[PR] Teknologi Masa Depan Mungkin Ditentukan oleh Malaise Generasi Milenia, Perempuan Penggemar Teknologi, dan Kelompok Altruis yang Kaya Data

Reading time:
October 22, 2013
intel-logo

SANTA CLARA, Calif., 17 Oktober 2013 – Sebuah studi baru diselenggarakan oleh Intel Corporation dan dilaksanakan oleh Penn Schoen Berland mengenai sikap masyarakat global pada persepsi tantangan inovasi teknologi yang ada saat ini terhadap para pemimpin teknologi dan hotspot. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa generasi milenia (usia 18 hingga 24) adalah generasi yang paling rendah antusiasnya terhadap teknologi saat ini, tapi optimistis terhadap teknologi masa depan yang memberikan pengalaman yang lebih pribadi, sementara perempuan di pasar negara berkembang adalah yang paling optimistis tentang inovasi di bidang teknologi.

Malaise Generasi Milenia: Kelompok Dewasa Muda Ingin Lebih Personal dalam Berkomputasi

“Intel Innovation Barometer” mengungkapkan bahwa generasi milenia secara global menunjukkan perbedaan yang tinggi untuk reputasi mereka sebagai generasi digital yang ternyata tidak mendapatkan teknologi secara cukup dalam hidup mereka. Mayoritas generasi milenia setuju bahwa teknologi membuat penduduk menjadi kurang manusiawi dan masyarakat terlalu bergantung pada teknologi. Di Indonesia, 53 persen dari generasi milenia percaya bahwa teknologi membuat penduduk menjadi kurang manusiawi, dan 47 persen berpikir masyarakat terlalu bergantung pada teknologi.

Meskipun demikian, melebihi dari kebanyakan generasi milenia di dunia, penduduk Indonesia juga percaya bahwa teknologi dapat meningkatkan hubungan pribadi mereka (83 persen) dan memiliki harapan besar bahwa inovasi akan berdampak positif terhadap pendidikan (67 persen), transportasi (60 persen) dan kesehatan (53 persen). Generasi ini daripada generasi diatas mereka, juga lebih bersedia secara anonim untuk berbagi tanggal kelahiran, catatan GPS dan catatan belanja online jika hal tersebut bisa membantu untuk meningkatkan pengalaman mereka. Secara khusus, generasi milenia Indonesia mileniasedikit lebih bersedia daripada para generasi milenia AS  untuk berbagi tanggal lahir mereka (80 persen ), catatan GPS (62 persen) dan catatan pembelian (59 persen).

“Pada kilasan awal, tampaknya generasi milenia menolak teknologi, tapi saya menduga kenyataannya adalah lebih rumit dan menarik, “kata Dr Genevieve Bell, Anthropologist and Director of Interaction and Experience Research dari Intel Labs. “Mungkin salah satu cara yang berbeda untuk dapat membaca hal ini adalah generasi milenia ingin teknologi mampu untuk berbuat lebih banyak bagi mereka, dan kami memiliki pekerjaan yang harus dilakukan untuk membuatnya jauh lebih pribadi dan meringankan beban mereka.”

Generasi Milenia ingin teknologi masa depan mampu untuk membuat hidup lebih baik, lebih sederhana dan menyenangkan. Sebanyak 86 persen percaya bahwa inovasi teknologi dapat membuat hidup lebih sederhana, dan lebih dari sepertiga berpikir bahwa teknologi harus mengenal mereka dengan belajar tentang perilaku dan preferensi mereka.

Sebanyak 96 persen dari generasi milenia Indonesia percaya bahwa inovasi dalam teknologi membuat hidup lebih sederhana, meski hanya 27 persen berpikir teknologi harus mengenal mereka dengan belajar tentang perilaku dan preferensi mereka. Generasi milenia menginginkan pengalaman yang membantu mereka untuk tetap berada di saat ini dan menjadi diri mereka yang terbaik.

Perempuan Membawa Obor Teknologi

Survei menunjukkan bahwa perempuan setengah baya dan mereka yang tinggal di pasar negara berkembang pada khususnya sangat antusias mengenai peran teknologi dalam kehidupan mereka. Secara global, perempuan di atas 45 tahun memiliki kemungkinan lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang lebih muda untuk mengatakan bahwa kita tidak menggunakan teknologi yang cukup. Mereka juga cenderung untuk mengatakan bahwa teknologi membuat kita lebih manusiawi (45 persen) dan memungkinkan kita untuk mempererat hubungan kita (72 persen). Selanjutnya, perempuan global mendukung teknologi seperti perangkat lunak untuk menonton kebiasaan-kebiasaan dalam kerja (69 persen) atau kebiasaan-kebiasaan dalam belajar (76 persen).

Para perempuan  penggemar teknologi ini bahkan lebih terdengar di pasar negara berkembang seperti China yang lebih dari tujuh dari 10 perempuan di atas usia 45 percaya bahwa kita tidak cukup menggunakan teknologi . Perempuan di Indonesia berada di atas rata-rata untuk yakin bahwa inovasi akan mampu untuk mendorong pendidikan yang lebih baik (72 persen), transportasi (66 persen), pekerjaan (60 persen) dan kesehatan (61 persen). Perempuan di Indonesia ternyata bersedia untuk menggunakan teknologi, sementara lainnya (63 persen) mungkin beranggapan bahwa terlalu pribadi untuk meningkatkan pengalaman mereka atau kesehatan mereka seperti menggunakan toilet pintar (smart toilet) untuk mengawasi kesehatan mereka (63 persen).

“Secara historis, perempuan telah menjadi pengguna teknologi yang sangat antusias ketika teknologi mampu memecahkan masalah, membantu kita mengatur hidup kita dan keluarga kita, serta membantu kita dalam penghematan dan perubahan waktu,” tambah Bell. “Saya sampai harus bertanya-tanya jika yang dimaksud dari data ini adalah kaum perempuan begitu optimistis karena mereka melihat inovasi dalam teknologi yang kini mulai mampu untuk memenuhi janji dalam menyesuaikan irama setiap harinya, membantu untuk memecahkan masalah dan kebutuhan spesifik  kita dan menciptakan pengalaman baru yang menarik bahwa perempuan dan laki-laki akan bersama-sama menemukan pengalaman baru yang bernilai.”

Kekayaan Digital dan Berbagi Data

Penelitian ini mengungkapkan bahwa mereka yang paling banyak/paling tinggi akan bersedia juga untuk memberikan paling banyak/tinggi ketika menyangkut soal  berbagi data pribadi. Individu dengan pendapatan tinggi paling bersedia untuk berbagi data pribadi secara anonim, seperti hasil tes laboratorium atau informasi perjalanan. Mereka juga yang paling mungkin untuk memiliki perangkat teknologi dan terlibat dengan teknologi secara terus-menerus.

Namun, penelitian juga mengungkapkan bahwa sangatlah mungkin untuk mendorong aktivitas pembagian data ini, dengan memberikan keuntungan khusus. Misalnya, ketika ditanya apakah mereka akan berbagi informasi pribadi untuk menurunkan biaya obat, jumlah konsumen berpenghasilan rendah yang sebelumnya tidak mau berbagi data mereka secara dramatis meningkat 62-85 persen.

Memperlihatkan keuntungan pribadi adalah cara yang paling menarik untuk menutup kesenjangan antara mereka yang akan berbagi dan mereka yang tidak, bahkan menunjukkan keuntungan sosial seperti perawatan kesehatan yang lebih baik atau biaya yang lebih rendah untuk bepergian akan dapat membantu untuk mau berbagi informasi.

“Kebutuhan kita untuk menunjukkan arti dan relevansi secara personal sangatlah penting bagi industri teknologi,” Bell menyimpulkan. “Mendengarkan apa yang benar-benar masyarakat inginkan dan menciptakan teknologi yang mampu beradaptasi dengan berbagai pengalaman pribadi adalah masa depan teknologi.”

 

Intel Innovation Barometer: Temuan Utama

Generasi Milenia Menjadi Kuat di Teknologi Saat ini

  • Empat puluh tujuh persen dari generasi milenia Indonesia merasa masyarakat yang bergantung pada teknologi terlalu banyak dan membuat kita kurang manusiawi (53 persen).
  • Dua puluh tujuh persen dari generasi milenia Indonesia berpikir bahwa teknologi harus belajar tentang perilaku dan preferensi mereka ketika mereka menggunakannya.

 

Perempuan Membawa Obor Teknologi

  • Secara global, perempuan yang lebih tua dari 45 tahun lebih banyak dibandingkan dengan perempuan yang lebih muda untuk mengatakan bahwa kita tidak menggunakan teknologi secara cukup, dan sentimen ini sangat kuat khususnya di pasar negara berkembang. Di Indonesia, 67 persen perempuan di atas 45 tahun mengatakan bahwa kita tidak menggunakan teknologi yang cukup dibandingkan dengan 58 persen dari mereka yang berumur di bawah 45 tahun.
  • Secara global, perempuan yang lebih tua akan lebih mungkin untuk mengatakan bahwa teknologi membuat kita lebih manusiawi. Namun, perempuan yang lebih tua di Indonesia menentang tren ini karena 40 persen perempuan di atas 45 tahun mengatakan teknologi membuat kita lebih manusiawi dibandingkan 48 persen perempuan yang lebih muda.
  • Perempuan di Indonesia percaya bahwa teknologi akan mendorong pendidikan (72 persen), transportasi (66 persen), pekerjaan (60 persen) dan kesehatan (61 persen) yang lebih baik lagi.

 

Kekayaan Digital dan Berbagi Data

  • Tujuh puluh tujuh persen dari individu berpenghasilan tinggi akan berbagi informasi pribadi secara anonim, seperti tes laboratorium dan pemeriksaan kesehatan untuk mendukung penelitian, dibandingkan dengan 65 persen individu dengan pendapatan tingkat menengah dan 62 persen dari mereka yang berpenghasilan rendah.
  • Ketika ditanya apakah mereka akan berbagi data pribadi sebagi ganti untuk biaya yang lebih rendah dari obat, persentase individu berpenghasilan rendah yang setuju naik hingga 85 persen.
  • Individu dengan pendapatan yang lebih tinggi lebih bersedia untuk membiarkan aplikasi mempelajari tentang kebiasaan kerja mereka untuk membantu agar menjadi lebih efisien (88 persen individu dengan pendapatan tinggi dibandingkan 75 persen dari mereka yang berpendapatan rendah).

 

Metodologi Survei

Survei ini dilakukan secara online oleh Penn Schoen Berland atas nama Intel di Brazil, China, Perancis, India, Indonesia, Italia, Jepang dan Amerika Serikat dari 28 Juli hingga 15 Agustus 2013. Survei ini dilaksanakan dengan menggunakan sampel yang representatif yaitu 12.000 orang dewasa usia 18 dan lebih tua dengan margin of error plus atau minus 0,89 persen. Untuk informasi selanjutnya tentang Intel Innovation Barometer, silakan kunjungi: www.intel.com/newsroom/innovation.

Share

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

October 29, 2026 - 0

Review Lenovo Legion Pro 5i Gen 10: Laptop Gaming Premium dengan RAM 32 GB Paling Worth It?

Ini adalah laptop High Performance kelas atas yang super worth…
October 28, 2026 - 0

Review HP Omnibook Ultra 14 (2026): Super Tipis, Desain Mewah, Performa Maksimal

Ini adalah laptop kelas premium dari HP yang beneran mewah!…
October 26, 2026 - 0

Review Infinix XBOOK 14 Neo: Laptop 2026 yang Terjangkau, Ringan, dng Warna Bodi Ceria

Laptop dengan nama “NEO” ini ternyata harganya mulai dari 7…
October 23, 2026 - 0

Review Axioo Hype Ai 5 (G3): Kencang & Irit dgn Intel Core Series 3 Wildcat Lake, Harga Terjangkau!

Ini salah satu laptop “Core 5 Series 3” paling terjangkau…

Gaming

October 29, 2026 - 0

Valve Tambahkan Dukungan CD Drive ke Steam Frame dalam Hitungan Menit

Valve tambahkan dukungan CD drive ke kernel Steam Frame setelah…
October 29, 2026 - 0

Sony Hadiahkan US$50 Ribu Untuk Hacker Penemu Komponen Jailbreak

Sony membayar hadiah US$50.000 untuk hacker yang melaporkan celah keamanan…
October 29, 2026 - 0

Epic Games Akan Latih AI Untuk Dukung Unreal Engine

Epic Games akan mengubah EULA Unreal Engine agar game yang…
October 29, 2026 - 0

Nintendo Switch 2 Lite Dikabarkan Pakai Chip Samsung yang Hemat Daya

Nintendo Switch 2 Lite dirumorkan memakai platform Samsung 8LPU+ yang…