in: Movies | April 25, 2019 | by: Pladidus Santoso

Review Avengers – Endgame: Konklusi dan Klimaks Pantas!

Sebelum Anda berujung cemas, review ini tidak akan mengundang spoiler sama sekali. Kami tidak akan cukup tega untuk membuat Anda yang sudah mengikuti Sage Infinity War selama belasan tahun untuk berakhir dikacaukan karena satu atau dua kalimat “berbahaya” seperti ini. Kami juga akan memantau sesi komentar artikel dan post sosial media artikel ini untuk menjaga level anti-spoiler yang sama. ..

Ketika Iron Man pertama kali dilepas ke pasaran, di tahun 2008 yang silam, banyak dari kita yang berakhir terpukau. Keputusan Marvel untuk membawa superhero populer mereka ke layar lebar dengan pemilihan aktor yang fantastis dan teknologi CGI yang super keren di kala itu, tidak bisa lebih dipuja-puji lagi. Apalagi Marvel punya rencana besar untuknya. Tidak sekedar membawa mereka sebagai sebuah seri terpisah, setiap film ini akan menyatu ke dalam sebuah plot besar dengan tokoh antagonis yang mengancam. 11 tahun setelahnya, kita akhirnya tiba. Setelah melewati inisiatif pengumpulan hero, pertempuran mereka melawan satu sama lain, hingga pengenalan beberapa karakter yang bahkan lebih kuat lagi, kita akhirnya tiba di Endgame.

SNAP! Seri sebelumnya – Infinity War ditutup dengan kemenangan Thanos yang atas nama sebuah ideologi ekstrim yang gila, berhasil membawa “keseimbangan” bagi semesta. Di ribuan planet dengan kehidupan yang tersebar, setiap dari mereka kehilangan setengah makhluk hidup yang menghuninya, termasuk bumi itu sendiri. Sebagian dari karakter Avengers lenyap menjadi abu dan dunia yang sempat mereka janjikan akan mereka lindungi kini tidak akan pernah lagi sama. Yang tersisa hanyalah rasa duka yang disebabkan seorang Titan gila yang berhasil membuat semua orang terluka.

Bergerak

Salah satu keindahan menjadi seorang manusia adalah semangat dan konsistensi untuk terus bergerak maju, bahkan di kondisi terburuk sekalipun. Bagi para Avengers yang “terselamatkan” dalam permainan RNG Infinity Gauntlet dari Thanos, kalimat indah tersebut tidak lagi berarti apa-apa.Ia tidak lebih dari sekedar ucapan omong kosong yang alih-alih menghibur, justru memunculkan sebuah mimpi tanpa solusi. Bahwa terlepas dari kemampuan mereka untuk terbang, mengangkat gedung besar, menghancurkan ribuan monster, dan bertarung di luar angkasa, tidak ada satupun yang mempersiapkan mereka untuk berhadapan dengan duka. Tidak hanya kehilangan orang yang mereka peduli dan cintai saja, tetapi juga dari fakta bahwa mereka sebagai prajurit terkuat yang seharusnya melindungi bumi, gagal.

Tetapi di sisi yang lain, kalimat yang satu ini menjadi sesuatu yang relevan. Bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh sisa Avengers ini selain bergerak maju. Bergerak di tengah dunia sepi yang kehilangan setengah suara manusia dan binatang di dalamnya, bergerak di tengah harapan yang hampir hampa bahwa mereka bisa mengembalikan segala sesuatunya seperti semula, bergerak di tengah kondisi bahwa kemenangan sekarang tidak lebih dari sekedar mimpi. Thanos sudah mendapatkan apa yang ia inginkan dan berambisi untuk memastikan hal tersebut tetap bertahan. Bahkan tambahan karakter sekelas Captain Marvel sekalipun tidak akan mampu berbuat banyak.

