Polisi Lalu Lintas China Pakai Kacamata AI untuk Identifikasi Kendaraan
Petugas polisi lalu lintas di Changsha, Tiongkok, kini mulai menggunakan kacamata pintar berbasis AI untuk mengidentifikasi kendaraan dan pengemudi. Perangkat ini dirancang untuk membantu petugas dalam melakukan proses pemeriksaan di lapangan. Lewat kacamata AI tersebut, petugas dapat memperoleh informasi kendaraan hanya dalam hitungan detik.

Kacamata AI Membantu Tugas Polisi Lalu Lintas
Salah satu fitur utama kacamata AI ini adalah sistem pengenalan plat nomor kendaraan secara otomatis. Jadi, sistem ini bakal mengidentifikasi kendaraan yang terhubung langsung ke basis data lalu lintas milik keamanan publik. Lewat koneksi ini, petugas dapat melihat informasi registrasi kendaraan, status inspeksi, hingga catatan pelanggaran secara real-time. Menariknya, teknologi pengenalannya juga dirancang agar tetap akurat dalam berbagai kondisi pencahayaan, baik siang maupun malam hari.
Pihak kepolisian setempat menyebut penggunaan kacamata AI ini mampu memangkas waktu pemeriksaan secara signifikan. Proses inspeksi satu lajur yang sebelumnya butuh waktu sekitar 30 detik kini bisa selesai hanya dalam satu hingga dua detik. Efisiensi inilah yang dinilai sangat membantu petugas, terutama saat menangani lalu lintas padat.

Selain untuk identifikasi kendaraan, kacamata pintar ini juga memiliki fungsi tambahan seperti pengenalan wajah, penerjemahan suara real-time, serta perekaman video langsung di lokasi kejadian untuk kebutuhan penegakan hukum. Dari sisi perangkat keras, kacamata AI ini dibekali kamera beresolusi 12 MP yang punya dukungan stabilisasi. Dengan baterai terisi penuh, perangkat ini diklaim mampu beroperasi hingga delapan jam.
Baca Juga: LG Umumkan Micro RGB evo, Teknologi TV Flagship Terbaru!
Secara keseluruhan, penggunaan kacamata AI ini menunjukkan bagaimana teknologi mulai berperan langsung dalam meningkatkan efisiensi kerja aparat lalu lintas. Kalau perangkat ini dinilai efisien di Tiongkok, tidak menutup kemungkinan kalau penggunaan teknologi ini bakal meluas ke negara lain. Kalau menurut kalian gimana, apakah sistem seperti ini perlu diterapkan di Indonesia?















