in: News | December 3, 2019 | by: Yufianto Gunawan

AWS Jadi Pilihan Utama HappyFresh Penuhi Kebutuhan Cloud Mereka

Di AWS re:Invent 2019, yang tengah berlangsung di Las Vegas, AS, AWS (Amazon Web Services) juga mengajak beberapa pelanggan mereka untuk berbagi cerita terkait pengalaman mereka menggunakan layanan cloud AWS dan manfaat yang bisa dirasakan dari penggunaan layanan-layanan itu. Salah satu pelanggan AWS yang menyempatkan diri bertemu dengan wakil media dari Indonesia, termasuk Jagat Review, adalah HappyFresh. Adalah Bapak Fajar, CTO dan founder dari HappyFresh, yang berbagi cerita terkait layanan AWS apa yang mereka gunakan dan bagaimana itu bisa membantu bisnis mereka.

Bapak Fajar A. Budiprasetyo, CTO dan founder HappyFresh, di acara AWS re:Invent 2019

Gunakan AWS dari Awal

Sebagai founder start up yang datang dengan latar belakang yang sudah cukup paham teknologi, Bapak Fajar sudah langsung mengadopsi cloud sejak awal mendirikan HappyFresh. AWS menjadi penyedia layanan cloud yang dipilih karena menawarkan layanan-layanan yang memang dibutuhkan. Tawaran AWS, oleh HappyFresh, dipandang bisa menghadirkan nilai lebih bagi mereka.

HappyFresh sendiri menggunakan cukup banyak layanan dari AWS, termasuk di antaranya Route 53 (DNS), Cloudfront (CDN), EC2, ECS, RDS, Elastic Beanstalk, Glue, Kafka, serta SageMaker. Selain itu, mereka juga menggunakan layanan dari partner AWS, di antaranya Horangi dan QBox. Pilihan layanan-layanan itu telah disesuaikan dengan kebutuhan HappyFresh yang ada saat ini. Bapak Fajar menyebutkan, pilihan layanan tersebut bisa saja bertambah bila memang HappyFresh merasakan adanya kebutuhan penggunaan layanan lain sejalan dengan pandangan mereka untuk menghadirkan efisiensi dan menekan biaya para pengguna layanan mereka dalam belanja bahan makanan.

Layanan AWS Bantu Atasi Tantangan yang Ada

Sebagai “tempat” belanja bahan makanan, HappyFresh tentu saja harus bisa menampilkan barang-barang yang bisa dibeli oleh pelanggan mereka, dari toko-toko partner mereka, di tampilan yang menarik, tetapi dengan keterbatasan ruang tampilan yang bisa dikatakan “sempit”, yaitu layar smartphone. Bila dibandingkan belanja langsung di toko, di mana pelanggan bisa langsung melihat barang-barang yang ditawarkan dengan mudah, hal di atas bisa saja dipandang sebagai kekurangan belanja secara online, termasuk oleh HappyFresh. Karena itu, mereka mengatasinya dengan memberikan rekomendasi, agar pengguna layanan mereka tidak perlu melihat satu-per-satu produk yang ditawarkan.

Fitur rekomendasi ini merupakan bagian dari upaya peningkatan personal experience saat menggunakan aplikasi, dan awalnya berjalan di sistem yang dibangun sendiri oleh HappyFresh. Saat layanan SageMaker, platform machine learning dari AWS sudah tersedia di Indonesia, HappyFresh memindahkan sistem di balik fitur rekomendasi ini ke SageMaker. Hasilnya, mereka bisa lebih mudah menawarkan rekomendasi untuk pengguna layanan mereka.

Bapak Fajar menjelaskan penggunaan SageMaker, layanan AI/Machine Learning dari AWS, untuk fitur-fitur di HappyFresh.

SageMaker dari AWS ini juga digunakan oleh HappyFresh di beberapa fitur lain di layanan mereka. Salah satunya masih terkait rekomendasi, yaitu untuk menawarkan secara otomatis produk substitusi untuk produk pilihan pengguna yang ternyata habis di toko pilihan pengguna. Berdasarkan penuturan Bapak Fajar, rekomendasi produk substitusi ini secara umum mendapat respon positif dari pengguna HappyFresh.

Perkembangan Positif: Terus Menggali Potensi Bersama AWS

Sejauh ini, dengan dukungan layanan dari AWS, HappyFresh berhasil mencatatkan perkembangan yang terbilang baik, dengan tingkat pertumbuhan di kisaran 15% month-on-month. Efisiensi yang didapatkan dari penggunaan layanan cloud AWS membuat HappyFresh mungkin saja mencatatkan pertumbuhan tersebut. Namun, hal itu tidak membuat HappyFresh puas.

HappyFresh akan terus berusaha memperluas jangkauan layanan mereka, tidak hanya untuk kota-kota di Indonesia, tetapi juga hingga di luar negri, di mana untuk saat ini layanan mereka juga telah tersedia di Malaysia dan Thailand. Tentu saja, hal tersebut akan membutuhkan dukungan kuat dari sisi infrastruktur, dan dengan menggunakan layanan AWS yang memiliki skalabilitas baik, HappyFresh bisa memperluas jangkauan layanan mereka tanpa perlu pusing memikirkan apakah infrastruktur yang ada mampu menangani perkembangan bisnis mereka atau tidak.

AWS Permudah Start Up Hasilkan Produk Nyata

Kembali ke era awal HappyFresh, Bapak Fajar juga bercerita bagaimana timnya yang berukuran kecil bisa membangun platform belanja groceries ini tanpa banyak kesulitan berarti. Memanfaatkan layanan cloud dari AWS, di tahun 2014, Bapak Fajar beserta timnya berhasil menghasilkan produk nyata yang memiliki nilai guna untuk publik, dalam wujud HappyFresh ini, di mana sebelum era cloud, hal itu sulit dilakukan karena keterbatasan dari sisi infrastruktur. Layanan-layanan berbasis cloud, yang menjadi fokus utama AWS, disebut Bapak Fajar merupakan pilihan yang sangat baik untuk start up memulai langkah mereka.

Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES