Dell Unjuk Hasil Riset “Data Paradoks’, Banyak Perusahaan Indonesia Terbebani Data

Author
Irham
Reading time:
August 26, 2021

Dell Technologies mengumumkan hasil riset global* yang disponsori perusahaan dan dilaksanakan oleh Forrester Consulting. Riset ini menemukan bahwa sebagian besar perusahaan di Indonesia kewalahan menangani perkembangan data yang sangat cepat.

Alih-alih menjadi nilai tambah kompetitif bagi perusahaan, data malah jadi beban karena sejumlah faktor penghambat, antara lain: kesenjangan keahlian (skill gap) untuk mengelola data, silo data, proses manual, silo bisnis, dan kurangnya keamanan data pribadi.

Data Paradox Dell

Riset “Data Paradoks” ini dipicu oleh besarnya volume, kecepatan, dan ragam data yang membanjiri  perusahaan, teknologi, sumber daya manusia, dan proses.

Riset ini mewawancarai lebih dari 4.000 pembuat keputusan dari 45 negara dan disusun berdasarkan hasil riset berjudul Digital Transformation Index yang mengukur  tingkat kesiapan digital perusahaan-perusahaan di seluruh dunia.

Data Paradox Dell

Dalam riset Digital Transformation Index terbaru, Dell Technologies menemukan faktor kontradiksi  tentang “kelebihan data / ketidakmampuan mengolah data menjadi wawasan”, adalah menjadi penghambat transformasi ketiga terbesar di dunia

1. Perbedaan/Paradoks Persepsi

Dua pertiga responden Indonesia (69%) menyatakan bahwa perusahaan mereka  mengutamakan data (data-driven) dan bahwa “data adalah sumber kehidupan bagi  perusahaan mereka.” Tapi hanya 22% yang telah memanfaatkan data sebagai modal dan memprioritaskan penggunaannya di seluruh lini bisnis

Untuk memberi gambaran yang lebih jelas mengenai perbedaan persepsi (paradoks)  tersebut, riset ini mengelompokkan pengukuran kesiapan data perusahaan sebagai  berikut: Pemula (Data Novice), Teknisi (Data Technician), Antusias (Data  Enthusiast), Juara (Data Champion)

Dell Data Paradoks

Hasilnya menunjukkan bahwa 88% perusahaan di Indonesia belum menunjukkan  kemajuan, baik dari sisi teknologi dan pemrosesan data dan/atau budaya dan  kemampuan mereka mengelola data. Hanya 12% perusahaan di Indonesia yang masuk dalam kategori Data Champion: yaitu, perusahaan-perusahaan yang secara  aktif terlibat di teknologi/pemrosesan data dan memiliki budaya/kemampuan  mengelola data. Bahkan, riset ini menunjukkan bahwa 62% perusahaan di Indonesia masih jauh dari tujuan transformasi digital mereka.

“Ketika perusahaan di bawah tekanan besar untuk melakukan Transformasi Digital  untuk mempercepat layanan pada pelanggan, mereka harus mendapatkan lebih  banyak data dan harus bisa mengelola data yang mereka miliki dengan lebih baik.  Terlebih saat ini, dimana 38% perusahaan di Indonesia menyatakan bahwa pandemi  secara signifikan telah meningkatkan jumlah data yang perlu mereka kumpulkan,  simpan, dan analisa,” ujar Richard Jeremiah, General Manager, Dell Technologies,  Indonesia.

Richard Jeremiah of Dell EMC.
Richard Jeremiah of Dell EMC.

“Untuk menjadi sebuah perusahaan yang fokus pada data (data-driven) adalah sebuah perjalanan, dan mereka akan membutuhkan panduan dalam  perjalanan tersebut.”

2. Paradoks “Ingin Lebih Dari yang Bisa Mereka Kelola”

Riset ini menemukan 72% perusahaan di Indonesia mengumpulkan data lebih cepat  daripada kemampuan mereka untuk menganalisa dan menggunakannya, tapi 67%  menyatakan mereka tetap membutuhkan lebih banyak data daripada kemampuan  yang mereka miliki saat ini. Paradoks ini mungkin terjadi karena:

  • 58% menyimpan mayoritas data di pusat data yang mereka miliki atau kelola sendiri, meskipun mereka tahu manfaat dari pemrosesan data di edge (tempat data dihasilkan).
  • Kepemimpinan data yang buruk: 72% mengakui bahwa dewan direksi mereka belum secara transparan mendukung strategi data dan analitik perusahaan • Strategi TI yang tidak berkembang: 53% perusahaan masih menggunakan sistem yang menyimpan data mentah (data lake), daripada mengonsolidasikan data yang sudah mereka miliki.
Data Paradoks Dell

Akibatnya, ledakan data ini membuat perusahaan harus bekerja lebih keras, bukan  lebih mudah: 63% mengeluh data yang mereka miliki begitu banyak sehingga tidak  bisa memenuhi persyaratan keamanan dan kepatuhan, 67% mengatakan tim  mereka sudah kewalahan dengan data yang mereka miliki.

Selain itu, 60% perusahaan di Indonesia menyatakan kurangnya ahli data (data science) internal menjadi hambatan untuk bisa mengambil, menganalisis, dan menindaklanjuti data dengan lebih baik dan kurang memadainya keterampilan teknis (58%) untuk  mengelola sistem penyimpanan data mentah, tapi hanya 19% perusahaan yang  secara aktif merekrut ilmuwan digital dan/atau pengembang software.

3. Paradoks “Melihat Tanpa Bertindak”

Dalam 18 bulan terakhir, sektor on-demand berkembang pesat, memicu gelombang  baru bisnis yang menerapkan data-pertama (data-first) dan data-dari-manapun  (data-anywhere). Tapi masih sedikit (21%) perusahaan di Asia Pasifik dan Jepang yang telah mengalihkan sebagian besar aplikasi dan infrastruktur TI mereka ke model as-a-Service, sementara di Indonesia baru 12%. Meskipun demikian, perusahaan-perusahaan di Indonesia:

  • 65% melihat peluang untuk mengembangkan atau mengubah permintaan konsumen
  • 68% yakin aaS bisa membuat perusahaan lebih tangkas/lincah • 64% memprediksi perusahaan bisa menyediakan aplikasi dengan cepat dan mudah (hanya dengan satu sentuhan tombol)
  • Model on-demand akan membantu 81% perusahaan di Indonesia yang saat ini tengah menghadapi salah satu atau semua hambatan berikut untuk bisa mengumpulkan, menganalisis, dan mengambil keputusan yang berbasis data  dengan lebih baik – yaitu, biaya penyimpanan yang mahal; gudang data yang  tidak dioptimalkan; infrastruktur TI yang ketinggalan zaman; proses yang  terlalu manual untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Harapan di Masa Depan

Meskipun banyak perusahaan mengalami kesulitan saat ini, banyak perusahaan di Indonesia yang ingin menciptakan masa depan yang lebih baik, diantaranya: 54% berencana untuk menerapkan pembelajaran mesin (machine learning) untuk mengotomatisasi cara mendeteksi data anomali, 58% akan beralih ke model data as-a-service dan 55% berencana untuk melakukan evaluasi menyeluruh kinerja stack mereka agar bisa merancang ulang cara mereka memproses dan menggunakan data dalam 1-3 tahun ke depan.

Ada tiga cara perusahaan dapat mengubah data dari beban menjadi keunggulan:

  1. Modernisasi infrastruktur TI untuk bisa langsung memproses data di sumbernya, yaitu di edge. Langkah ini termasuk membawa infrastruktur dan aplikasi perusahaan lebih dekat ke lokasi dimana data perlu diambil, dianalisis, dan ditindaklanjuti – sambil mencegah pertumbuhan data dengan mempertahankan model operasional multi-cloud yang konsisten
  2. Mengoptimalkan saluran data, sehingga data dapat mengalir dengan bebas dan aman saat ditambahkan kemampuan Artificial Intelligent (AI)/Machine Learning (ML)
  3. Mengembangkan software yang menghadirkan pengalaman personal dan terintegrasi yang diinginkan konsumen. Dell Technologies hari ini mengumumkan hasil riset global* yang disponsori perusahaan dan dilaksanakan oleh Forrester Consulting. Riset ini menemukan bahwa sebagian besar perusahaan di Indonesia kewalahan menangani  perkembangan data yang sangat cepat. Alih-alih menjadi nilai tambah kompetitif bagi perusahaan, data malah jadi beban karena sejumlah faktor penghambat, antara lain: kesenjangan keahlian (skill gap) untuk mengelola data, silo data, proses manual, silo bisnis, dan kurangnya keamanan data pribadi. Riset “Data Paradoks” ini dipicu oleh besarnya volume, kecepatan, dan ragam data yang membanjiri  perusahaan, teknologi, sumber daya manusia, dan proses.
Share
Load Comments

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

April 27, 2026 - 0

Review Acer Predator Helios 16 AI: Laptop Gaming 16″ Paling “Monster” dari Acer!

Ini adalah Acer Predator Helios 16 AI! Walaupun ukurannya 16…
April 26, 2026 - 0

Review ASUS ROG Strix G16 (G615): Laptop ROG Kelas Atas dengan RTX 5080, Sekencang Apa?

Ini adalah Laptop Gaming Monster dari ASUS yang performanya super…
April 13, 2026 - 0

Review Axioo Hype AI 5: Racikan Kencang Merk Lokal dengan Intel Core Ultra

Ini Laptop tipis dan ringan pertama dari Axioo dengan prosesor…
April 10, 2026 - 0

Review ADVAN Workplus AI: Makin “Plus” Buat Kerja Berat dan Main Game

Laptop tipis dan ringan ini punya tipe GPU yang mirip…

Gaming

April 28, 2026 - 0

Sega Luncurkan SEGA Universe Guna Bangkitkan Game Klasiknya

Sega resmi meluncurkan program SEGA Universe, strategi baru untuk menghidupkan…
April 28, 2026 - 0

Final Fantasy XIV Berikan Tanggal Rilis Resmi di Switch 2

Square Enix secara resmi tentukan tanggal rilis untuk Final Fantasy…
April 28, 2026 - 0

CEO Xbox Jelaskan Rencana Membuat Console Itu Jadi Platform Terbuka

CEO Xbox Asha Sharma menjelaskan visinya jadikan Xbox sebagai platform…
April 28, 2026 - 0

Atari Akuisisi Implicit Conversion Demi Perkuat Preservasi Game Klasik

Atari resmi mengakuisisi Implicit Conversion, studio spesialis emulasi yang dikenal…