Swatch Memandang Smartwatch Bukan Ancaman Pelik
Kemunculan jam tangan pintar atau smartwatch yang memungkinkan pemakainya dapat menerima notifikasi pesan teks atau menangkap foto dan video, dianggap sebagai ancaman bagi sebagian besar vendor jam tangan konvensional. Namun, Swatch malah berpandangan sebaliknya. Ini bukanlah sebuah ancaman, melainkan peluang bagi Swatch.

Tren jam tangan pintar saat ini membuat berbagai raksasa teknologi seperti Samsung, Intel, Sony, dan Qualcomm mulai berlomba menghadirkan perangkat yang masuk dalam kategori wearable tersebut. Ini yang kemudian juga menimbulkan pertanyaan, bagaimana Swatch, sebagai pemimpin global di pasar jam tangan memandangnya.
“Smartwatch merupakan kesempatan bagi kita, apapun yang terjadi. Jika orang-orang yang tak pernah memakai sesuatu di pergelangan tangan mereka, mulai mengenakan apa yang disebut smartwatch, maka kita pasti bisa meyakinkan mereka dengan cepat agar mencoba memakai jam tangan yang indah (buatan Swatch) sebagai gantinya,” ujar Nick Hayek, CEO Swatch, dilansir dari Reuters.
Hayek mengatakan, Swatch sudah memiliki semua pengetahuan yang diperlukan untuk membuat jam tangan pintar unggulan mereka. Namun Ia mengakui, perusahaannya tak berniat menjadi pemain yang besar di pasar jam tangan pintar ini. “Kami memiliki semua pengetahuan, namun kita tak ingin membangun sebuah teknologi tinggi yang dikhawatirkan orang tidak akan mau membelinya,” ujarnya.
Bukan hanya itu saja, pihaknya pun sudah lama memiliki beberapa perangkat yang masuk dalam kategori “smart” di pasar. Hanya saja, nama besar Swatch di mata pengguna jam tangan di seluruh dunia, dikenal sebagai produsen jam tangan konvensional.
Sepuluh tahun yang lalu, Swatch pun sudah bekerja sama dengan Microsoft, meluncurkan smarwatch yang disebut “Paparazzi“. Jam tangan tersebut memungkinkan penggunanya dapat mengakses berita, horoskop, pergerakan harga saham, hingga informasi real-time melalui gelombang radio. Sayangnya, produk tersebut dianggap gagal dalam menciptakan tren teknologi pada waktu itu.
Ia menambahkan, selama musim gugur pihaknya juga tidak melihat, keberadaan smartwatch mahal seperti Galaxy Gear dan Pebble menjadi ancaman yang berarti terhadap poduk jam tangan mewahnya. Ia malah berpandangan, keberadaan produk smartwatch yang ada, tidak memiliki segmen pengguna yang jelas dan kategori harga yang beragam.
“Desain yang tak biasa, harga yang tinggi, dan kendala teknologi dari smartwatch generasi terbaru cenderung akan menunda konsumen (untuk membelinya),” tulis Reuters dalam menyimpulkan pendapat dari konsumen, eksekutif industri, dan analis sewaktu dalam ajang pameran CES 2014 beberapa hari lalu.












