<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jagat Review &#187; drama</title>
	<atom:link href="http://www.jagatreview.com/tag/drama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jagatreview.com</link>
	<description>Jagat Review is a review website that focused on consumer goods, hardware, technology updates, geek culture and everything in-between</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 May 2013 03:00:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>[Trailer] Red Dawn: Film Remake Perang Antara AS dan Korea Utara</title>
		<link>http://www.jagatreview.com/2012/08/trailer-red-dawn-film-remake-perang-antara-as-dan-korea-utara/</link>
		<comments>http://www.jagatreview.com/2012/08/trailer-red-dawn-film-remake-perang-antara-as-dan-korea-utara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Aug 2012 07:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ernest Dimitria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movies]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Korea Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Red Dawn]]></category>
		<category><![CDATA[remake]]></category>
		<category><![CDATA[trailer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jagatreview.com/?p=158855</guid>
		<description><![CDATA[Breaking news! Amerika Serikat diserang oleh Korea Utara dan harapan akan kemerdekaan bersandar di pundak sekelompok remaja. Itulah plot yang diangkat dalam film Red Dawn. Berikut trailer pertama yang dirilis!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Breaking news! </em>Amerika Serikat diserang oleh Korea Utara dan harapan akan kemerdekaan bersandar di pundak sekelompok remaja. Itulah <em>plot</em> yang diangkat dalam <em>Red Dawn</em>, sebuah <em>remake </em>dari film keluaran 1984 dengan judul yang sama.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/08/Red-Dawn-Poster.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-158856" title="Red Dawn (Poster)" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/08/Red-Dawn-Poster-405x600.jpg" alt="" width="405" height="600" /></a></p>
<p>Satu perubahan yang paling menonjol dalam <em>remake</em> ini adalah pemilihan negara penjajahnya. Dalam versi aslinya, Amerika Serikat diserang oleh Uni Soviet dan sekutunya. Namun, MGM melakukan sedikit modifikasi dengan menonjolkan negara komunis lainnya melalui poster <em>Red Dawn</em> yang memperlihatkan simbol People’s Liberation Army. Langkah tersebut mendapat kecaman keras dari media di China.</p>
<p>Disusul dengan masalah finansial yang terjadi, MGM terpaksa memundurkan tanggal rilis <em>Red Dawn</em> dan melakukan sejumlah modifikasi. Alhasil, pada bulan Maret 2011, MGM mengumumkan perubahan penggunaan tokoh antagonis, dari China menjadi Korea Utara. Lebih dari satu tahun setelahnya, trailer pertama film <em>remake</em> tersebut dirilis.</p>
<p><object width="560" height="315" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/nGoe7BdGdlg?version=3&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="560" height="315" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/nGoe7BdGdlg?version=3&amp;hl=en_US" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<p><em>Red Dawn </em>kali ini dibintangi oleh Chris Hemsworth (<a href="http://www.jagatreview.com/2012/06/snow-white-and-the-huntsman-interpretasi-dongeng-klasik-yang-penuh-aksi/"><em>Snow White and the Huntsman</em></a>) yang memerankan Jed Eckert, sang pemimpin kelompok remaja pejuang yang diramaikan oleh Josh Hutcherson (<a href="http://www.jagatreview.com/2012/02/journey-2-the-mysterious-island/"><em>Journey 2: The Mysterious Island</em></a>), Adrianne Palicki (<em>Legion</em>), Isabel Lucas <em>(Immortals</em>), dan Josh Peck (<a href="http://www.jagatreview.com/2012/07/bajak-laut-hiasi-proses-terbaginya-benua-dalam-ice-age-4-continental-drift/"><em>Ice Age: Continental Drift</em></a>).</p>
<p>Kursi sutradara diisi oleh Dan Bradley yang memiliki pengalaman sebagai <em>second unit director</em> dan koordinator <em>stunt</em> dalam film-film laga besar, seperti <em>The Bourne Ultimatum </em>dan <em>Quantum of Solace</em>. Dan pun didampingi oleh Carl Elsworth, penulis naskha <em>Red Eye </em>dan <em>Disturbia</em> yang juga menulis ulang naskah <em>Red Dawn</em>.</p>
<p><em>Red Dawn </em>akan dirilis pada tanggal 21 November 2012 di Amerika Serikat dan menyusul di negara-negara lain. Apakah pengalaman kedua sutradara dan rangkaian aktor muda yang menghiasi <em>Red Dawn</em> merupakan bumbu film laga <em>remake </em>yang jitu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jagatreview.com/2012/08/trailer-red-dawn-film-remake-perang-antara-as-dan-korea-utara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>What to Expect When You&#8217;re Expecting: Lebih dari Sekadar Komedi Romantis</title>
		<link>http://www.jagatreview.com/2012/07/what-to-expect-when-youre-expecting-lebih-dari-sekedar-komedi-romantis/</link>
		<comments>http://www.jagatreview.com/2012/07/what-to-expect-when-youre-expecting-lebih-dari-sekedar-komedi-romantis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2012 04:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ernest Dimitria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movies]]></category>
		<category><![CDATA[Book adaptation]]></category>
		<category><![CDATA[Brooklyn Decker]]></category>
		<category><![CDATA[Cameron Diaz]]></category>
		<category><![CDATA[Chace Crawford]]></category>
		<category><![CDATA[Chris Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Dennis Quaid]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[Elizabeth Banks]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[jagatreviews]]></category>
		<category><![CDATA[Jennifer Lopez]]></category>
		<category><![CDATA[Kirk Jones]]></category>
		<category><![CDATA[lionsgate]]></category>
		<category><![CDATA[Rodrigo Santoro]]></category>
		<category><![CDATA[Rom-com]]></category>
		<category><![CDATA[Romantic Comedy]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas Lennon]]></category>
		<category><![CDATA[What to Expect When You're Expecting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jagatreview.com/?p=154838</guid>
		<description><![CDATA[What to Expect When You’re Expecting menceritakan tentang kehidupan lima pasangan yang hidupnya terombang-ambing selama menunggu kedatangan bayi mereka. Apa yang bisa Anda harapkan dari drama komedi romantis bertabur bintang ini?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/what_to_expect_when_youre_expecting_2012_poster_01.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-154841" title="what_to_expect_when_you're_expecting_(2012)_poster_01" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/what_to_expect_when_youre_expecting_2012_poster_01-405x600.jpg" alt="" width="405" height="600" /></a></p>
<p><em>What to Expect When You’re Expecting</em>? <em>A lot</em>! Sayangnya, Anda tidak dapat mengharapkan terlalu banyak tawa ketika menonton film garapan Kirk Jones <em>(Everybody’s Fine</em>) yang diinspirasi oleh buku panduan kehamilan karya Heidi Murkoff dan Sharon Maze.</p>
<p>Film ini menceritakan tentang kehidupan lima pasangan yang hidupnya terombang-ambing selama menunggu kedatangan bayi mereka. Jules (Cameron Diaz) dan Evan (Matthew Morrison) menemukan bahwa tuntutan kehamilan memaksa mereka untuk meninggalkan kehidupan selebriti.  Wendy (Elizabeth Banks), seorang penulis buku anak, merasakan kejamnya pengaruh hormon saat hamil. Di saat yang sama, suami Wendy, Gary (Ben Falcone), dihadapkan dengan tantangan bertubi-tubi dari ayahnya, Ramsey (Dennis Quaid), yang juga menunggu kelahiran anaknya dengan istri mudanya, Skylar (Brooklyn Decker). Holly (Jennifer Lopez) bersiap pergi ke Afrika untuk mengadopsi anak, sedangkan suaminya, Alex (Rodrigo Santoro), tertahan perasaan tidak siap. Yang terakhir, pasangan Rosie (Anna Kendrick) dan Marco (Chace Crawford) yang dikagetkan oleh kehamilan setelah <em>one night stand</em>.</p>
<p><object width="560" height="315" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/DGeZ0NbTOpM?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="560" height="315" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/DGeZ0NbTOpM?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<p>Seperti yang Anda lihat sendiri, <em>What to Expect When You’re Expecting</em> dibanjiri oleh bintang-bintang Hollywood yang tentunya sudah tidak asing lagi. Sayangnya, saya selalu berprasangka buruk ketika melihat film dengan tingkat komersialisasi bintang seperti ini, apalagi film ini memancarkan aura <em>romantic comedy</em>.</p>
<p>Kebanyakan film yang menggunakan dua unsur tadi justru menyuguhkan tontonan dengan kualitas di bawah rata-rata. Perbandingan antara kualitas cerita dan jumlah bintang yang meramaikan film tersebut terasa timpang. Sebut saja film seperti <em>Valentine’s Day</em> dan <em>New Year’s Eve</em> yang mendapat <em>rating</em> di bawah 20% dari Rotten Tomatoes. Bahkan penilaian terhadap <em>Smoking Aces</em> pun tidak berbeda jauh dari kisaran tersebut.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/evan_matthew_morrison_and_jules_cameron_diaz.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-154851" title="evan_(matthew_morrison)_and_jules_(cameron_diaz)" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/evan_matthew_morrison_and_jules_cameron_diaz.jpg" alt="" width="600" height="385" /></a></p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/wendy_elizabeth_banks_and_gary_ben_falcone.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-154852" title="wendy_(elizabeth_banks)_and_gary_(ben_falcone)" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/wendy_elizabeth_banks_and_gary_ben_falcone.jpg" alt="" width="600" height="385" /></a></p>
<h2><em>Don&#8217;t Expect Too Much!</em></h2>
<p>Bagaimana dengan<em> What to Expect When You’re Expecting</em>? Apakah film ini sama buruknya? Menurut Rotten Tomatoes, ya! Namun, menurut saya film ini menyuguhkan lebih dari sekadar cerita dan kumpulan selebriti dalam satu layar lebar. Beragam informasi bisa didapat, seperti tanda-tanda kehamilan, informasi mengenai pengaruh hormon terhadap tubuh dan emosi, serta dinamika hubungan pasangan ketika menghadapi kehamilan, proses melahirkan, hingga mengurus anak.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/what_to_expect_when_youre_expecting_2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-154850" title="what_to_expect_when_you're_expecting_(2)" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/what_to_expect_when_youre_expecting_2.jpg" alt="" width="600" height="385" /></a></p>
<p>Dari segi cerita, saya harus mengakui bahwa film ini tidak diawali dengan adegan yang bagus. Bahkan menurut saya, adegan pembuka <em>What to Expect When You’re Expecting</em> justru terkesan murahan. Untungnya, seiring berjalannya cerita, semua drama dan permasalahan mulai bermunculan dan sedikit demi sedikit film ini menunjukkan kualitasnya. Dari ekspektasi keindahan kehamilan yang dilibas oleh realita, ketakutan yang mempersatukan dua insan, optimisme yang kerap memunculkan masalah, kebimbangan yang hendak dikubur dengan pengalaman, hingga perasaan bahagia ketika harus menjalani semuanya.</p>
<p><em>Totally not a dude flick</em>, tetapi film ini dapat memberikan gambaran dari berbagai sudut pandang mengenai kehamilan dan dapat memunculkan beragam perasaan.  Satu hal yang perlu diperhatikan, film ini pantas diklaim memiliki unsur komedi berkat bantuan sekelompok ayah yang disebut “The Dudes”. Mereka terdiri dari Vic (Chris Rock), Gabe (Rob Huebel), Patel (Amir Talai), dan Craig (Thomas Lennon). Lennon kembali dipersatukan kembali dengan salah satu rekan di <em>Reno 911</em>, Wendi McLendon-Covey, yang kali ini berperan sebagai istrinya.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/vic_chris_rock_left_and_alex_rodrigo_santoro_right.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-154843" title="vic_(chris_rock,_left)_and_alex_(rodrigo_santoro,_right)" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/vic_chris_rock_left_and_alex_rodrigo_santoro_right.jpg" alt="" width="600" height="385" /></a></p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/vic_chris_rock_left_and_craig_tom_lennon_right.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-154846" title="vic_(chris_rock,_left)_and_craig_(tom_lennon,_right)" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/vic_chris_rock_left_and_craig_tom_lennon_right.jpg" alt="" width="600" height="385" /></a></p>
<p>Keempat pria tersebut membawa anak masing-masing dan bertemu di taman setiap akhir pekan. Dalam film ini, mereka lah yang mencoba membuka mata Alex terhadap keindahan memiliki seorang anak. Namun, mereka justru lebih banyak menceritakan pengalaman yang konyol, ditambah dengan aksi menghibur dari anak Vic. Satu lagi aktris yang berhasil menambahkan bumbu komedi dalam <em>What to Expect When You’re Expecting </em>adalah Rebel Wilson yang menyuguhkan beragam ekspresi dan dialog aneh yang cukup menghibur.</p>
<p><em>What to Expect When You’re Expecting </em>tentunya akan lebih menarik hati para wanita. Namun, dengan beragam informasi yang dapat dipetik dan adegan-adegan menghibur dari The Dudes, film ini pun dapat dijadikan pilihan hiburan di akhir pekan bersama pasangan. Ingat saja, Anda tidak dapat mengharapkan drama berkualitas dari film-film seperti ini.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/skyler_brooklyn_decker_and_ramsey_dennis_quaid.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-154848" title="skyler_(brooklyn_decker)_and_ramsey_(dennis_quaid)" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/skyler_brooklyn_decker_and_ramsey_dennis_quaid.jpg" alt="" width="600" height="385" /></a></p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/rosie_anna_kendrick_and_marco_chace_crawford.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-154849" title="rosie_(anna_kendrick)_and_marco_(chace_crawford)" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/07/rosie_anna_kendrick_and_marco_chace_crawford.jpg" alt="" width="600" height="385" /></a></p>
<p>Kesimpulannya, saya tidak dapat mengatakan saya kecewa terhadap film <em>What to Expect When You’re Expecting</em>, berhubung ekspektasi saya terhadap film serupa pun sangat rendah. Saya justru dapat mengatakan bahwa film ini melampaui ekspektasi saya walau tidak terlalu jauh. Penilaian 23% yang diberikan Rotten Tomatoes pun menurut saya cukup pantas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tanggal rilis:</strong><br />
18 Mei 2012 (Amerika Serikat)</p>
<p><strong>Genre:</strong><br />
Drama,<em> </em>Roman, Komedi</p>
<p><strong>Durasi:</strong><br />
110 menit</p>
<p><strong>Sutradara:</strong><br />
Kirk Jones</p>
<p><strong>Pemain:</strong><br />
Cameron Diaz, Brooklyn Decker, Jennifer Lopez, Elizabeth Banks, Dennis Quaid, Chris Rock</p>
<p><strong>Studio:</strong><br />
Lionsgate, Alcon Entertainment</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jagatreview.com/2012/07/what-to-expect-when-youre-expecting-lebih-dari-sekedar-komedi-romantis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Flowers of War: Drama Sejarah Penuh Tangis dan Darah</title>
		<link>http://www.jagatreview.com/2012/06/the-flowers-of-war-drama-sejarah-penuh-tangis-dan-darah/</link>
		<comments>http://www.jagatreview.com/2012/06/the-flowers-of-war-drama-sejarah-penuh-tangis-dan-darah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jun 2012 04:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ernest Dimitria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movies]]></category>
		<category><![CDATA[Christian Bale]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[jagatreviews]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[The Flowers of War]]></category>
		<category><![CDATA[Yimou Zhang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jagatreview.com/?p=152577</guid>
		<description><![CDATA[Ketika film bertema perang lain menonjolkan drama di antara para prajurit—rasa takut, bimbang, kerinduan kepada keluarga, dan solidaritas—The Flowers of War justru menonjolkan sisi yang jarang dieksplorasi di layar lebar. Apa saja sisi yang dimaksud? Seperti apa film tersebut?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/06/the-flowers-of-war-poster02.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-152612" title="the-flowers-of-war-poster02" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/06/the-flowers-of-war-poster02-405x600.jpg" alt="" width="405" height="600" /></a></p>
<p>Ketika film bertema perang lain menonjolkan drama di antara para prajurit—rasa takut, bimbang, kerinduan kepada keluarga, dan solidaritas—<em>The Flowers of War</em> justru menonjolkan sisi yang jarang dieksplorasi di layar lebar. Sisi ketakutan yang dihadapi oleh warga sipil, khususnya kaum hawa, yang harus menghadapi ancaman dari para prajurit yang tidak hanya menjajah negaranya, tetapi bernafsu untuk memerkosa mereka.</p>
<p>Mengambil <em>setting</em> di tengah pendudukan tentara Jepang di Nanking pada tahun 1937, film <em>The Flowers of War</em> berpusat di sebuah gereja dengan seorang warga Amerika bernama John Miller (Christian Bale). John yang merupakan pengusaha pemakaman, datang ke Nanking untuk mengubur pastur yang mengepalai gereja tersebut dan bertemu dengan murid-murid gereja di dalamnya. Tidak lama setelah kedatangannya, sekelompok pelacur flamboyan mendatangi gereja tersebut. Mengingat pada saat itu warga dan institusi asing tidak disentuh oleh tentara Jepang, wanita-wanita tersebut mencari perlindungan di balik John, serta memintanya untuk membawa mereka keluar dari Nanking.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/06/fow1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-152620" title="fow1" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/06/fow1.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p>Dengan bahaya yang menunggu di luar gedung gereja, John menolak permintaan tersebut dan meluangkan sisa hari dengan minuman keras. Keputusan tersebut berubah ketika sekelompok tentara Jepang datang dan mencari wanita-wanita untuk diperkosa. Para pelacur berhasil melarikan diri ke tempat perlindungan di bawah gereja, sedangkan murid-murid gereja tersebut berhasil ditangkap. John yang tanpa sadar telah mengenakan jubah pastur, terbangun oleh kericuhan yang terjadi di luar kamar tidurnya.</p>
<p>Setelah beberapa saat mencari tempat berlindung di dalam lemari pakaian sang pastur, John sadar bahwa ia sedang mengenakan jubah pastur dan terdorong untuk melindungi murid-murid gereja tersebut yang hendak diperkosa. Sayangnya, usahanya saat itu tidak mengurungkan sifat kebinatangan para tentara untuk tetap memerkosa gadis-gadis kecil tersebut. Hingga akhirnya sniper tentara China yang menitipkan temannya yang terluka di gereja tersebut mulai membunuh dan memancing tentara Jepang keluar dari gereja.</p>
<p><object width="560" height="315" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/MV5rw3oTJMw?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="560" height="315" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/MV5rw3oTJMw?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<h2>Horror di Nanking semasa pendudukan Jepang</h2>
<p>Adegan serangan sniper tersebut merupakan satu-satunya aksi baku tembak yang menghiasi <em>The Flowers of War</em> dan dikemas dengan sangat baik. Setelah penonton diajak untuk merasakan ketakutan dan kebencian terhadap kebuasan tentara Jepang ketika mengejar para murid, aksi tentara China ini menjadi padanan yang memuaskan dan melegakan. Namun, kisah tragis para wanita tidak berhenti di situ saja.</p>
<p>Sisa film diisi dengan dinamika hubungan antara para pelacur dengan para siswi yang berawal buruk dan penuh prasangka, pergumulan yang dihadapi George (Tianyuan Huang)—anak asuh sang mendiang pastur—untuk menjaga kedamaian gereja dan melindungi para siswi, serta perjuangan John dalam mencari jalan menuju kebebasan.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/06/the-flowers-of-war04.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-152622" title="the-flowers-of-war04" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/06/the-flowers-of-war04.jpg" alt="" width="600" height="449" /></a></p>
<p><em>The Flowers of War</em> merupakan film drama-sejarah yang penuh dengan adegan yang sulit dicerna. Bukan berarti film ini sulit dimengerti, melainkan adegan-adegan yang disuguhkan menampilkan horror yang harus dihadapi para wanita Nanking semasa pendudukan Jepang. Mereka sama sekali tidak boleh terlihat jika tidak ingin dikejar dan diperkosa secara bergilir oleh tentara Jepang. Tidak hanya itu, beberapa di antaranya yang berhasil kabur atau melawan balik justru dibunuh secara brutal. Bahkan ada yang terbunuh selama proses pemerkosaan berlangsung.</p>
<p>Tentunya, Bale menjadi pemain paling menonjol dalam film ini. Selain menjadi tokoh utama dan satu-satunya “wajah barat” yang tampil hampir di setiap adegan, aktingnya pun terlihat sangat bagus. Transisi dari seorang pemabuk menjadi pahlawan dibawakan dengan sangat baik dan didukung oleh kebolehan pemain-pemain lainnya. Beragam adegan penuh tangis dan kesedihan berhasil memancing emosi penonton.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/06/the-flowers-of-war01.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-152621" title="the-flowers-of-war01" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/06/the-flowers-of-war01.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a></p>
<p>Film ini berhasil meraih nominasi dalam 84th Academy Awards, 69th Golden Globe Awards, dan 6th Asian Film Awards. Prestasi tersebut cukup menunjukkan bahwa <em>The Flowers of War </em>patut ditonton. Saya pribadi sangat menyukai film ini. Selain unsur sejarah yang diangkat, alur cerita dan setiap adegan yang disuguhkan tidak terasa membosankan, serta secara konstan berhasil memancing emosi saya. Namun, perlu diingat bahwa film ini tidak cocok ditonton oleh anak-anak atau mereka yang tidak menyukai film yang penuh dengan air mata. Ini bukan film bertema perang biasa yang penuh dengan aksi baku tembak, tetapi drama-sejarah yang ingin menonjolkan nilai kemanusiaan.</p>
<p><strong>Tanggal rilis:</strong><br />
16 Desember 2011 (China)</p>
<p><strong>Genre:</strong><br />
Drama, sejarah</p>
<p><strong>Durasi:</strong><br />
146 menit</p>
<p><strong>Sutradara:</strong><br />
Yimou Zhang</p>
<p><strong>Pemain:</strong><br />
Christian Bale, Ni Ni, Xinyi Zhang</p>
<p><strong>Studio:</strong><br />
Beijing New Picture Film Co.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jagatreview.com/2012/06/the-flowers-of-war-drama-sejarah-penuh-tangis-dan-darah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>50/50: Kisah Dramatis tentang Penderita Kanker</title>
		<link>http://www.jagatreview.com/2012/04/5050-kisah-dramatis-tentang-penderita-kanker/</link>
		<comments>http://www.jagatreview.com/2012/04/5050-kisah-dramatis-tentang-penderita-kanker/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 04:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lucky Natalia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movies]]></category>
		<category><![CDATA[50/50]]></category>
		<category><![CDATA[Anjelica Huston]]></category>
		<category><![CDATA[Anna Kendrick]]></category>
		<category><![CDATA[Bryce Dallas Howard]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[jagatreviews]]></category>
		<category><![CDATA[Jonathan Levine]]></category>
		<category><![CDATA[Joseph Gordon-Levitt]]></category>
		<category><![CDATA[Mandate Pictures]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[Serge Houde]]></category>
		<category><![CDATA[Seth Rogen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jagatreview.com/?p=145013</guid>
		<description><![CDATA[Berada di umur 20 something dan mengidap kanker bukanlah hal yang diinginkan siapa pun. Namun, ketika itu semua terjadi, seperti apa perasaan sang pengidap? Bagaimana ia menjalani hari-hari beratnya? Film ini memaparkan semuanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana rasanya jika suatu hari Anda mengetahui bahwa sakit yang sering Anda rasakan adalah kanker, padahal saat itu Anda belum mencapai umur 30 tahun dan masih berstatus<em> single</em>? Semua orang tidak ada yang mau mendengar kata “kanker” di sepanjang hidupnya. Namun, jika itu benar-benar terjadi, apa yang akan terjadi dengan hidup Anda?</p>
<p>Film yang sebenarnya telah rilis tahun lalu ini berkisah mengenai perjuangan seorang pria yang didiagnosis mengidap kanker tulang belakang. Kisah ini sendiri diadaptasi dari pengalaman pribadi sang penulis naskah, Will Reiser, yang adalah sahabat Seth Rogen, salah satu pemain sekaligus produser film ini. Berdasarkan pengalaman Reiser, keduanya memutuskan untuk mengangkat kisah ini ke layar lebar dan membumbuinya dengan sedikit unsur komedi. Hhmm, film mengenai perjuangan hidup melawan penyakit dengan sentuhan komedi? <em>Let’s give this film a try&#8230;</em></p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/2012/04/5050-kisah-dramatis-tentang-penderita-kanker/50-50-poster/" rel="attachment wp-att-145015"><img class="aligncenter size-medium wp-image-145015" title="50-50-Poster" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/04/50-50-Poster-405x600.jpg" alt="" width="405" height="600" /></a></p>
<p>Film berjudul <em>50/50</em> ini berkisah mengenai kehidupan Adam Lerner (Joseph Gordon-Levitt), seorang jurnalis radio berumur 27 tahun. Adam mengetahui bahwa ia mengidap kanker langka ketika sebelumnya ia mengalami sakit berkelanjutan di bagian tulang belakangnya. Adam berusaha menerima keadaannya dengan perasaan tenang dan meyakinkan dirinya bahwa keadaannya akan baik-baik saja. Ia pun rutin melakukan kegiatan-kegiatan barunya, kemoterapi dan bertemu terapis. Selama melakukan itu semua, Adam hanya mendapatkan dukungan dari sahabatnya, Kyle (Seth Rogen) dan pacarnya, Rachel (Bryce Dallas Howard), sedangkan ibunya (Anjelica Huston) sudah terlalu sibuk mengurusi ayahnya (Serge Houde) yang mengidap dementia. Melalui informasi yang didapat dari Internet, Adam mengetahui bahwa kemungkinan hidupnya 50:50 dengan melakukan operasi pengangkatan tumor.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/2012/04/5050-kisah-dramatis-tentang-penderita-kanker/attachment/5050/" rel="attachment wp-att-145016"><img class="aligncenter size-medium wp-image-145016" title="5050" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/04/5050-600x375.jpg" alt="" width="600" height="375" /></a></p>
<p>Mengidap sebuah penyakit mematikan bukanlah hal yang mudah bagi Adam. Ia kesulitan mengekspresikan perasaan-perasaannya bahkan kepada terapisnya, Katherine (Anna Kendrick), yang membuat hubungan keduanya tidak begitu mulus di awal. Hidup Adam semakin suram ketika Kyle memergoki Rachel selingkuh dengan pria lain. Bersama satu-satunya orang yang ia percaya, Kyle, Adam menjalani hari-harinya untuk melawan penyakitnya.</p>
<h2><em>Is This a Drama-Comedy Film?</em></h2>
<p>Saya setuju jika film ini dikategorikan ke dalam genre drama. Namun, komedi? <em>Seriously</em>? Selama menyaksikan film ini, saya cukup terlarut dalam perasaan sang tokoh utama, Adam Lerner, dan beberapa kali menghela napas berat dan menahan tetesan air mata. Jadi, di mana letak unsur komedinya?</p>
<p>Ketika mengetahui keberadaan komedian Seth Rogen di film ini, saya pun sempat menerka-nerka apakah film ini akan dipenuhi unsur komedi seperti film-film Rogen pada umumnya. Apalagi, komedian tersebut tidak hanya berperan sebagai pemain saja, melainkan juga sebagai produser. Sayangnya, unsur komedi yang dimaksudkan Rogen di film ini tidak berhasil dieksekusi dengan baik karena unsur dramanya terlalu kuat. Akting Joseph Gordon-Levitt sebagai penderita kanker—didukung dengan <em>make up</em> dan gaya plontosnya—yang depresi dan mengalami tekanan batin terlalu kuat untuk disejajarkan dengan lelucon-lelucon yang dilempar lawan mainnya. Beberapa lelucon yang ada di film ini saya anggap sebagai pemanis dan pencair suasana, tetapi tidak terlalu kuat untuk membuat film ini dikategorikan sebagai film komedi.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/2012/04/5050-kisah-dramatis-tentang-penderita-kanker/50-50-movie/" rel="attachment wp-att-145014"><img class="aligncenter size-full wp-image-145014" title="50-50-Movie" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/04/50-50-Movie.jpg" alt="" width="480" height="320" /></a></p>
<p>Film ini justru terlihat memfokuskan diri ke pergulatan batin yang dialami Adam Lerner dan usahanya untuk menguasai emosi-emosinya dalam menghadapi penyakit dan masalah hidupnya. Film ini bukanlah film dengan kisah inspiratif yang bisa membuat siapa pun yang menontonnya tergugah untuk semakin memotivasi diri untuk kuat menghadapi cobaan hidup yang lebih ringan dari penyakit kanker. Film ini lebih bersifat deskriptif yang akan membuat penonton merasakan kesedihan, kekecewaan, kesendirian, dan keputusasaan yang dialami sang tokoh utama. Film ini juga menonjolkan unsur kesetiaan yang ditunjukkan Kyle saat menemani Adam di saat-saat terberatnya.</p>
<p>Jika Anda menyukai film-film bergenre drama yang akan membuat mata Anda basah sepanjang film berlangsung, 50/50 adalah pilihan yang tepat.</p>
<p><strong>Tanggal rilis:<br />
</strong>30 September 2011 (Amerika)</p>
<p><strong>Genre:<br />
</strong>Drama</p>
<p><strong>Durasi:<br />
</strong>100 menit</p>
<p><strong>Sutradara:<br />
</strong>Jonathan Levine</p>
<p><strong>Pemain:<br />
</strong>Joseph Gordon-Levitt, Seth Rogen, Anna Kendrick, Bryce Dallas Howard, Anjelica Huston</p>
<p><strong>Studio:<br />
</strong>Mandate Pictures</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jagatreview.com/2012/04/5050-kisah-dramatis-tentang-penderita-kanker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Artist: Film Melodramatik Tanpa Dialog dari Prancis</title>
		<link>http://www.jagatreview.com/2012/02/the-artist-melodramatik-tanpa-dialog-dari-prancis/</link>
		<comments>http://www.jagatreview.com/2012/02/the-artist-melodramatik-tanpa-dialog-dari-prancis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 04:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lucky Natalia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movies]]></category>
		<category><![CDATA[ARP Selection]]></category>
		<category><![CDATA[Bérénice Bejo]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[film bisu]]></category>
		<category><![CDATA[jagatreviews]]></category>
		<category><![CDATA[James Cromwell]]></category>
		<category><![CDATA[Jean Durjadin]]></category>
		<category><![CDATA[John Goodman]]></category>
		<category><![CDATA[La Petite Reine]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[The Artist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jagatreview.com/?p=132322</guid>
		<description><![CDATA[Michel Hazanavicius menyajikan sebuah tontonan yang sangat tidak biasa: sebuah film bisu! Seperti apakah film ini, mulai dari jalan cerita hingga kualitas plot dan pemain-pemainnya? Simak review berikut!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah Anda menyaksikan film bisu yang pernah populer di industri perfilman di era 1920-an? Saya pribadi hanya bisa mengingat-ingat dengan samar penampilan Charlie Chaplin dengan pantomimnya yang sangat jenius dan mimiknya yang membuatnya begitu berkarakter meskipun tidak mengucap sepatah kata pun. Selain itu, film bisu sangatlah asing bagi saya.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-132324" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/the-artist-melodramatik-tanpa-dialog-dari-prancis/the-artist-movie-poster/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-132324" title="the-artist-movie-poster" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/the-artist-movie-poster-404x600.jpg" alt="" width="404" height="600" /></a></p>
<p><em>The Artist</em> menjadi salah satu film yang bisa dibilang brilian di penghujung 2011. Sang Sutradara, Michel Hazanavicius, menyajikan film ini dengan cara yang mungkin pernah dipikirkan beberapa sutradara tetapi tidak berani mengeksekusinya: berbentuk film bisu, tanpa suara percakapan, hanya diiringi musik. Film melodrama ini berkisah mengenai kehidupan aktor di era film bisu, George Valentin (Jean Durjadin), yang mendapatkan ketenarannya sebagai aktor film bisu. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Peppy Miller (Bérénice Bejo), salah satu penggemar beratnya, yang menciumnya dan adegan tersebut berhasil diabadikan dan dipublikasikan oleh pers. Peppy kemudian melanjutkan karirnya sebagai figuran di beberapa film dan sempat kembali bertemu dengan George. Mereka pun sempat mengalami cinta lokasi.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-132325" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/the-artist-melodramatik-tanpa-dialog-dari-prancis/video-artist-anatomy-articlelarge-v2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-132325" title="video-artist-anatomy-articleLarge-v2" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/video-artist-anatomy-articleLarge-v2.jpg" alt="" width="600" height="338" /></a></p>
<p>Ketika era film bisu berakhir, studio tempat George bernaung banting setir memproduksi film-film “bersuara”. Sebagai aktor kawakan, George menolak perubahan tersebut dan mencoba membuat film bisunya sendiri. Ketika itu semua terjadi, Peppy Miller sedang menjajaki karirnya dan semakin tampil gemilang setelah era “bersuara” muncul. Di sinilah konflik dalam kehidupan George dan Peppy mulai terpampang. Keduanya berada di bidang yang sama tetapi dengan idealisme yang berbeda. Siapakah yang akan bertahan pada akhirnya? Apakah hubungan romantis yang pernah terjadi di antara keduanya akan bersemi kembali?</p>
<h2><strong>Otentik dan Bergelimangan Penghargaan!</strong></h2>
<p>Tidak heran jika film ini mendapatkan sambutan yang luar biasa di penayangan perdananya di Festival Film Cannes 2011. Bahkan, sang aktor utama, Jean Durjadin, mendapatkan penghargaan sebagai Aktor Terbaik. Satu faktor penting yang harus dimiliki film bisu adalah mimik dan ekspresi para pemainnya yang sempurna—karena penonton mendapatkan pemahaman dan “feel” dari tiap adegan hanya dari mimik dan ekspresi—dan film ini memilikinya! Tidak ada satu penonton pun yang akan melepaskan pandangan dan rasa kagum mereka melihat penampilan Jean dan Bérénice yang begitu <em>all out.</em> Chemistry di antara keduanya terjalin dengan baik dan mereka menunjukkan bakat mereka tidak hanya sebagai aktor dan aktris, melainkan juga dalam hal menari! Aspek lainnya, seperti <em>lighting,</em> sinematografi, musik, dan lainnya pun terasa tanpa cacat. Penonton seperti disuguhi film bisu yang benar-benar berasal dari era-nya,  bukan film yang dikondisikan seperti era yang pernah ada.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-132323" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/the-artist-melodramatik-tanpa-dialog-dari-prancis/esq-the-artist-tuxedos-112211-xlg/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-132323" title="esq-the-artist-tuxedos-112211-xlg" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/esq-the-artist-tuxedos-112211-xlg-307x600.jpg" alt="" width="307" height="600" /></a></p>
<p>Film ini berhasil meraih nominasi terbanyak (enam nominasi) di penghargaan Golden Globe ke-69 dan berhasil memenangi tiga di antaranya, yaitu Best Motion Picture – Musical and Comedy, Best Original Score, Best Actor – Motion Picture Musical or Comedy. Selain itu, film ini juga berhasil memenangi tujuh penghargaan di BAFTA (dari total 12 nominasi), dan 10 nominasi Academy Awards. Di Prancis, film ini mendapatkan 10 nominasi dalam Cesar Awards.</p>
<p>Film ini mengandung banya aspek yang membuatnya kuat. <em>The Artist</em> berhasil menyuguhkan tontonan yang tidak hanya berfokus ke kisah cinta, melainkan juga mengenai perjuangan dan nilai-nilai kehidupan. Salah satu film yang harus masuk ke dalam “daftar film yang harus ditonton tahun ini”!</p>
<p><strong>Tanggal rilis:<br />
</strong>12 Oktober 2011 (Prancis)</p>
<p><strong>Genre:<br />
</strong>drama</p>
<p><strong>Durasi:<br />
</strong>100 menit</p>
<p><strong>Sutradara:<br />
</strong>Michel Hazanavicius</p>
<p><strong>Pemain:<br />
</strong>Jean Durjadin, Bérénice Bejo, John Goodman, James Cromwell</p>
<p><strong>Studio:<br />
</strong>La Petite Reine<br />
ARP Sélection</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jagatreview.com/2012/02/the-artist-melodramatik-tanpa-dialog-dari-prancis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Ides of March: Antara Idealisme atau Bertahan Hidup</title>
		<link>http://www.jagatreview.com/2012/02/the-ides-of-march-antara-idealisme-atau-bertahan-hidup/</link>
		<comments>http://www.jagatreview.com/2012/02/the-ides-of-march-antara-idealisme-atau-bertahan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 04:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lucky Natalia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movies]]></category>
		<category><![CDATA[Appian Way Production]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[George Clooney]]></category>
		<category><![CDATA[jagatreviews]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Giamatti]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ryan Gosling]]></category>
		<category><![CDATA[Smokehouse Pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jagatreview.com/?p=131502</guid>
		<description><![CDATA[George Clooney kembali duduk di bangku sutradara (juga sebagai penulis naskah dan salah satu tokoh utama) di film terbarunya, The Ides of March. Bagaimana penampilannya di film drama bertema politik ini?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini bukan film adaptasi dari peristiwa pengkhianatan yang dilakukan Marcus Junius Brutus terhadap Julius Caesar yang membuat pemimpin Roma tersebut terbunuh pada 15 Maret 44 Sebelum Masehi (penanggalan Romawi). Namun, film ini mungkin merepresentasikan hal yang sama: permainan politik.</p>
<p><em>The Ides of March</em> berkisah mengenai perjuangan seorang Manajer Deputi Kampanye, Stephen Meyer (Ryan Gosling), dalam mengumpulkan suara untuk Gubernur Pennsyvania dari Partai Demokrat, Mike Morris (George Clooney) di negara bagian Ohio. Berbeda dengan cara kerja Stephen, kubu berseberangan, yaitu dari Partai Republik, Ted Pullman (Michael Mantell), menggunakan cara-cara tertentu untuk mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya, termasuk mengiming-imingi jabatan kepada salah satu senator yang memiliki delegasi yang cukup besar di Ohio.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-131505" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/the-ides-of-march-antara-idealisme-atau-bertahan-hidup/the-ides-of-march-poster1/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-131505" title="the-ides-of-march-poster1" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/the-ides-of-march-poster1-405x600.jpg" alt="" width="405" height="600" /></a></p>
<p>Stephen bekerja cukup “bersih” sampai akhirnya perlahan ia mengetahui hal di balik kewibawaan Morris. Ia pun mengambil sebuah tindakan bodoh yang membuat karirnya di dunia politik terancam. Dunia politik pun menguji Stephen: apakah ia akan tetap berpegang teguh kepada idealismenya atau beradaptasi dengan lingkungan dan menjadi sosok yang sama seperti politisi lainnya?</p>
<h2><strong>Gambaran Dunia Politik yang Sebenarnya</strong></h2>
<p>Menyaksikan <em>The Ides of March</em> seakan-akan seperti menyaksikan kenyataan yang terjadi di dunia politik di belahan dunia mana pun. Konspirasi, saling menjegal, sampai bermain “kotor” sudah menjadi hal yang dianggap biasa di bidang yang banyak dibilang sebagai dunia yang paling kejam tersebut. Menariknya, Clooney menyajikan semua itu dengan sangat berkelas.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-131506" style="border-style: initial; border-color: initial;" title="The-Ides-of-March-George-Clooney" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/The-Ides-of-March-George-Clooney.jpg" alt="" width="570" height="305" /></p>
<p>Ini memang bukan pertama kalinya Clooney menyutradarai sebuah film. <em>The Ides of March</em> merupakan film kelima yang ia sutradarai dan film ketiga di mana Clooney menjadi sutradara, penulis naskah, dan pemeran utama sekaligus. Setelah sukses dengan salah satu filmnya, <em>Good Night and Good Luck</em> (2005), Clooney berhasil mengulang kesuksesannya tersebut berkat tangan dinginnya di film ini.</p>
<p>Film ini sebenarnya tidak memfokuskan diri ke karakter Mike Morris, melainkan ke karakter Stephen Meyer, sosok muda yang mencoba peruntungan di dunia politik. Di film ini, kita seakan bisa melihat konflik batin yang dihadapi setiap orang yang baru terjun ke dunia politik: memertahankan idealisme atau menyelamatkan “kepala”nya sendiri dengan menghalalkan segala cara. Bahkan, salah satu karakter di film ini, Tom Duffy (Paul Giamatti), menasihati Meyer untuk segera keluar dari dunia itu sebelum ia akhirnya berubah menjadi sosok yang manipulatif dan sinis seperti dirinya dan kebanyakan politisi yang ada di dunia.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-131507" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/the-ides-of-march-antara-idealisme-atau-bertahan-hidup/ides-of-march/"><img class="aligncenter size-full wp-image-131507" title="ides-of-march" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/ides-of-march.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p>Saya sedikit kaget ketika menyadari bahwa akting Gosling di sini berhasil mengungguli aktor-aktor senior yang juga tampil cemerlang. Membuat saya salah memperkirakan bahwa Clooney-lah yang akan menjadi bintang di film ini.</p>
<p><em>The Ides of March</em> memang bukan jenis film yang sepenuhnya bisa dijadikan media hiburan. Bagi Anda yang menyukai film-film berbobot dengan tema yang cukup spesifik, film ini dijamin akan memuaskan Anda.</p>
<p><strong>Tanggal rilis:<br />
</strong>7 Oktober 2011 (USA)</p>
<p><strong>Genre:<br />
</strong>drama</p>
<p><strong>Durasi:<br />
</strong>101 menit</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sutradara:<br />
</strong>George Clooney</p>
<p><strong>Pemain:<br />
</strong>George Clooney, Ryan Gosling, Philip Seymour Hoffman, Paul Giamatti, Maria Tomei, Jeffrey Wright, Evan Rachel Wood</p>
<p><strong>Studio:<br />
</strong>Smokehouse Pictures<br />
Appian Way Production</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jagatreview.com/2012/02/the-ides-of-march-antara-idealisme-atau-bertahan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bila: Drama Remaja Spesial Valentine</title>
		<link>http://www.jagatreview.com/2012/02/bila-drama-remaja-spesial-valentine/</link>
		<comments>http://www.jagatreview.com/2012/02/bila-drama-remaja-spesial-valentine/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 04:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lucky Natalia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movies]]></category>
		<category><![CDATA[Ajun Perwira]]></category>
		<category><![CDATA[Bila]]></category>
		<category><![CDATA[Chiska Doppert]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[film Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jagatreviews]]></category>
		<category><![CDATA[Karina Meita Permatasari]]></category>
		<category><![CDATA[Maxima Pictures]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[Shalvynne]]></category>
		<category><![CDATA[Stefan William]]></category>
		<category><![CDATA[valentines'day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jagatreview.com/?p=131442</guid>
		<description><![CDATA[Mencari tontonan ringan bertema drama mendekati hari kasih sayang? Mungkin film yang satu ini bisa menjadi pilihan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Budaya hari kasih sayang atau yang lebih populer disebut Valentine’s Day tidak hanya gencar dirayakan di negara-negara Barat. Indonesia—entah sejak kapan—juga selalu tidak ingin ketinggalan merayakan hari kasih sayang sedunia tersebut. Salah satu caranya adalah merilis film-film berbau drama romantis, salah satunya film yang satu ini, <em>Bila</em>.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-131444" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/bila-drama-remaja-spesial-valentine/43fb3k_bila-poster-1-boleh-_320x480/"><img class="aligncenter size-full wp-image-131444" title="43fB3K_Bila-Poster-1.boleh-_320x480" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/43fB3K_Bila-Poster-1.boleh-_320x480.jpg" alt="" width="320" height="480" /></a></p>
<p><em>Bila</em> merupakan film dram romantis remaja yang berkisah mengenai dua orang bernama Bila (Shalvynne) dan Dani (Stefan William). Bila menyukai Dani dan selalu berangan-angan untuk bisa menjadi pacar Dani. Namun, Bila tidak sendiri. Sahabatnya, Shosana, juga menyimpan perasaan yang sama kepada Dani. Oleh karena satu dan lain hal, Bila dan Dani semakin dekat dan akhirnya mereka berpacaran. Namun, karena satu peristiwa, Bila dan Dani harus mengakhiri hubungan mereka dan menjalani hidup mereka masing-masing hingga mereka beranjak dewasa. Apakah perasaan keduanya masih sama ketika mereka kembali bertemu beberapa tahun kemudian?</p>
<p><strong>Drama Romantis yang “Cheesy”</strong></p>
<p>“Mengapa Indonesia kebanyakan membuat film drama romantis dengan konflik di kalangan remaja?” Pertanyaan itu yang selalu muncul di kepala saya ketika melihat poster-poster film yang terpampang di bioskop atau ketika menyaksikannya langsung. Berapa banyak film drama Indonesia berkualitas yang menyajikan kisah cinta dua orang dengan konflik yang lebih kompleks? Masih sangat sedikit. Salah satu yang masih saya ingat adalah <a href="http://www.jagatreview.com/2011/11/sang-penari-potret-kehidupan-seorang-ronggeng/">Sang Penari</a> yang merupakan hasil adaptasi dari novel trilogi <em>Ronggeng Dukuh Paruk</em>-nya Ahmad Tohari.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-131443" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/bila-drama-remaja-spesial-valentine/bila/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-131443" title="bila" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/bila-600x346.jpg" alt="" width="600" height="346" /></a></p>
<p>Pengambilan kerangka cerita kisah remaja membuat film drama Indonesia menjadi dangkal dan sangat <em>cheesy</em>. Kisah mereka pun hanya terbatas cinta segitiga, konflik akibat tidak disetujui orangtua, salah satu pihak sakit dan kemudian meninggal, kecelakaan, dan lain-lain—intinya, sangat mudah ditebak. Itu juga yang saya tangkap di film yang satu ini. Film ini gagal mengeksekusi beberapa adegan yang awalnya dimaksudkan untuk menyajikan tontonan romantis yang justru membuat adegan tersebut terlihat klise dan dangkal.</p>
<p>Kedangkalan cerita juga berjalan seiring dengan kedangkalan karakter. Tiga karakter utama dalam film ini tidak tereksplorasi dengan baik sehingga membuat karakter-karakter tersebut terlihat “mentah”. Tidak ada greget yang bisa dirasakan di sana. <em>Chemistry</em> di antara satu sama lain pun tidak terasa. Kedangkalan karakter tersebut sangat disayangkan melihat pemeran Bila, Shalvynne, mendalami karakternya dengan cukup baik, tetapi tidak bisa membuat penampilannya dibilang menakjubkan karena kurangnya pengembangan terhadap karakter Bila. <em>Too bad</em>.</p>
<p><em>Bila</em> merupakan film drama yang “sangat remaja” yang mungkin akan menarik banyak remaja untuk berbondong-bondong datang ke bioskop untuk menyaksikan film ini tanggal 14 Februari nanti. Bagaimana dengan Anda?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Rilis:<br />
</strong>10 Februari 2012</p>
<p><strong>Genre:<br />
</strong>drama</p>
<p><strong>Durasi:<br />
</strong>84 menit</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sutradara:<br />
</strong>Chiska Doppert</p>
<p><strong>Pemain:<br />
</strong>Shalvynne, Stefan William, Karina Meita Permatasari, Ajun Perwira</p>
<p><strong>Studio:<br />
</strong>Maxima Pictures</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jagatreview.com/2012/02/bila-drama-remaja-spesial-valentine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>One Day: Satu Hari, Selama 20 Tahun</title>
		<link>http://www.jagatreview.com/2012/02/one-day-satu-hari-selama-20-tahun/</link>
		<comments>http://www.jagatreview.com/2012/02/one-day-satu-hari-selama-20-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 08:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lucky Natalia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movies]]></category>
		<category><![CDATA[Anne Hathaway]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[jagatreviews]]></category>
		<category><![CDATA[Jim Strugess]]></category>
		<category><![CDATA[Lone Scherfig]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[One Day]]></category>
		<category><![CDATA[Random House Films]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jagatreview.com/?p=131109</guid>
		<description><![CDATA[Dua orang bersama untuk pertama kalinya di hari kelulusan mereka. Selanjutnya, selama dua puluh tahun ke depan, mereka selalu bertemu di tanggal yang sama dengan tanggal pertama kali mereka bersama. Apakah mereka akan selalu menjadi “teman”?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>One Day</em> merupakan film tahun 2011 yang merupakan adaptasi dari novel <em>best seller</em> berjudul sama karya David Nicholls yang terbit tahun 2009. Novel tersebut mendapatkan respon luar biasa dari pembaca dan para kritikus yang menjadikannya sebagai salah satu karya terbaik dan dianugerahi sebagai Galaxy Book of the Year tahun 2010.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-131119" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/one-day-satu-hari-selama-20-tahun/one-day-poster-2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-131119" title="One-Day-Poster" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/One-Day-Poster-405x600.jpg" alt="" width="405" height="600" /></a></p>
<p><em>One Day</em> mengisahkan tentang dua orang yang tidak begitu saling mengenal, Dexter (Jim Sturgess) dan Emma (Anne Hathaway), yang menghabiskan waktu bersama di hari kelulusan mereka di tahun 1988. Sejak hari itu, mereka sepakat untuk tetap berteman di tahun-tahun berikutnya. Sepanjang perjalanan hidup mereka, Emma dan Dexter menyempatkan diri untuk bertemu di tanggal yang sama saat mereka pertama kali bersama setiap tahunnya. Emma meniti karir sebagai guru dan Dexter menjadi seorang presenter ternama. Banyak hal yang mereka alami, banyak suka dan duka yang mereka rasakan. Persahabatan mereka terus tumbuh sampai dua puluh tahun berlalu dan mereka pun menyadari bahwa mereka selalu saling membutuhkan satu sama lain, bagaimana pun keadaan mereka.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-131112" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/one-day-satu-hari-selama-20-tahun/oday4-560x373/"><img class="aligncenter size-full wp-image-131112" title="Oday4-560x373" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/Oday4-560x373.jpg" alt="" width="560" height="373" /></a></p>
<h2><strong>Tidak Sesempurna <em>Best Seller</em>-nya</strong></h2>
