in: News | December 12, 2018 | by: Dian Syarifuddin

Huawei Kenalkan Teknologi untuk Penanggulangan Bencana di Indonesia

Menurut data yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sedikitnya ada 1.134 kejadian bencana yang terjadi selam 2018 di Indonesia dengan jumlah korban yang terdampak dan mengungsi akibat bencana sebanyak 777.620 jiwa. Selain itu, Indonesia juga dikatakan berada di letak Cincin Api Pasifik sehingga menjadikannya memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, serta kekeringan.

Oleh karena itu, Huawei selaku perusahaan global penyedia infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, memperkenalkan jajaran teknologi yang dikembangkan untuk menanggulangi bencana di Indonesia. Huawei mengembangkan model managemen bencana 2P2R (Prevention, Pre-warning, Response, Recovery) yang dirancang secara efektif dalam mendukung dilakukannya langkah-langkah yang tepat terkait dengan upaya pencegahan, kesiagaan, tanggap darurat dan pemulihan bencana.

Arri Marsenaldi, Executive Product Manager Huawei Indonesia menyatakan, “Terlepas dari reputasi yang mumpuni dalam penanggulangan bencana, seperti halnya beberapa negara lainnya, Indonesia pun masih dihadapkan dengan tantangan terkait sistem peringatan bencana serta respon terintegrasi dalam penanganan bencana“.

Tantangan fundamental yang dihadapi meliputi sulitnya memprediksi bencana alam seperti gempa dan longsor, serta kurangnya kesadaran warga yang tinggal di wilayah-wilayah rentan bencana. Selain itu, adanya keterbatasan analisis data yang dapat menjadi rujukan sistem peringatan awal bencana (early warning) dan kualitas jaringan telekomuniasi yang tidak merata juga menjadi kendala dalam manajemen bencana di lokasi.

Teknologi informasi dan komunikasi memiliki peran yang siginifikan dalam managemen bencana dan pengambilan keputusan terkait penanggulangan bencana. Untuk itu, diperlukan sebuah sistem pusat komando terintegrasi yang melibatkan aspek kolaborasi antar pihak-pihak terkait, baik pemerintah, pusat dan nasional, bada penanggulangan bencana terkait, serta pihak pendukung lainnya“, Ujar Arri.

Selain itu, pemanfaatan perangkat teknologi berbasis IoT (Internet of Things) seperti sensor, kamera pengawas, mobile base station dan jaringan eLTE, akan sangat membantu proses pengambilan keputusan yang tepat dengan 60 persen lebih cepat.

Pada tahap pemulihan bencana, Huawei juga mengembangkan solusi-solusi untuk mendukung proses pemulihan dan pencegahan epidemik pasca bencana, proses-proses identifikasi, dukungan bagi penyintas, serta solusi-solusi untuk membuat model dan memetakan visualisasi dampak dan kerugian bencana.

Saat ini, pemanfaatan teknologi managemen bencana yang dimiliki Huawei ini sudah digunakan lebih dari 100 kota yang terdiri 30 negara. Salah satu negara yang telah mengadopsi semua teknologi manajemen bencana milik Huawei ini adalah Trinidad and Tobago.

Tags:

Share This: