in: Graphics Card | July 25, 2020 | by: Friska Suryawinata

FPS Tinggi, Pentingkah? – Overview GPU Colorful IGame Geforce RTX 2080 Ti Advance OC

Ketika bermain gaming, ada pertanyaan yang kerap diperbincangkan bahkan diperdebatkan perihal framerate. Topik ini tidak sekedar membahas soal apakah framerate tinggi penting ketika bermain game atau tidak, tetapi topik ini sebenarnya bukanlah hal yang sederhana malah cenderung kompleks untuk pembahasan yang lebih mendalam.

Pengaruh framerate yang lebih tinggi terhadap gaming, terutama level esports, adalah pembahasan kami kali ini. Layar dengan refresh rate tinggi sendiri pun sudah semakin mudah diperoleh, bahkan laptop jaman sekarang pun sudah memilikinya. Pertanyaannya, apakah benar, kalau refresh rate tinggi dan fps tinggi itu membuat gamer bisa lebih mudah memenangkan pertandingan?

Testbed – GPU Colorful iGame RTX 2080 Ti

Untuk pengujian tersebut, kami menggunakan testbed dengan spesifikasi berikut ini:

  • Graphics Card: Colorful iGame GeForce RTX 2080 Ti Advance OC
  • CPU: Ryzen 3 3300X (Turbo Disabled, 45 W)
  • Display: Monitor gaming 144 Hz
  • RAM: DDR4-4000CL 2x 8 GB
  • Storage: SSD 1 TB NVMe
  • PSU: 1200 Watt

Untuk membahas tentang framerate dan hubungannya dengan gaming, kami pun memberikan contoh kali ini dengan menggunakan Colorful iGame Geforce RTX 2080 Ti Advance OC, yang merupakan GPU paling kencang di muka Bumi saat ini. GPU ini memiliki rated boost clock di 1635 Mhz dengan TDP 280W, temperature tertinggi di 70 derajat Celcius pada boost 1800 Mhz.

Overview Performa PC Testbed

Menggunakan PC testbed yang kami gunakan kali ini bersama dengan GPU Colorful iGame Geforce RTX 2080 Ti Advance OC, kami menguji langsung sejumlah game tanpa menggunakan benchmark 3DMark. Semua game yang kami uji coba ini memiliki kualitas minimal 1080p dan termasuk dalam Competitive Gaming.

  • CSGO (Very Low): 500+ FPS
  • Valorant (1080p Rata Kanan): 300 FPS
  • PUBG (1080p Medium): hampir 200 FPS
  • COD Warzone (1080p High Default): 140-170 FPS

Jadi, terlihat sangat jelas bagaimana testbed yang kami gunakan kali ini lebih dari cukup untuk bisa mendukung pembahasan soal Framerate dan hubungannya dengan Competitive Gaming kita kali ini.

Apa Itu Framerate?

Dari sudut pandang game dan PC-nya, framerate ini bisa dijelaskan sebagai seberapa banyak frame yang di-update atau ditampilkan per detik pada sebuah game. Secara mudahnya, banyak yang menyebut istilah ini sebagai FPS atau Frame per Second. Tidak hanya itu saja, FPS ini juga terkadang masih terikat dengan variabel seberapa sering logik pada game, psikis game, hingga input polling dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagi sebagian besar gamer, semakin tinggi nilai FPS yang didapatkan, maka biasanya pergerakan di dalam sebuah game akan terlihat semakin halus. Batas bawah FPS yang dinilai masih bisa ditoleransi umumnya ada di angka 30 FPS, dengan batas nyaman di sekitar 60 FPS dan High Framerate berada di atas 120 FPS lebih.

Apakah 60 FPS Itu Penting?

Untuk mereka yang lebih sering menonton konten video atau film, umumnya tidak akan mempermasalahkan FPS tinggi, berbeda dengan yang menggunakannya untuk bermain game. Hal ini dikarenakan ketika menonton video atau film, mereka tidak membutuhkan adanya User Input, hanya perlu menonton saja tanpa ada perlu aksi dari si penontonnya secara langsung di dalam film atau video tersebut. Sementara ketika bermain game, jelas ada User Input tertentu yang akurasinya akan tergantung dari seberapa besar framerate, misalnya melakukan aiming atau tracking menggunakan mouse di game shooter.

Secara garis besarnya, framerate rendah ketika bermain game akan menyebabkan gambar terlihat lebih “patah-patah”, di mana akan menyebabkan beberapa kekurangan tersendiri misalnya presisi dari gerakan mouse akan lebih terganggu pada frame rate rendah dikarenakan “interval” gerakan mouse pada FPS rendah akan lebih besar.

