[PR] YOUNG AND RUBICAM Memberikan Hasil Survei Generation Asia
Masyarakat Indonesia Siap Menghadapi Perubahan serta Globalisasi namun tetap Mempertahankan Tradisi dan Nilai Leluhur
Jakarta – 29 Januari 2015 – Mayoritas orang Indonesia merasa sangat optimis terhadap masa depannya. Di saat yang sama mereka pun menyikapi perubahaan globalisasi dan teknologi – walaupun hal tersebut dapat memberi dampak signifikan terhadap tradisi dan nilai-nilai leluhur.
![[PR] YOUNG AND RUBICAM Memberikan Hasil Survei Generation Asia 1 20150129_113205](https://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2015/01/20150129_113205-500x363.jpg)
Young & Rubicam (Y&R), sebagai salah satu perusahaan periklanan terdepan di dunia baru merilis sebuah hasil studi yang melibatkan lebih dari 32.000 orang di 10 negara Asia yang terdiri dari Indonesia, India, Thailand, Vietnam, Tiongkok, Hong Kong, Malaysia, Singapura, Filipina dan Korea.
Survei Generation Asia yang mulai dilakukan pada akhir tahun 2014, memiliki obyektif untuk mengetahui nilai, sikap dan tingkah laku responden dari 17 kategori yang terdiri dari perilaku kehidupan sehari-hari, asmara, uang, media, hiburan, pendidikan, transportasi, travel, orang tua, fesyen, kesehatan, olahraga, barang mewah dan teknologi. Penelitian ini ditujukan kepada responden yang berumur 36-60 tahun (atau disebut sebagai The Power Segment) serta sebagai rangkaian pengembangan penelitian studi Generation Asia yang dilakukan Y&R dua tahun yang lalu (2012) yang ditargetkan kepada responden yang berumur 18-35 tahun (atau disebut sebagai The Potential Segment).
Matthew Collier, Group CEO Y&R Indonesia mengungkapkan bahwa penelitian terakhir yang menggabungkan data responden berumur 18-35 tahun dari penelitian sebelumnya memberikan wawasan yang menarik dari berbagi pasar dan generasi. Hasil yang didapat dari penelitian tersebut menyatakan bahwa ada delapan segmen budaya yang memberikan sebuah brand kemampuan untuk menjalin hubungan yang lebih kuat kepada konsumennya di Indonesia.
“Generation Asia memberikan kami sebuah sudut pandang yang belum pernah kami ketahui sebelumnya. Survei ini bertujuan untuk mengembangkan masyarakat Asia yang unik dan kontemporer, serta memberi wawasan yang lebih mendalam khususnya untuk perilaku budaya masyarakat Indonesia. Penelitian tersebut menjadi sebuah aset yang berharga untuk siapapun yang ingin mengembangkan jaringannya di komunitas pasar Asia yang sangat dinamis, berbeda dan terkadang sulit untuk dimengerti.”
Berikut adalah beberapa hasil Survei Generation Asia:
VISI MASA DEPAN:
- 87% dari responden yang berumur 36-60 tahun dan 85% dari responden yang berumur 18-35 tahun merasa sangat optimis yang tinggi terhadap kehidupannya. Selain itu, mereka merasa penting untuk melakukan hal yang signifikan kepada lingkungannya.
- Hampir 75% dari responden yang berumur 36-60 tahun memiliki keinginan yang kuat untuk merubah lingkungan sekitarnya agar dapat membuat kehidupan orang lain lebih baik. Sebanyak 90% dari responden yang berumur 18-35 tahun memiliki keinginan yang sama untuk membuat kehidupan serta lingkungan sekitarnya lebih baik.
BUDAYA & NILAI KEKELUARGAAN
- Orang Indonesia merasa penting untuk mempertahankan serta memperkuat nilai-nilai leleluhur agar bisa berkompetisi di kancah dunia global. Penelitian yang dilakukan kepada responden yang berumur 36-60 tahun menyatakan adanya keraguan, tetapi menjadi hal yang patut untuk dilakukan, yang menarik adalah sentimen ini sedikit lebih tinggi pada kalangan responden usia 18-35 tahun (89%) daripada responden usia 36-60 tahun (84%)
TRADISI LELUHUR VS GLOBALISASI
- Orang Indonesia memahami bahwa tradisi leleluhur tidak bisa dijauhkan dari pengaruh budaya asing. Mereka menyadari bahwa hal ini bisa menjadi senjata yang penting untuk bertahan dengan menyadari adanya evolusi terhadap tradisi di kehidupan moderen.
- Selain itu, 65% dari responden yang berumur 36-60 tahun dan 71% dari responden yang berumur 18-35 tahun menyadari bahwa teknologi dan globalisasi menghilangkan batas antar individu. Kedua grup setuju bahwa keberadaan pengaruh budaya asing seharusnya bisa diresapi agar memiliki kemampuan untuk belajar dari budaya lain.
TRADISI LELUHUR VS GLOBALISASI
- Masyarakat Indonesia memahami bahwa tradisi leluhur tidak bisa dijauhkan dari pengaruh budaya asing. Mereka menyadari bahwa hal ini bisa menjadi senjata yang penting untuk bertahan dengan menyadari adanya evolusi terhadap tradisi di kehidupan moderen.
- Selain itu, 65% dari responden yang berumur 36-60 tahun dan 71% dari responden yang berumur 18-35 tahun menyadari bahwa teknologi dan globalisasi menghilangkan batas antar individu. Kedua grup setuju bahwa keberadaan pengaruh budaya asing seharusnya bisa diresapi agar memiliki kemampuan untuk belajar dari budaya lain.
- Walaupun demikian, mereka dengan pemikirkan progresif mempunyai kekhawatiran terhadap kemungkinan hilangnya tradisi leluhur. Sebanyak 63% responden dari grup 36-60 tahun merasa hal ini tidaklah signifikan dibandingkan dengan 76% responden dari grup yang berumur 18-35 tahun.
PANDANGAN TERHADAP AGAMA
- Agamamasih berperan penting dalamproses pengambilan keputusandi kedua generasiini, 82%dariresponden usia 36-60tahundan 85% dariresponden usia18-35tahun mengidentifikasi agama sebagai hal yang penting. Namun sesuai dengan tren dan gaya hidup saat ini mengidentifikasi agama sebagai sesuatu yang sama pentingnya(86% Power dan 82% Potential).
PENDIDIKAN
- Sementara (87% Power & 78% Potential) setuju bahwa pendidikan merupakan pengantar untuk awal yang besar dalam hidup, mereka juga memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang belajar dari buku, namun juga tentang belajar dari apa yang terjadi diluar sana. Mereka berpikir bahwa pendidikan sebenarnya harus mencakup keterampilan hidup dan memperluas wawasan, membuat mereka sadar akan kemungkinan yang terjadi dalam hidup mereka (75% Power 86% Potential).
KEBUTUHAN AKAN KERAGAMAN
- DiIndonesia, keragaman merupakan bumbu kehidupan(78%responden usia18-35 tahun, dan74% responden usia 36-60tahun). Hal ini sesuaidengan karakter penduduk Indonesia yang sangatsosialdan dinamis. Hal ini dapat dilihatdari kreativitas dan inovasi orang Indonesia dalam menciptakan kembali, menafsirkan, memacu kembali, menghidupkan kembali, mencampurkan kembali, reklamasi dan mengkombinasikan hal moderen dan tradisional, digital dan analog, lokal dan global.
Matthew Collier mengatakan bahwa penelitian ini memberikan banyak wawasan, namun secara bersamaan juga mengangkat beberapa pertanyaan yang menarik. “Mengingat bahwa Indonesia adalah Negara berekonomi kuat serta negara keempat terpadat di dunia, mengapa kita tidak melihat lebih banyak masyarakat Indonesia berkecimpung di panggung yang lebih besar, baik regional maupun global?” Ia mengatakan “Terlihat jelas hal ini bukan mengenai bakat atau keinginan untuk menciptakan sesuatu bernilai, dan ini juga bukan karena masyarakat Indonesia tidak ingin terlihat sukses. Data yang ada mengatakan bahwa mereka telah sukses. Mungkin saat ini mereka tidak merasa perlu untuk membuktikan diri kepada dunia luar?”












