Cisco: 12% Perusahaan di Indonesia Siap Hadapi Ancaman Siber, Sisanya Modal PeDe
CMenurut hasil studi terbaru dari Cisco, hanya 12% organisasi di Indonesia yang memiliki tingkat kesiapan “Mature” dalam menghadapi risiko keamanan siber modern. Mayoritas, yaitu 53%, masih berada dalam tahap “Pemula” atau “Formatif”.
Hasil Cybersecurity Readiness Index 2024 dari Cisco menyoroti kesenjangan antara keyakinan dan kesiapan perusahaan dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang. Meskipun sekitar 93% perusahaan merasa cukup percaya diri dengan kemampuan mereka, faktanya infrastruktur mereka masih belum m
Jeetu Patel, Executive Vice President dan General Manager Security and Collaboration di Cisco, mengingatkan bahwa ancaman siber tidak boleh diabaikan meskipun perusahaan merasa terlalu percaya diri. Perusahaan perlu memprioritaskan investasi dalam platform terintegrasi dan mengadopsi kecerdasan buatan (AI) untuk beroperasi dalam skala yang lebih besar.
Baca Juga: Strategi Intel Enterprise di Industri AI: Hardware, Software hingga Security
Selain itu, temuan dari Cisco juga mengindikasikan bahwa 96% responden meramalkan akan terjadi insiden keamanan siber yang mengganggu bisnis dalam 12 hingga 24 bulan mendatang, sementara 63% responden telah mengalami insiden dalam 12 bulan terakhir. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa 76% organisasi memiliki 10 atau lebih solusi keamanan titik yang berbeda, yang dapat menghambat respons terhadap insiden.

Dari segi perilaku pengguna, 93% perusahaan melaporkan bahwa karyawan mereka mengakses platform perusahaan dari perangkat yang tidak dikelola, sementara 97% perusahaan mengalami kekurangan talenta keamanan siber. Meskipun demikian, 84% perusahaan berencana untuk meningkatkan infrastruktur IT mereka dalam 12 hingga 24 bulan mendatang.
Untuk mengatasi tantangan ini, Cisco merekomendasikan agar perusahaan mempercepat investasi dalam keamanan, termasuk solusi inovatif dan platform terintegrasi. Selain itu, perusahaan perlu memperkuat ketahanan jaringan dan menerapkan AI untuk meningkatkan deteksi dan respons terhadap ancaman. Dalam hal SDM, perusahaan juga perlu meningkatkan perekrutan dan pelatihan untuk mengatasi kekurangan talenta keamanan siber.