Pertanyaan yang selalu muncul dari Infinity War dan merasuk masuk ke dalam Endgame adalah “Apa Selanjutnya?”, yang tentu saja menjadi motivasi banyak orang untuk berburu film ke-22 Marvel Cinematic Universe tersebut hari ini juga, di tayang hari pertama. Terlepas dari sekedar untuk memuaskan rasa penasaran, mencari jawaban, atau menghindari spoiler yang menyebalkan. Di dalam benak kita yang terdalam, kita semuanya tahu bahwa Marvel mustahil akan membiarkan Thanos menang kembali di sini dan menciptakan dunia super gelap dan penuh rasa putus asa untuk Avengers di masa depan. Sang pahlawan akan berujung menang. Pertanyaannya kini lebih mengarah pada metode seperti apa yang akan dipilih.

Memberikan ruang bagi Avengers yang tersisa dan selamat dari proses jentikan untuk bersinar, solusi yang ditawarkan dan digunakan oleh Marvel di Endgame harus diakui bermain “aman”. Ia mengkonfirmasikan salah satu rumor yang sempat beredar dengan memanfaatkan beberapa karakter yang sempat tidak muncul di Infinity War untuk alasan yang spesifik. Hasilnya sendiri terhitung memuaskan, karena ia tidak hanya membawa cerita bergerak maju saja tetapi juga memberikan Anda – penikmat MCU yang sudah menonton 21 seri film terakhir secara setia, sesuatu yang istimewa. Namun harus diakui, ada beberapa permasalahan yang cukup mendasar di dalamnya jika Anda berangkat dengan pengetahuan dari film lain yang punya konsep yang serupa.

Memang sedikit sulit untuk membicarakan Endgame tanpa berakhir dengan spoiler sama sekali. Hanya satu yang ingin kami tekankan? Dari semua solusi khas komik yang bisa Anda temukan dan bisa berakhir lebih gila untuk merangkum pertarungan antara superhero terkuat bumi melawan Titan tak waras yang satu ini, Marvel menggunakan sebuah alur cerita yang terhitung “aman” dan sepertinya sudah banyak diprediksi. Di satu sisi, pilihan ini cukup mengecewakan, tetapi di sisi lain, dieksekusi dengan cukup manis untuk menjadi sebuah rangkuman kisah 21 buah film sebelumnya yang seharusnya.

Chills & Tears

Jika ada satu hal yang berhasil dilakukan Marvel dengan Endgame adalah membuatnya tampil tetap sebagai sebuah film superhero yang seru dan menyenangkan, namun di sisi lain, tetap tidak melupakan substansi cerita dan karakter yang ia usung. Ada beberapa hal yang kami suka, seperti memberikan waktu cerita tersendiri untuk membayangkan, memotret, dan menyajikan konsekuensi seperti apa yang bisa muncul ketika bumi kehilangan setengah makhluk hidup di dalamnya. Memperlihatkan pula bagaimana setiap superhero yang berhasil selamat untuk bergerak menjalani hidup mereka seoptimal mungkin di tengah kondisi dunia yang menyedihkan. Setiap superhero yang pada dasarnya manusia ini memperlihatkan cara yang berbeda untuk berduka.

Sisi manusiawi yang ditawarkan Endgame ini mungkin terasa membosankan bagi mereka yang tidak sabar lagi ingin meloncat ke dalam solusi untuk mengatasi Thanos. Namun bagi kami pribadi, ada rasa kepuasan tersendiri melihat bagaimana Russo Brothers memberikan tempat untuk memperlihatkan konsekuensi yang muncul dari Infinity War itu sendiri. Ia berhasil membuat setiap superhero ini menjadi lebih manusiawi dan di sisi yang lain, menggugah empati. Anda menjadi lebih peka dan peduli pada karakter yang sebenarnya sudah Anda ikuti selama setidaknya 11 tahun terakhir. Sayangnya, ia tidak banyak memotret konsekuensi seperti apa yang terjadi pada manusia sebagai peradaban. Anda hanya melihat sekelibat efeknya dari jenis makanan yang dikonsumsi oleh karakter-karakter ini.