<p>Tidak semua film adaptasi—atau bahkan kebanyakan film adaptasi—bisa memuaskan penggemar karya aslinya. Para pembaca yang jatuh hati dengan novel <em>One Day</em> mungkin akan berharap cukup tinggi ketika karya tersebut diangkat ke layar lebar. Apakah memang sememuaskan versi novelnya?</p>
<p>Setelah banyak kegagalan dan kekecewaan yang dituai setelah menyaksikan versi film dari sebuah karya novel/komik, seharusnya untuk karya yang satu ini kita tidak perlu berharap apa pun. Kisah cinta antara Emma dan Dexter yang dipaparkan dengan sangat detail, mendalam, dan penuh chemistry oleh David Nicholls ini tidak dieksekusi dengan baik oleh Lone Scherfig. Banyaknya bagian yang dipotong—dari karya aslinya—dan akting kedua pemain yang seakan tidak sinkron satu sama lain membuat chemistry antara kedua karakter tersebut tidak terasa. Saya tidak merasakan apa pun saat menyaksikan dua bintang tersebut berinteraksi.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-131114" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/one-day-satu-hari-selama-20-tahun/one-day-movie/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-131114" title="one-day-movie" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/one-day-movie-600x397.jpg" alt="" width="600" height="397" /></a></p>
<p>Selain itu, saya juga menyayangkan pemilihan aktris Anne Hathaway karena Anne tidak berhasil membawakan karakter Emma dengan logat british-nya dengan baik. Sebuah detail yang simpel tapi sedikit mengganggu. Satu-satunya hal yang membuat saya terhibur adalah penampilan prima Jim Sturgess yang berhasil memerankan karakter Dexter yang flamboyan dan bergaya hedon.</p>
<p>Kembali ke perbandingan dengan karya aslinya, jika Anda belum memiliki kesempatan untuk membaca novelnya, mungkin Anda akan sedikit kebingungan dengan lompatan-lompatan adegan yang terjadi. Bagi saya yang sudah membaca novelnya dan kemudian menyaksikan film tersebut, lompatan-lompatan adegan tersebut sangat mengecewakan karena membuat hubungan unik antara Emma dan Dexter tidak tergambarkan dengan jelas. Selain itu, lompatan adegan tersebut juga membuat karakter tiap tokoh yang ada di film ini tidak tergali dengan baik.</p>
<p>Film ini telah rilis di Inggris dan negara lainnya tahun lalu. Bahkan, DVD-nya telah beredar di pasaran. Pilihan Anda untuk menyaksikan film ini di bioskop atau membeli DVD-nya saja dan menyaksikannya di rumah saat senggang.</p>
<p><strong>Rilis:</strong><br />
8 Februari 2012 (Indonesia)</p>
<p><strong>Genre:<br />
</strong>drama<strong></strong></p>
<p><strong>Durasi:<br />
</strong>108 menit<strong></strong></p>
<p><strong>Sutradara:<br />
</strong>Lone Scherfig<strong></strong></p>
<p><strong>Pemain:<br />
</strong>Anne Hathaway, Jim Sturgess, Rafe Spall, Patricia Clarkson, Jodie Whittaker, Ken Stott, Romola Garai<strong></strong></p>
<p><strong>Studio:</strong><br />
Random House Films</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jagatreview.com/2012/02/one-day-satu-hari-selama-20-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Chronicle: Ketika Sekumpulan Remaja Mendapatkan Kekuatan Super</title>
		<link>http://www.jagatreview.com/2012/02/chronicle-ketika-sekumpulan-remaja-mendapatkan-kekuatan-super/</link>
		<comments>http://www.jagatreview.com/2012/02/chronicle-ketika-sekumpulan-remaja-mendapatkan-kekuatan-super/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 04:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lucky Natalia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movies]]></category>
		<category><![CDATA[Alex Russell]]></category>
		<category><![CDATA[Chronicle]]></category>
		<category><![CDATA[Dane DeHaan]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[jagatreviews]]></category>
		<category><![CDATA[Josh Trank]]></category>
		<category><![CDATA[Michael B. Jordan]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Kelly]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[sci-fi]]></category>
		<category><![CDATA[superhero]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jagatreview.com/?p=130429</guid>
		<description><![CDATA[Memiliki kekuatan super mungkin akan sangat mengasyikkan. Jika kekuatan tersebut dimiliki oleh orang yang tepat, ia akan menggunakannya untuk kebaikan, seperti yang banyak dilakukan oleh para superhero terkenal. Namun, bagaimana jika kekuatan super itu dimiliki oleh sekumpulan remaja pria? Apa yang akan mereka lakukan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kekacauan mungkin akan terjadi jika seseorang dengan sifat tidak bijaksana diberikan “berkah” sebuah kekuatan super yang bisa membuatnya menjadi manusia super. Namun, biasanya karakter antagonis tersebut muncul di film-film sebagai karakter sampingan untuk menandingi karakter utama, sang superhero. Tema dan jenis film seperti itu sudah banyak beredar sepanjang masa dan masih menjadi favorit seluruh pencinta film bertema superhero. Lalu, bagaimana kalau ada film yang menyajikan kisah yang sebaliknya? Bagaimana jika ada film yang mengisahkan kehancuran yang disebabkan oleh sang tokoh utama yang ternyata antagonis?</p>
<p><a rel="attachment wp-att-130432" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/chronicle-ketika-sekumpulan-remaja-mendapatkan-kekuatan-super/chronicle-movie-poster-2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-130432" title="chronicle-movie-poster-2" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/chronicle-movie-poster-2-404x600.jpg" alt="" width="404" height="600" /></a></p>
<p>Andrew (Dane DeHaan), Matt (Alex Russell), dan Steve (Michael B. Jordan) secara tidak sengaja menemukan sebuah lubang misterius dan sebuah benda menyala yang “menyerang” mereka. Beberapa minggu kemudian, mereka mulai menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan telekinetik. Mereka pun menguji kekuatan mereka ke benda-benda dan kemudian ke orang-orang di sekitar mereka. <em>Boys will be boys</em>. Mereka menemukan kesenangan di kekuatan baru mereka dan cenderung menggunakannya untuk melakukan keisengan. Keadaan berangsur memburuk ketika Steve menyadari bahwa kekuatan Andrew tumbuh lebih cepat dan lebih besar, sedangkan temannya tersebut memiliki kelabilan emosi. Sebuah kekuatan besar mengendap di tubuh seorang remaja labil. Kira-kira, apa yang akan terjadi?</p>
<p><a rel="attachment wp-att-130431" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/chronicle-ketika-sekumpulan-remaja-mendapatkan-kekuatan-super/chronicle-movie2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-130431" title="chronicle-movie2" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/chronicle-movie2-600x304.jpg" alt="" width="600" height="304" /></a></p>
<h2><strong>Bukan Cerita tentang Superhero</strong></h2>
<p><em>Chronicle</em> menjadi salah satu film paling menarik sepanjang dua bulan awal tahun 2012. Film yang mengambil format layaknya <em>Cloverfield</em> dan franchise <em>Paranormal Activity</em> ini mengisahkan tentang sekumpulan remaja yang mendapatkan kekuatan super secara mendadak dan cara mereka memanfaatkan kekuatan tersebut. Anda membayangkan mereka melakukan hal-hal baik, seperti menangkap perampok bank, menolong orang-orang yang terkena bencana, atau menjaga keamanan negara dari serangan negara lain? Salah besar!</p>
<p>Film ini mengangkat kisah yang cukup menarik. Jika pada umumnya kita dibuat terkagum-kagum dengan tindakan-tindakan heroik para superhero yang memiliki kekuatan super, sekarang kita dihadapkan dengan pertanyaan, “Bagaimana jika kekuatan tersebut dimiliki oleh orang yang tidak sespesial para superhero yang sudah ada?” Kita diajak untuk mengenal lebih dalam karakter antagonis, dalam film ini adalah karakter Andrew, yang tidak digambarkan antagonis begitu saja, tetapi kita juga dituntun untuk mengetahui latar belakang perilakunya.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-130430" href="http://www.jagatreview.com/2012/02/chronicle-ketika-sekumpulan-remaja-mendapatkan-kekuatan-super/chronicle-movie/"><img class="aligncenter size-full wp-image-130430" title="Chronicle Movie" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/Chronicle-Movie.jpg" alt="" width="512" height="288" /></a></p>
<p>Film ini dibuat dengan bujet yang cukup rendah, “hanya” US$12 juta. Namun, keorisinalitasan dan keunikan plot, fondasi cerita, dan formatnya membuat film ini mendapatkan apresiasi lebih dari pencinta film dan membuatnya bertengger di peringkat pertama tangga box office sepanjang akhir pekan lalu (3—5/2) dengan penghasilan sementara sebesar US$22 juta. Apakah film ini akan bertahan lama di tangga box office? <em>We’ll see</em>!</p>
<p>Saya pribadi menganggap film ini sebagai salah satu film yang sayang dilewatkan begitu saja. Jika Anda menyukai film-film berbau sci-fi dengan sedikit bumbu drama di dalamnya, film ini bisa menjadi pilihan yang tepat.</p>
<p><strong>Tanggal rilis:<br />
</strong>3 Februari 2012 (Indonesia)</p>
<p><strong>Genre:<br />
</strong>Sci-fi</p>
<p><strong>Durasi:<br />
</strong>83 menit</p>
<p><strong>Sutradara:<br />
</strong>Josh Trank</p>
<p><strong>Pemain:<br />
</strong>Dane DeHaan, Michael B. Jordan, Michael Kelly, Alex Russell</p>
<p><strong>Studio:<br />
</strong>Davis  Entertainment</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jagatreview.com/2012/02/chronicle-ketika-sekumpulan-remaja-mendapatkan-kekuatan-super/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Machine Gun Preacher: Perjuangan Seorang Mantan Pecandu di Afrika</title>
		<link>http://www.jagatreview.com/2011/12/machine-gun-preacher-perjuangan-seorang-mantan-pecandu-di-afrika/</link>
		<comments>http://www.jagatreview.com/2011/12/machine-gun-preacher-perjuangan-seorang-mantan-pecandu-di-afrika/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 04:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ernest Dimitria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movies]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Gerard Butler]]></category>
		<category><![CDATA[jagatreviews]]></category>
		<category><![CDATA[Machine Gun Preacher]]></category>
		<category><![CDATA[Madeline Carroll]]></category>
		<category><![CDATA[Marc Forster]]></category>
		<category><![CDATA[Michelle Monaghan]]></category>
		<category><![CDATA[Sam Childers]]></category>
		<category><![CDATA[Souleymane Sy Savane]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jagatreview.com/?p=116150</guid>
		<description><![CDATA[Gerard Butler kembali menunjukkan kebolehan aktingnya melalui film Machine Gun Preacher. Film garapan Marc Forster ini diadaptasi dari memoir seorang mantan pecandu dan kriminal, Sam Childers, yang telah bertobat dan memperjuangkan kebebasan anak-anak di Sudan. Bagaimana kualitas film drama-action ini?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Machine-Gun-Preacher-Movie-Poster.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-116152" title="Machine Gun Preacher Movie Poster" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Machine-Gun-Preacher-Movie-Poster.jpg" alt="" width="404" height="600" /></a></p>
<p>Gerard Butler kembali menunjukkan kebolehan aktingnya melalui film Machine Gun Preacher. Film ini menceritakan kisah nyata seorang <em>biker</em>, pecandu narkoba, dan mantan narapidana bernama Sam Childers. Ketika keluar dari penjara, sang istri, Lynn yang diperankan oleh Michelle Monaghan, mengajaknya untuk ke gereja dan akhirnya Sam pun menemukan Tuhan. Meninggalkan kehidupan lamanya yang penuh dengan kekerasan dan pengaruh obat-obatan terlarang, Sam pun mulai bekerja sebagai seorang kontraktor dan pada akhirnya berhasil membangun perusahaannya sendiri.</p>
<p>Setelah membantu membangun kembali kota tempat tinggalnya yang diterpa badai, Sam merasa terpanggil dan berangkat ke Uganda sebagai bagian dari pelayanan gereja. Di sana, Sam dengan rombongan gerejanya membantu membangun rumah bagi para pengungsi yang tempat tinggalnya dihancurkan oleh tentara pemberontak yang disebut dengan LRA (Lord’s Resistance Army). Tergerak oleh insting dan keberaniannya, Sam meminta panduan dari salah seorang tentara Sudan People’s Liberation Army (SPLA) bernama Deng (Souleymane Sy Savane) untuk membawanya ke daerah konflik.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Sam-Childers.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-116155" title="Sam Childers" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Sam-Childers.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<h2>Gerard Butler Menunjukkan Kharisma Pemimpin yang Kuat</h2>
<p>Pada saat saya melihat poster film ini untuk pertama kalinya dan melihat nama Gerard Butler yang terpampang, otomatis saya berpikir bahwa Machine Gun Preacher hanyalah koleksi film action terbaru bagi aktor asal Skotlandia tersebut. Namun, setelah melihat trailer dan menonton filmnya, ternyata film ini mengandung unsur drama yang kental dan menguji kehebatan akting Butler. Apalagi cerita dalam film garapan Marc Foster (sutradara Quantum of Solace, The Kite Runner, dan Monster’s Ball) ini diambil dari memoir Childers yang berjudul “Another Man’s War”. Kemampuan akting Butler dalam film ini mengukuhkan pendapat bahwa ia cocok mendapatkan peran utama di film bergenre apa pun.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Machine-Gun-Preacher-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-116153" title="Machine Gun Preacher (2)" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Machine-Gun-Preacher-2.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p>Menengok kembali ke prestasi Butler sebelumnya, aktor kelahiran 1969 ini tidak pernah berpatok kepada satu genre film saja. Dari film drama (P.S. I Love You), komedi romantis (The Ugly Truth dan The Bounty Hunter), action (Gamer dan Law Abiding Citizen), animasi (How to Train Your Dragon), hingga film perang yang berhasil melejitkan namanya di Hollywood, 300. Dalam film tersebut, Butler berperan sebagai King Leonidas dan berhasil menunjukkan kharisma seorang pemimpin melalui beragam percakapan serta pidato yang diutarakan. Kharisma yang sama pun kembali dihadirkan dalam Machine Gun Preacher ketika Childers berkhotbah untuk memotivasi para jemaat untuk membantu kegiatannya di Afrika.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Deng-dan-Sam-Childers.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-116154" title="Deng dan Sam Childers" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Deng-dan-Sam-Childers.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<h2>Film Drama dengan Taburan Aksi Menegangkan</h2>
<p>Walaupun diambil dari kisah nyata dan mengandung unsur drama yang kental, sesuai dengan namanya, Machine Gun Preacher juga menunjukkan sejumlah adegan action yang menegangkan. Seperti ketika Childers dan tentara SPLA menghadang perjalanan pasukan LRA untuk membebaskan anak-anak yang mereka culik, serta baku tembak sengit yang terjadi dengan seorang sniper. Keberanian Childers dalam melawan tentara pemberontak inilah yang membuat Childers dikenal dengan sebutan Machine Gun Preacher. Butler pun yang sudah tidak asing bermain peran dengan menggunakan senjata, memperlihatkan kekuatan karakter Childers yang berperang demi kebebasan masyarakat di Sudan.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Sam-Childers-and-Family.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-116156" title="Sam Childers and Family" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Sam-Childers-and-Family.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p>Bagi para penikmat film drama, khususnya yang diadaptasi dari kisah nyata, direkomendasikan untuk menonton film Machine Gun Preacher. Namun, bagi mereka yang lebih menyukai film action yang penuh dengan baku tembak, adegan kejar-kejaran, dan ledakan, tidak dapat berharap terlalu banyak dari film ini yang memang lebih difokuskan kepada pertobatan, perjuangan, dan konflik keluarga yang dihadapi oleh Childers. Tidak hanya akting Gerard Butler yang memukau dalam film ini, tetapi Michelle Monaghan (EagleEye dan Source Code), Madeline Carroll (Flipped dan Mr. Popper’s Penguins), dan Souleymane Sy Savane (Goodbye Solo dan Honeysuckle) juga menunjukkan kemampuan akting yang solid. Beragam adegan menegangkan, inspiratif, dan mengharukan menghiasi film ini dan akting seluruh aktornya membantu eksekusi seluruh emosi yang muncul dengan baik.</p>
<p><a href="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Sam-Childer-dan-Keluarga.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-116157" title="Sam Childer dan Keluarga" src="http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2011/12/Sam-Childer-dan-Keluarga.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p><strong>Tanggal rilis:<br />
</strong>2 November 2011 (Inggris)</p>
<p><strong>Genre:<br />
</strong>Drama, Action</p>
<p><strong>Durasi:<br />
</strong>129 menit</p>
<p><strong>Sutradara:<br />
</strong>Marc Forster</p>
<p><strong>Pemeran:<br />
</strong>Gerard Butler, Michelle Monaghan, Madeline Carroll, Souleymane Sy Savane</p>
<p><strong>Studio:<br />
</strong>Apparatus Production</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jagatreview.com/2011/12/machine-gun-preacher-perjuangan-seorang-mantan-pecandu-di-afrika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
