yang lebih akurat untuk menggambarkan ‘stuttering‘ yang terjadi pada sebuah sistem.

Tentunya, PC yang nilai ‘1% Worst FPS’-nya jauh lebih rendah dari FPS rata-rata, pastinya akan mengalami ketidaknyamanan berupa berbagai kejadian ‘stutter’ dalam game. Jadi, pada pengujian gaming di artikel ini, kami akan menyajikan 2 (dua) buah data:

  1. Average FPS: Menunjukkan berapa rata-rata framerate dari game yang berlangsung, diambil dari tool FRAPS
  2. 1% Worst FPS: Menunjukkan nilai 1% framerate terburuk dari seluruh data untuk indikasi stuttering, diambil dari tool FRAFS Bench Viewer.

Catatan:

  • Mengapa kami tidak lantas mengambil nilai FPS minimum saja, dan repot-repot mencari nilai frame 1% yang terburuk? Jawabnya adalah: Minimum FPS kadang tidak bisa menjadi acuan karena seringkali dipengaruhi aspek2 lain, seperti storage access, driver error, dan lain sebagainya. Nilai 1% Worst FPS ini lebih reliable.
  • 1% worst frametime ini memiliki nama lain ’99th Percentile Frametime’.

 

Nah, mari simak pengujian game berikut:

Crysis 3

Crysis3_SS

Crysis 3 dikenal dengan grafisnya yang menawan dan kebutuhan GPU dan CPU-nya yang relatif tinggi. Kami memainkan level ‘Welcome to the Jungle’ menggunakan setting berikut ini:

Crysis3_setting1

Crysis3_setting2
Berikut hasil benchmark Crysis 3:

Crysis3_768p

Crysis3_1080p

Prosesor 2 core dan 2 thread G3258 nampak kesulitan menangani game Crysis 3. Meski Average FPS-nya lumayan (36), G3258 tidak berhasil menjaga nilai 1% worst FPS ke setidaknya angka 20, dan mengakibatkan jalannya game cukup ‘tersendat’. Prosesor Athlon X4 baik 760K maupun X4 860K yang memiliki 4 inti terlihat dapat menangani stutter dengan relatif lebih baik, walau masih belum seefisien Core i3-4130.

 

Battlefield 4

BF4_SS

Game FPS besutan DICE ini memiliki kualitas visual yang memanjakan mata, dan juga merupakan benchmark yang bagus untuk menguji prosesor maupun GPU. Kami memainkan level ‘Singapore’ untuk menguji performa prosesor kami, dengan preset detail tingkat High.

BF4_Setting
Setting BF4 *klik untuk memperbesar*

Berikut hasilnya:

BF4_768p

BF4_1080p

Hasil pengujian dengan resolusi 1360 x 768 vs 1920x 1080 menunjukkan hasil yang agak kontras. Pada skenario 1360 x 768, nampaknya beban GPU agak berkurang, sehingga prosesor i3-4130 dapat menunjukkan taringnya disini dengan melejit meninggalkan yang lain, menyentuh FPS rata-rata 95. Sedangkan kedua Athlon X4 ada di kisaran 71-72 FPS, dengan tingkat 1% worst FPS yang sama.

Pada 1920 x 1080, keempat sistem yang kami coba menunjukkan hasil yang mirip, dengan X4 760K/860K kalah tipis dari Core i3-4130.

 

Watch_Dogs

WD_SS

Dari ketiga game yang kami gunakan untuk menguji, game dari Ubisoft inilah yang terberat dari segi kebutuhan prosesor. Engine yang dijalankan pada Watch_Dogs melakukan berbagai kalkulasi sedemikian kompleks, sehingga konon membutuhkan hardware yang mumpuni untuk menghasilkan framerate yang konstan. Kami mencatat bahwa game ini membutuhkan prosesor kelas quad-core (atau memiliki 4 thread), dan memiliki scaling yang cukup baik terhadap bandwidth memori.

Kami menjalankan level awal dari game ini, berlari dari satu poin ke poin yang lain selama 60 detik (tepatnya dari hotel ke rel kereta api) lalu mencatat framerate & frametimenya di FRAPS. Ini detail dari setting yang kami gunakan:

WD_Setting1

WD_Setting2

Dan berikut hasilnya:

WD_768p

WD_1080p

Sesuai dugaan, game Watch_Dogs memang ‘mimpi buruk’ bagi pengguna prosesor 2 core 2 thread seperti Pentium G3258, yang benar-benar sudah tidak bisa menjalankan game ini dengan nyaman karena nilai 1% FPS-nya rendah luar biasa, penuh dengan stutter yang membuat game menjadi unplayable. Disini, baik Athlon X4 860K dan Athlon X4 760K menunjukkan kemampuan quad-core yang dimilikinya, dengan mencatatkan nilai FPS di atas 40, dan 1% FPS yang tidak menyentuh di bawah 30. Untuk sebuah prosesor gaming murah, kemampuan kedua Athlon X4 ini bisa mendekati saingan mereka yang berharga lebih mahal, Core i3-4130.

Athlon X4 760K mendapat FPS lebih tinggi disini karena sebuah hal yang sederhana, ia lebih sering bertahan pada kecepatan turbo maksimal-nya dibanding si Athlon X4 860K.

Daftar Isi
Pages: 1 2 3 4 5 6 7
Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES