in: Processors | February 21, 2015 | by: Alva "Lucky_n00b" Jonathan

Review: Prosesor AMD FX-6300 vs Intel Core i3-4130 di Aplikasi Gaming Modern

FX6300vsi3-4130s

“Pilih prosesor AMD atau Intel ya?”, pertanyaan tersebut mungkin adalah salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di diskusi antar pengguna komputer. Tentu saja, mencari jawabnya tidak mudah, karena tipe prosesor yang beredar dari kedua vendor sangatlah banyak, dan semuanya memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Beberapa waktu belakangan ini, kami melihat beberapa tipe prosesor yang cukup sering dilirik calon pembeli komputer karena rasio price vs performance-nya menarik, dua diantaranya adalah AMD FX-6300 dan Intel Core i3-4130.

AMD FX-6300 & Intel Core i3-4130: Gaming CPU on a budget?

Cukup wajar jika dua prosesor ini sering diperbandingkan, kisaran harga keduanya relatif sama (Saat artikel ini dirilis, AMD FX-6300 dihargai pada kisaran 1.39 Juta Rupiah, dan Intel Core i3-4130 berkisar di 1.37 Juta Rupiah, dengan 1 USD = Rp 12800). Padahal keduanya memiliki perbedaan yang sangat kentara, beda jumlah core, beda soket/platform, beda dukungan chipset, dan tentunya beda arsitektur.

Pada kisaran harga 1.3-1.4 Juta Rupiah, banyak calon pembeli PC yang menganggap dua prosesor ini adalah pilihan yang memberikan the best bang for the budget, khususnya untuk perakitan PC Gaming kelas menengah. Meskipun cukup sering mengulas banyak prosesor, kami sendiri memang tidak pernah membandingkan dua prosesor ini, dan sangat tertarik untuk melihat kemampuan keduanya saat digunakan untuk menghadapi game-game terkini.

Sebelumnya, mari kita lihat spesifikasi kedua prosesor ini lebih dekat:

FX6300_i3-4130_Spec

Dilihat dari spesifikasinya saja, perbedaan kedua prosesor ini sudah sangat kentara. AMD FX-6300 memiliki 6(enam) buah core, sedangkan Intel Core i3-4130 memiliki 2(dua) Core, yang bisa menjalankan 4 Thread sekaligus berkat HyperThreading. Meskipun hanya memiliki 2 Core dan 4 Thread(2C/4T), Intel Core  i3-4130 memiliki arsitektur Haswell yang cukup modern, didukung proses fabrikasi 22nm. Sedangkan AMD FX-6300 masih menggunakan sebuah arsitektur lama Vishera, berbasis proses fabrikasi 32nm. Jika kita lihat lebih dekat juga, AMD FX-6300 memiliki jumlah L2 dan L3 Cache yang lumayan jauh lebih besar dari Intel Core i3-4130, dan AMD FX-6300 akan berjalan di clockspeed yang relatif lebih tinggi dari i3, yakni di angka 3.5Ghz (i3-4130 di 3.4Ghz), dan itu bisa meningkat ke maksimal 4.1Ghz saat load ringan. Perbedaan selanjutnya adalah nilai TDP(thermal design power) dari i3-4130 yang jauh lebih rendah dari FX-6300, dimana i3-4130 memiliki rating TDP 54 Watt, dan FX-6300 ada pada 95 Watt.

Berikut ini informasi lengkap seputar kedua prosesor, sesuai dengan yang ditampilkan software CPU-Z:

 

AMD FX-6300: 6-Core Piledriver

CPUZ_FX6300

AMD FX-6300 memiliki 6(enam) buah core yang jika semua core-nya di-load, maka kecepatannya ada di 3.5 Ghz, namun ketika hanya satu core yang di-load, maka kecepatannya dapat meningkat ke 4.1 Ghz berkat fitur AMD Turbo Core. Anda bisa melihat perbedaannya di bawah ini:

*klik untuk memperbesar*

FX6300_TurboCore1  FX6300_TurboCore6

 

Intel Core i3-4130: 2 Core 4-thread Haswell

CPUZ_i3-4130

Core i3-4130 memiliki 2 Core yang mampu menjalankan 4 process thread, namun setiap core-nya berbasiskan arsitektur Haswell yang terkenal efisien (simak review Core i3-4130 kami yang terdahulu disini). Core i3 tidak memiliki fitur Turbo, sehingga kecepatan maksimumnya saat load akan sama di semua kondisi, yakni 3.4 Ghz.

Ruang Lingkup & Metoda Pengujian

GameTestss

Seperti yang kami katakan di atas, kami berniat membandingkan kedua prosesor berharga mirip tersebut saat menangani game-game modern, yang cukup membebani prosesor(selain membebani GPU). Dari semua game test yang kami pernah jalankan, ada beberapa game yang memiliki kebutuhan prosesor cukup menonjol, yakni:

  • Battlefield 4
  • Crysis 3
  • Watch_Dogs
  • Assassin’s Creed: Unity

Keempat game di atas menunjukkan performa yang cukup baik saat dijalankan para prosesor yang memiliki 4 Core / 4 thread atau lebih, dan seringkali sulit berjalan dengan tingkat framerate yang nyaman saat prosesor 2 core 2 thread digunakan. Anda bisa melihat pengujian kami terhadap prosesor Pentium G3258 dual-core di beberapa aplikasi game di atas, yang menunjukkan bahwa prosesor quad-core memberikan peningkatan yang cukup signifikan pada framerate. Tentunya cukup menarik untuk melihat bagaimana prosesor i3-4130 dan AMD FX-6300 menangani bermacam game ‘berat’ ini. Kami juga menjalankan pengujian pada dua buah GPU yang berbeda, yang satu kelas menengah sedangkan yang satu kelas atas, untuk melihat bagaimana performance scaling dari kedua buah prosesor.

Prosedur pengujian kami cukup sederhana, kami akan menjalankan game ini di skenario tertentu(yang akan kami jelaskan secara lengkap di halaman berikutnya), lalu melakukan logging data frametime dengan tool FRAPS, lalu melakukan analisa lebih lanjut dengan tool FRAFS Bench Viewer untuk melihat framerate maupun frametime-nya. Masing-masing pengujian akan dilakukan sebanyak 5(lima) kali per game lalu diambil rata-ratanya.

Sebagai tambahan, kami juga akan mengukur konsumsi daya dari dari kedua sistem yang kami uji.

 

Sekilas mengenai FPS dan Frame Time

FRAPS

Ada beberapa skenario pengujian dalam gaming yang menghasilkan variasi framerate cukup tinggi yang tidak bisa terdeteksi oleh bagian FPS dalam FRAPS. Kejadian ini membuat kami merasa bahwa data Frame per Second(FPS) saja tidak cukup, lalu kami memutuskan untuk melihat data Frametime log dari FRAPS. Frametime adalah waktu dimana 1 (satu) frame akan di-render oleh sistem, biasanya dalam satuan milliseconds (ms). Selama ini kami menggunakan FPS (Frame per second) sebagai unit pengukuran untuk mempermudah perbandingan. Namun, ada kalanya pengukuran frame time ini bisa lebih penting, karena bisa memberi kami data untuk melihat seberapa jauh variance/perbedaan dari waktu render masing-masing frame.

Tentunya, waktu render yang jauh berbeda antar frame, misal frame pertama dirender pada 16.7 ms, lalu frame kedua pada 40 ms, lalu frame ketiga pada 16.7 ms, akan membuat kita merasa adanya ‘stuttering’ dalam game.

Sebagai perbandingan, inilah konversi FPS ke Frametime:
(dengan rumus FPS = 1000/Frametime,  frametime dalam satuan ms. Berlaku sebaliknya, Frametime = 1000/FPS )

  • 120 FPS = 8.3 ms (1000/120 = 8.3)
  • 60 FPS = 16.7 ms (1000/60 = 16.7)
  • 30 fps = 33.3 ms (1000/30 = 33.3)
  • 20 fps = 50 ms (1000/20 = 50)

Ini berarti makin KECIL frametime, makin BESAR FPS-nya, dan berlaku sebaliknya.

FRAFS Bench Viewer – Worst 1% Frametime/Worst 1% FPS

Setelah menganalisa lebih lanjut, kami menemukan bahwa ada juga cara mudah untuk menentukan apakah sebuah sistem PC mengalami ‘stutter’ yang parah atau tidak. Salah satunya adalah dengan menganalisa frametime log dari FRAPS di atas menggunakan FRAFS Bench Viewer.  Tool sederhana ini dapat menghitung secara otomatis bagian 1% frame yang ‘terburuk’ dari sekumpulan data frame time.

Anda bisa melihat contohnya dibawah ini:

Data diatas adalah frametime yang sudah diurutkan, dari yang terbaik(paling kiri), hingga yang terburuk (paling kanan). Gampangnya, bagian paling kiri adalah frame time terendah (FPS Maksimum), sedangkan bagian paling kanan adalah frame time tertinggi (FPS Minimum). Bagian garis merah yang kami gambar diatas menggambarkan nilai 1% frametime terburuk dari seluruh frametime yang ada. FRAFS Bench Viewer menamakan ini sebagai ‘1% Time’ (dalam satuan ms/milidetik, atau bisa juga dikonversi ke FPS). Mencari nilai 1% FPS terburuk atau 1% Frametime terburuk dari seluruh data biasanya lebih sering memberikan nilai yang lebih akurat untuk menggambarkan ‘stuttering‘ yang terjadi pada sebuah sistem.