Pada akhirnya, seperti nama yang ia usung, Endgame memang diposisikan sebagai konklusi dari saga yang sudah Anda nikmati selama 11 tahun. Bahwa perjuangan para superhero ini akhirnya mendarat di sebuah titik dimana kebenaran akhirnya mengalahkan kejahatan. Satu hal yang berhasil dilakukan Russo Brothers adalah memastikannya tampil sebagai sebuah klimaks yang memang pantas untuk menutup kisah tersebut. Pertarungan super keren dalam skala masif dimana setiap karakter hadir dengan kemampuan terbaik mereka, serta didukung dengan “Superhero baru” yang baru diperkenalkan di Endgame untuk pertama kalinya, ia juga hadir dengan efek destruktif yang memanjakan mata. Tentu saja, tidak ketinggalan ia juga menawarkan momen heroik yang membuat Anda ingin berteriak mendukung aksi karakter fiktif di depan layar besar ini.

Tetapi di sisi lain, di luar hiruk-pikuk yang berfungsi efektif sebagai fan-service, terutama untuk sisi pertarungan yang ada, Endgame tetap memuat banyak momen personal yang siap untuk membuat Anda menitikkan air mata. Bahwa pada akhirnya, untuk menyelamatkan manusia sebagai satu peradaban, untuk melindungi keluarga, untuk memastikan semuanya kembali, ada pengorbanan yang harus dilakukan. Bukan lagi sekedar waktu, tenaga, atau harta, tetapi juga nyawa. Endgame memastikan bahwa setiap pengorbanan tersebut memang punya nilai emosional seberat yang bisa mereka tawarkan, terutama untuk karakter yang sudah menemani Anda selama 21 film MCU terakhir.

Berita baiknya, mengingat ia sudah dikonfirmasikan sebagai penutup “Infinity Saga”, Marvel juga menawarkan konklusi cerita yang memuaskan, tidak hanya untuk akhir cerita Thanos tetapi juga para Avengers, terutama untuk mereka yang kisahnya dipastikan tidak akan berlanjut ke saga selanjutnya. Endgame berujung menjadi sebuah awal dari kisah yang baru tetapi akhir dari sebuah kisah lama dalam kapasitas yang seharusnya. Penutup cerita karakter-karakter ini siap untuk menggugah tidak hanya hati, tetapi juga memori Anda. Bahwa terlepas dari apakah Anda setuju atau tidak dengan cara Marvel menanganinya, ia akan membuat hati Anda yang dingin dan retak, kembali pulih dan menghangat, dan kemudian memecahkannya lagi.

Namun sayangnya, kami sendiri merasa sulit untuk mengabaikan bahwa memang, ada beberapa plotholes yang tercipta dari “solusi” yang ditawarkan Marvel untuk mengakhiri dominasi Thanos di Avengers: Endgame. Tentu saja akan berakhir spoiler jika kami membicarakannya, namun akan ada banyak situasi dan konten yang akan membuat Anda berakhir dengan satu di antara dua kesimpulan: bahwa apa yang Anda pikirkan memang plotholes (seperti yang mungkin terjadi pada kami saat menulis review ini) atau memang “solusi” yang ditawarkan Endgame sebenarnya rapi dan bersih, hanya saja Anda tidak cukup cermat untuk memahaminya dengan tepat. Apapun yang terjadi, satu di antara dua skenario ini, fakta bahwa situasi ini bisa muncul dan ia bisa menjadi sumber bahan diskusi adalah testimoni tidak langsung bahwa ada sesuatu yang menarik yang ditawarkan Russo Brothers di Endgame. Bahwa ia bukan sekedar film superhero biasa.

Pantaskah Ditonton?

Berusaha menjelaskan kepada Anda seperti apa pesona Avengers: Endgame tanpa sama sekali menyentuh plot yang ia tawarkan, memang bukan pekerjaan mudah. Namun satu hal yang bisa kami tawarkan kepada Anda adalah sebuah rasa puas, senyum, dan air mata yang muncul pada saat lampu bioskop kembali menyala dengan layar yang terus menuliskan daftar talenta yang sudah mengisi kisah pertarungan para superhero terkuat bumi ini melawan Thanos selama 11 tahun terakhir, sepanjang 21 film berbeda. Sebuah konklusi dan klimaks yang terasa, sungguh pantas. Ini adalah penutup cerita untuk perjalanan memori yang begitu panjang sekaligus awal dari sebuah era baru yang pantas untuk diantisipasi.

Avengers: Endgame kini tersedia di bioskop-bioskop terdekat Anda.

Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES