[PR] Guru Indonesia Mengikuti Honeywell Space Academy untuk Pertama Kali
Para Guru Mendapatkan 45 Jam Pendidikan dan Pelatihan Laboratorium Untuk Membantu Mereka Menginspirasi Siswa untuk Mengejar Karir STEM
Jakarta, Indonesia, 1 Juli 2013 – Untuk pertama kalinya, dua guru Indonesia terpilih untuk mengikuti program pendidikan unik – Honeywell Educators @ Space Academy (HE@SA) – Di Amerika Serikat, dan kembali dengan pengalaman belajar menyegarkan yang akan berdampak pada metode pengajaran mereka.
![[PR] Guru Indonesia Mengikuti Honeywell Space Academy untuk Pertama Kali 1 indonesia_DSC9137 (2)](https://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2013/07/indonesia_DSC9137-2-500x331.jpg)
Boyke Ramdhani dan Mala Rejeki Manurung, keduanya guru matematika dari Jawa Barat, adalah bagian dari 210 guru dari seluruh dunia yang menerima beasiswa dari Honeywell (NYSE:HON) untuk HE@SA, mulai 14 Juni di Huntsville, Ala.
Dibuat atas kerjasama dengan Honeywell Hometown Solutions (HHS) dan U.S. Space & Rocket Center (USSRC), HE@SA adalah program beasiswa lima hari dimana para guru sekolah menengah berpartisipasi dalam simulasi pelatihan astronot dan pengembangan profesional. Pelatihan ini memberikan mereka dengan keterampilan mengajar baru yang inovatif dalam sains, teknologi, teknik dan matematika/ sains, teknologi, engineering dan matematika (STEM) dengan cara yang menyenangkan dan menarik.
“Menginspirasi siswa dimulai dengan menginspirasi guru,” kata Alex J. Pollack, president Honeywell Indonesia. “HE@SA memberi guru pengalaman belajar yang menarik dan tidak terlupakan yang meningkatkan kemampuan mereka untuk menjadi pendidik yang lebih efektif. Saya senang guru-guru Indonesia sekarang memiliki kesempatan untuk mengikuti program hebat ini.”
Sebagai perusahaan teknologi dan manufaktur terkemuka, Honeywell memahami pentingnya pendidikan dan dampaknya pada ekonomi global. Menurut Departemen Tenaga Kerja AS, 15 dari 20 pertumbuhan pekerjaan tercepat selama 18 bulan ke depan memerlukan matematika dan persiapan sains.
“Honeywell adalah pemimpin kelas dunia dalam pendidikan guru STEM dan mereka membuktikan hal itu lagi. Ini adalah tahun kesepuluh Honeywell telah mengimkan guru-guru ke USSRC,” kata Dr. Deborah Barnhart, CEO dan executive director of USSRC. “Guru-guru ini, pada gilirannya, menginspirasi puluhan ribu siswa di seluruh dunia.”
Guru-guru, yang berasal dari 27 negara dan 42 negara bagian dan teritori AS tahun ini, berlatih layaknya astronot, mempelajari keterampilan dan teknik pembelajaran untuk menumbuhkan minat siswa dalam sains dan eksplorasi. Guru-guru yang berpartisipasi dalam 45 jam pengembangan profesional dengan kegiatan laboratorium dan aktivitas lapangan meliputi: simulasi jet berkinerja tinggi, misi luar angkasa scenario-based, pelatihan bertahan hidup di darat dan air, dan program dinamik penerbangan interaktif.
Baik Ramdhani dan Manurung mengatakan program tersebut melebihi harapan mereka dan mereka telah belajar banyak untuk meningkatkan metode pengajaran mereka.
“Saya terkesan dengan seluruh program yang menekankan pada kerja kelompok, dan sangat mengandalkan interdependensi,” kata Ramdhani dari Darul Hikam International School. “Saya belajar bahwa pembelajaran STEM akan menarik perhatian, passion dan rasa ingin tahu siswa. Jika kita menggabungkannya dengan kerja kelompok, hasilnya akan luar biasa. Saya akan mengintegrasikan ini di kelas matematika saya nantinya.”
Manurung dari Sekolah Raya Bogor mengatakan: “Segala sesuatunya dalam program ini meningkatkan pemahaman kita tidak hanya mengenai ruang angkasa, tapi juga matematika aplikasi, kimia, teknologi, dan bahkan sejarah. Saya belajar tentang integrasi otentik sains, matematika dan mata pelajaran lainnya, pentingnya kerja tim, dan bagaimana mengembangkan antusiasme dalam proses belajar mengajar , tidak hanya untuk siswa tapi juga untuk guru-guru, yang saya pasti akan bagi dengan kelas saya dan rekan-rekan saya.”
“Tidak ada yang bisa mengekspresikan dengan lebih baik daripada guru sendiri yang memberitahu kami bahwa ini adalah program pengembangan profesional yang paling luar biasa yang pernah mereka hadiri,” kata Dr. Barnhart. “Hal ini dimungkinkan oleh Honeywell.”
Untuk menghadiri HE@SA, kandidat-kandidat harus menyelesaikan seluruh proses aplikasi untuk memastikan guru yang paling berkualitaslah yang dipilih. Setelah dipilih, guru-guru diberikan beasiswa, tiket pesawat pergi pulang, biaya kuliah, makanan dan akomodasi yang disponsori Honeywell dan karyawan-karywannya.
Sejak dimulainya program ini pada tahun 2004, Honeywell telah memberikan beasiswa HE@SA kepada 1.756 guru dari lebih dari 45 negara dan 50 negara bagian AS.
Untuk informasi lebih lanjut tentang program ini, kunjungi http://educators.honeywell.com


