Tentunya, PC yang nilai ‘1% Worst FPS’-nya jauh lebih rendah dari FPS rata-rata, pastinya akan mengalami ketidaknyamanan berupa berbagai kejadian ‘stutter’ dalam game. Jadi, pada pengujian gaming di artikel ini, kami akan menyajikan 2 (dua) buah data:

  1. Average FPS: Menunjukkan berapa rata-rata framerate dari game yang berlangsung, diambil dari tool FRAPS
  2. 1% Worst FPS: Menunjukkan nilai 1% framerate terburuk dari seluruh data untuk indikasi stuttering, diambil dari tool FRAFS Bench Viewer.

Catatan:

  • Mengapa kami tidak lantas mengambil nilai FPS minimum saja, dan repot-repot mencari nilai frame 1% yang terburuk? Jawabnya adalah: Minimum FPS kadang tidak bisa menjadi acuan karena seringkali dipengaruhi aspek2 lain, seperti storage access, driver error, dan lain sebagainya. Nilai 1% Worst FPS ini lebih reliable.
  • 1% worst frametime ini memiliki nama lain ’99th Percentile Frametime’.

 

Platform Pengujian

DSC04474s

Berikut ini spesifikasi PC yang kami gunakan untuk melakukan pengujian:

  • Prosesor: AMD FX-6300 ‘Vishera’ & Intel Core i3-4130 ‘Haswell’
  • Motherboard AMD: MSI 970 Gaming
  • Motherboard Intel: MSI H97 Gaming 3
  • RAM: G.Skill TridentX DDR3-2400 2 x 4GB (running at SPD, DDR3-1600C11)
  • VGA I: PowerColor Radeon R9 270X PCS+ 2GB
  • VGA II: GALAX GTX 980 HOF 4GB
  • SSD: Kingston HyperX 3K 240GB
  • PSU: FSP Hexa+ 400W
  • CPU Cooling(all): Stock Cooling
  • OS: Windows 8.1 64-bit Enterprise
  • AMD VGA Driver: Catalyst 14.12 Omega
  • NVIDIA VGA Driver: ForceWare 347.25

 

Di bawah ini ada beberapa catatan yang kami perlu tambahkan, seputar hardware yang digunakan untuk pengujian:

Prosesor: Ada Simulasi FX 4-Core

FX6300_4CoreSet_BIOS

FX6300_4CoreSet

Untuk membuat pengujian lebih lengkap, kami mencoba menambahkan satu data tambahan, dimana kami men-disable dua buah core dari FX-6300 untuk mensimulasikan prosesor FX-4xxx series(karena kami tidak memiliki prosesor FX-4xxx di lab). Pengujian ini berguna untuk melihat seberapa jauh gaming performance dari FX-series CPU saat berpindah dari 4 core ke 6 core. Karena kami men-disable 2 buah core, rule Turbo Core di prosesor ini sedikit berubah. Kecepatan maksimum Turbo Core kami tetap sama(4.1Ghz), namun kecepatan base-nya dapat meningkat ke 3.8Ghz saat load 4-core.

Penggunaan RAM Berkecepatan DDR3-1600

DDR3_1600C11

Meskipun kami menggunakan RAM high-end G.SKill TridentX DDR3-2400, kami tidak menyalakan profil XMP memori ini pada pengujian sama sekali, dan hanya menjalankan kecepatan DDR3-1600 CL11 untuk mensimulasikan penggunaan RAM kelas Value.

VGA: Dua kelas yang berbeda

R9270X_980

Untuk hasil pengujian yang lebih lengkap, kami menggunakan 2(dua) buah kartu grafis yang kelasnya berbeda. Kartu grafis yang pertama adalah PowerColor Radeon R9 270X PCS+ SuperOC untuk merepresentasikan kartu grafis kelas mid-end yang kemungkinan besar masuk di budget pengguna yang akan membeli prosesor Core i3-4130 atau FX-6300.

Berikutnya adalah salah satu kartu grafis single-GPU terkencang di muka bumi ini(setidaknya saat artikel ini dirilis), GALAX GeForce GTX 980 HOF, yang akan memperlihatkan apakah kedua buah CPU tersebut masih memiliki performa yang cukup tinggi untuk ‘mendampingi’ VGA sekelas GTX 980, atau malah menghambatnya.

 

Daftar isi

Halaman 1(halaman ini): Overview, Spesifikasi Prosesor, Ruang Lingkup & Metoda Pengujian, Platform Pengujian

Halaman 2: Detail Setting Game yang Diuji, Benchmark Sintetis

Halaman 3: Uji Game dengan Radeon R9 270X

Halaman 4: Uji Game dengan GeForce GTX 980, Uji Konsumsi Daya

Halaman 5: Kesimpulan

Daftar Isi
Pages: 1 2 3 4 5
Tags: