ITF 2016: Peluang Indonesia Menjadi Raksasa Teknologi Asia

Setelah rampung dengan teknologi 4G yang telah diluncurkan di akhir tahun, tentunya memberi pengaruh pada perkembangan teknologi digital di tanah air. Tidak hanya pada infrastuktur jaringan telekomunikasi, tetapi juga pada berbagai aspek termasuk pada habit pengguna dalam penggunaan internet, yang juga secara tidak langsung berdampak pada produktivitas masyarakat di negara Indonesia.
Dalam sebuah talkshow Indonesia Technology Forum 2016 yang hari ini digelar di kawasan SCBD Sudirman, membahas mengenai hal-hal yang mampu mendorong Indonesia untuk menjadi raksasa teknologi di Asia Tenggara, yang tak lepas dari Device, Network dan Application. Di hadiri oleh beberapa nara sumber dari pemimpin industri digital tanah air antara lain Hasnul Suhaimi (mantan CEO XL Axiata),Tjandra Lianto (Marketing Manager Advan), David Wayne Ika (CEO Kurio), dan Calvin Kizana (CEO PicMix).
Untuk memajukan industri teknologi, salah satu yang paling utama dikembangkan adalah infrastruktur telkomunikasi. Hadirnya 4G LTE saat ini pun cukup mendorong perkembangan teknologi di tanah air. VP Network Planning and Development XL Budi Hardjono mengatakan bahwa selama 4G hadir, kebutuhan internet juga semakin meningkat. “Kini pengguna internet lebih terbiasa dengan koneksi yang cepat, yang biasanya menonton YouTube hanya di 360p kini bisa di HD atau FullHD,” ujar Budi Hardjono.
Sementara itu untuk sektor Device, beberapa brand lokal salah satunya Advan mampu bertahan dalam persaingan di pasar gadget. “Data menunjukan bahwa mayoritas konsumen membeli smartphone di harga 1-3 juta. Tantangan bagi Advan sendiri adalah bagaimana menghadirkan handset dengan harga yang terjangkau namun tetap memiliki kualitas terbaik, “ ujar Tjandra Lianto. Saat ini berdasarkan data dari IDC, Advan masih memimpin di urutan kedua setelah Samsung untuk penjualan tablet di Asia Pasifik. Namun Advan tentunya tetap berambisi menjadi brand smartphone nomer satu di Indonesia, dimana saat ini Advan berada diurutan keempat untuk pengapalan smartphone, dibawah Samsung dan ASUS.
Namun untuk perkembangan aplikasi sendiri di tanah air tampak masih sangat jauh dari kata terdepan. Beberapa pengembang aplikasi tanah air sudah mulai terlihat
“Apa yang kami lakukan pada dasarnya adalah menghadirkan aplikasi benar-benar dibutuhkan oleh pengguna. Untuk itu sampai saat ini setelah 1,5 tahun kami masih focus dalam tahap pengembangan, agar bisa menghadirkan konten yang memuaskan pengguna,” ujar David selaku CEO Kurio.
Hal yang sama juga dipaparkan oleh Calvin selaku CEO PicMix “Untuk dapat bersaing, tentunya harus membutuhkan invoasi yang benar-benar berbeda dari aplikasi yang pernah ada,” Ujar Calvin. Bahkan PicMix sendiri yang berawal dari aplikasi sharing foto kini telah bertransformasi menjadi social commerce dan platform penemuan konten yang menghubungkan merek, pemilik bisnis, pembeli dan penual. “Kami (PicMix) kuat di Indonesia, Afrika Selatan, Nigeria Venezuela dan Negara-negara emerging market lainnya,” lanjut Calvin Kizana CEO PicMix.
Dari diskusi yang dibahas, menarik kesimpulan bahwa semua pihak baik vendor device, provider, developer hingga masyarakat, tentunya harus saling bahu membahu untuk dapat mewujudkan Indonesia sebagai pemimpin industri digital di tanah air. Yusuf selaku ketua Indonesia Technology Forum menyampaikan bahwa perlu adanya semaca gerakan Cinta Indonesia, agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri sekaligus kekuatan terbesar di Asia.














