[PR] 2015: Revolusi Menuju Era Software Defined Everything

Reading time:
January 21, 2015
cloud_data_istock_000019207335_large

Konsep apapun berbasis software / software-defined; mulai dari Software Defined Networking (SDN), Software Defined Storage (SDS), dan bahkan meluas hingga Software Defined Data Centre (SDDC); kini mulai banyak dikumandangkan di dunia IT enterprise. IDC memperkirakan bahwa pasar untuk Software Defined Networking (SDN) akan mencapai sekitar US$ 3,7 Milyar di tahun 2016[1]. Selain itu, IDC juga mengungkap bahwa pelaku bisnis di Indonesia dapat menghemat biaya sebesar USD1.6 Milyar dalam rentang waktu tahun 2003 – 2020 sebagai akibat langsung dari pendekatan software-defined dalam pengelolaan IT, serta penggunaan teknologi virtualisasi untuk komputasi, perangkat penyimpanan, dan jaringan[2].

Secara umum, revolusi dunia IT enterprise mengarah ke software-defined infrastructure yang berpusat pada pemisahan hardware; yang menjalankan transaksi data; dari layer software yang memerintahkan hardware tersebut. Jika dianalogikan, ini seperti memisahkan pikiran dengan tubuh dengan maksud menjaga agar pikiran dalam keadaan prima dan kondisi tubuh tetap bugar; sehingga biaya perawatan dan ‘pengobatan’ dapat ditekan seminimal mungkin.

Secara perlahan tapi pasti, dunia IT enterprise bergerak menuju era software-defined. IDC mengungkap bahwa Software Defined Networking (SDN) bertumbuh dengan pesat secara global di tahun 2013 hingga 2014. Di tahun itu, mulai banyak perusahaan penyedia peralatan telekomunikasi yang mengumumkan bahwa mereka menyediakan peningkatan produk dengan teknologi SDN generasi pertama. Namun, di tahap awal tersebut, IDC juga menemukan bahwa berbagai pendekatan yang dilakukan vendor-vendor tersebut membuat SDN terfragmentasi. Hal ini disebabkan karena setiap vendor menggunakan arsitektur yang berbeda-beda dan hanya bisa diterapkan dalam produk / solusi yang ditawarkan oleh vendor tersebut. Di tahun 2015 dan seterusnya, IDC memprediksi bahwa penawaran SDN yang multi-vendor akan mulai bermunculan.

Meskipun SDN bertumbuh pesat, namun kita masih berada di tahap awal dalam perjalanan menuju apapun berbasis software atau disebut dengan Software Defined Everything (SDE). Terdapat dua faktor utama yang mendorong pergerakan dari SDN menuju SDE. Faktor pertama adalah dorongan bisnis. Tuntutan bisnis dan harapan dari pengguna akhir berpengaruh besar terhadap bagaimana sebuah data center dikelola dan diterapkan di sebuah perusahaan.

Lebih lanjut lagi, pergeseran paradigma tentang bagaimana pengelolaan dan penerapan data center juga turut disebabkan oleh faktor kedua: yaitu perkembangan teknologi dan regulasi pemerintah di industri-industri vertikal, seperti contoh lembaga keuangan ataupun sektor publik. Faktor kedua ini memunculkan kebutuhan bagi perusahaan untuk mampu menciptakan efisiensi yang lebih besar, seraya mampu memenuhi berbagai persyaratan ketat yang diterapkan oleh pemerintah di setiap industri demi perlindungan dari semakin canggih serangan siber dengan biaya yang lebih rendah.

Bagian penting lainnya dari perkembangan era software-defined adalah Software Defined Data Centre (SDDC). Kemunculan SDDC didorong oleh kebutuhan akan data center yang lebih efisien serta dapat dikelola dengan lebih sederhana, dan semakin miripnya fungsionalitas software dengan kapabilitas dari hardware. Hal ini bertepatan dengan munculnya Software Define Fabric (SDF) yang melampaui abstraksi tradisional dari layer networking, dan penambahan layanan-layanan baru seperti keamanan dan layer aplikasi yang ditanamkan di seluruh fabric.

Selain SDDC, perkembangan selanjutnya adalah Software Defined Application Services (SDAS). Dalam menyediakan SDAS, F5 mengambil prinsip yang sebelumnya telah diterapkan pada SDN (terutama yang yang membahas tentang Layer 2-3 di dalam network), dan menempatkannya pada layer aplikasi (Layer 4-7). SDAS merupakan layanan yang ditempatkan di antara pengguna dan aplikasi di dalam network, yang memberikan kemampuan bagi pemilik aplikasi untuk mengatasi berbagai tantangan aplikasi yang berkaitan dengan mobilitas, keamanan, akses dan identitas, kinerja dan ketersediaan melalui arsitektur sistem mereka.

Melihat berbagai faktor pendorong yang telah disebutkan di atas, pada intinya perusahaan dituntut memiliki ekosistem IT yang fleksibel, skalabel, efektif secara biaya, serta lincah untuk bisa memenuhi kebutuhan bisnis dan pengguna akhir, seraya mampu mematuhi regulasi yang ditetapkan pemerintah. Karena alasan tersebutlah muncul teknologi software-defined dan terjadi pergerakan menuju era Software Defined Everything (SDE).

SDE akan menjadi tren yang terus berkembang dan menjadi semakin penting di industri IT enterprise. Sebagai awal dari perjalanan menuju Software Defined Everything (SDE), Software Defined Networking (SDN) mulai dilirik oleh banyak perusahaan. Saat ini, vendor penyedia layanan cloud dan operator telekomunikasi menjadi perusahaan terdepan dalam barisan untuk menerapkan SDN, karena SDN memungkinkan jaringan mereka menjadi lebih fleksibel, skalabel, lincah, serta lebih efektif dari segi biaya, sehingga pada akhirnya memungkinkan mereka mempersingkat waktu penerapan aplikasi dan layanan baru.

[1] The IDC study, Five Emerging SDN Vendors to Watch in 2013
[2] Jagatreview : Bisnis di Indonesia Memulai Perjalanan Menuju Software-Defined Enterprise di Tahun 2015

Share
Load Comments

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

May 8, 2026 - 0

Review ASUS ExpertBook Ultra (2026): Ultra Tipis, Ultra Kencang, Ultra Irit

ASUS ExpertBook Ultra ini bisa dikatakan sebagai Laptop Bisnis pertama…
April 29, 2026 - 0

Review Axioo Pongo 755 AMD: Sama Kencangnya, Sama Komplitnya, Lebih Murah Harganya

Ini Laptop Gaming pertama dari Axioo dengan prosesor AMD Ryzen.…
April 27, 2026 - 0

Review Acer Predator Helios 16 AI: Laptop Gaming 16″ Paling “Monster” dari Acer!

Ini adalah Acer Predator Helios 16 AI! Walaupun ukurannya 16…
April 26, 2026 - 0

Review ASUS ROG Strix G16 (G615): Laptop ROG Kelas Atas dengan RTX 5080, Sekencang Apa?

Ini adalah Laptop Gaming Monster dari ASUS yang performanya super…

Gaming

May 12, 2026 - 0

Sega Resmi Batalkan Proyek Ambisius “Super Game”

Sega resmi membatalkan proyek ambisius Super Game yang telah berjalan…
May 12, 2026 - 0

Arena Breakout: Infinite Siapkan Mode PVE Permanen Mulai Juli 2026

Arena Breakout: Infinite akhirnya putuskan untuk hadirkan mode PVE permanen…
May 12, 2026 - 0

Pocketpair Daftarkan Merek Dagang Baru Bernama Palworld Online

Pocketpair mendaftarkan merek dagang baru bernama Palworld Online, sehingga memicu…
May 12, 2026 - 0

Star Wars: Fate of the Old Republic Dibiayai Oleh Mantan Eksekutif NetEase

Fakta baru mengenai pihak yang mendanai Star Wars: Fate of…