Sony Alami Kerugian Rp 14,3 Triliun
Sony kembali dirundung kerugian begitu besar. Raksasa elektronik asal Jepang itu membukukan kerugian senilai US$ 1,1 miliar (Rp 14, 3 triliun) untuk periode setahun penuh yang berakhir pada 31 Maret lalu.

Kerugian yang begitu besar ini datang dari strategi restrukturisasi yang dilakukan CEO Sony Kazuo Hirai dalam setahun ini. Salah satunya ialah biaya yang dikeluarkan Sony untuk pesangon para pegawainya yang dipecat secara besar-besaran.
Kerugian ini juga diiringi oleh penjualan perangkat mobile-nya yang terus menurun. Tahun fiskal 2014/2015, Sony hanya berhasil menjual 39,1 juta unit smartphone. Menurut laporan terbaru periset pasar teknologi Gartner, pangsa pasar smartphone global Sony pada tahun lalu hanya 2 persen dan menempati peringkat kesepuluh.
Beruntung, Sony masih memiliki lini bisnis lainnya yang menunjukan pertumbuhan. Hal itu juga yang membuat pendapatan keseluruhan Sony malah meningkat 5,8 persen menjadi 8,21 triliun yen atau sekitar Rp 900 triliun (US$ 70 miliar).
Divisi tersebut mencakup PlayStation 4, televisi, dan pemasok komponen perangkat elektronik, termasuk sensor kamera untuk perangkat mobile. Bisnis hiburan, seperti studio film Hollywood dan label musik juga ikut berperan. Pihaknya juga memiliki divisi jasa keuangan yang meungkin kurang dikenal publik global, namun bisnis tersebut paling menguntungkan bagi Sony.
Rencana ke depan, dikutip dari Reuters, Sony akan mengurangi fokusnya dari bsnis smartphone ke sejumlah lini bisnis yang menunjukkan pertumbuhan, terutama konsol game dan pemasok komponen kamera. Dengan strategi ini, Hirai menargetkan, pada tahun fiskal berikutnya yang berakhir pada 31 Maret 2016, Sony akan meraih laba bersih 140 miliar yen atau Rp 15 triliun (US$ 1,16 miliar).