Saat ada gerakan yang relatif lebih cepat di layar pada framerate rendah, berbagai objek selain area fokus juga akan terlihat lebih banyak efek “ghosting”. Efek ini membuat ketika pengguna tengah melakukan pergerakan di dalam game, akan terlihat masih ada “sisa” pergerakan frame yang belum tuntas, yang disebut secara resmi sebagai Pixel Persistence. Sehingga, framerate tinggi ini akan membantu pengguna atau gamer untuk melakukan presisi dan mengurangi efek ghosting tersebut.

FPS vs Frametime

Jika kita tahu bahwa FPS itu adalah Frame per Second atau Frame per Detik, maka Frametime adalah waktu pemprosesan satu buah frame selesai diproses. Konversi Frametime sendiri konteksnya berada di ms, di mana hitungannya 1000 ms/FPS.

Dalam 30 FPS, 1 frame membutuhkan waktu proses sekitar 33 ms Frametime, 60 FPS sekitar 16.7 ms Frametime, 120 FPS di 8.3 ms Frametime, dan 240 FPS membutuhkan waktu 4.1 ms Frametime.

Secara sederhananya dalam pembahasan input latency, semakin tinggi FPS atau rendahnya Frametime yang dibutuhkan untuk melakukan proses, maka akan lebih cepat juga waktu yang dibutuhkan untuk input bisa diproses ke response.

Apakah ini artinya, semua game seharusnya berjalan di 120 FPS untuk bisa mendapatkan input latency yang lebih baik tersebut? Di konteks gaming, belum tentu, dikarenakan ada game yang membutuhkan timing tertentu untuk bisa berjalan dengan lancar, seperti misalnya tipe game fighting yang sudah fix berada di 60 FPS, dan ada juga game yang secara spesfik di-tune untuk berjalan di 30 FPS secara konstan (contoh: Death Stranding).

Namun demikian, untuk game yang lebih baik berjalan di FPS tinggi ini, umumnya ada pada tipe game dengan genre First Person Shooter yang terlihat lebih jelas seperti apa manfaat dari kegunaan high-framerate, baik game first person shooter story-based, atau competitive multiplayer battle royale.

FPS vs Refresh Rate (hz)

Lantas, apa bedanya FPS dengan Refresh Rate? Secara umum, refresh rate ini yang istilahnya digunakan untuk sebuah monitor, merupakan proses di mana monitor tersebut menggambar hasil dari image yang diproses oleh PC tersebut.

Lewat ilustrasi yang kami berikan pada gambar di atas, sedikit menjelaskan bagaimana refresh rate ini memiliki hubungan terhadap FPS, di mana idealnya besar FPS pada PC harus berbanding lurus dengan besar refresh rate pada monitor untuk mendapatkan hasil gambar dan visual feedback yang paling maksimal.

Kondisi yang biasanya terjadi ketika Framerate memiliki angka yang lebih besar dibandingkan dengan Refresh Rate, adalah fenomena yang disebut sebagai Screen Tearing. Hal ini terjadi karena banyaknya frame yang diproses oleh game sementara monitor belum selesai memproses refresh image tersebut untuk bisa memberikan hasil yang lebih mulus, sehingga terlihat seperti ada frame yang “tersangkut” saat melakukan pergerakan di game.

Namun secara unik, ketika game berjalan di FPS yang sangat tinggi, screen tearing ini memang tidak hilang tetapi terlihat “lebih halus” karena terminimalisasi dari begitu tingginya FPS yang terjadi.

Untuk mencegah screen tearing ini, bisa dilakukan dengan menyalakan V-SYNC sehingga GPU dan game akan terlimitasi untuk mengeluarkan frame saat monitor melakukan refresh, di mana hal ini akan lebih cocok dilakukan pada game yang bukan competitive game. Namun menyalakan V-SYNC ini akan menambahkan input latency sehingga banyak juga para gamer competitive kurang menyukai fitur ini ketika dipakai bermain game.

Sayangnya, V-SYNC ini sendiri bukanlah solusi optimal untuk competitive gaming. Tapi bisa diakali dengan menggunakan G-SYNC pada sistem NVIDIA. Dengan menyalakan G-SYNC ini, maka sistem ini memungkinkan monitor untuk membaca framerate yang dihasilkan oleh GPU, sehingga monitor pun bisa menyesuaikan refresh rate sesuai dengan framerate yang dikerjakan oleh GPU. Sistem ini juga akan meminimalisasi terjadinya tearing dan input latency tidak bertambah.

Untuk pembahasan yang lebih lengkap dan jelas, simak selengkapnya pada video tentang FPS sebagai berikut:

Tags:

Share This:

Comments

RANDOM ARTICLES