Pendeteksi AI Tumbang oleh Gambar AI
Teknologi pendeteksi gambar AI kembali dipertanyakan setelah sebuah eksperimen sederhana menunjukkan betapa mudahnya sistem ini dikelabui. Uji coba tersebut memakai satu gambar buatan AI dan enam layanan deteksi populer. Hasilnya, hampir semuanya tumbang hanya dengan sentuhan edit ringan.

Gambar uji dibuat menggunakan Nano Banana Pro, generator gambar berbasis Google Gemini yang relatif baru. Prompt-nya tidak rumit, hanya menggambarkan seorang perempuan berpose seperti bertarung sambil memegang pisang, dengan latar kota dan orang-orang yang acuh tak acuh. Justru kesederhanaan ini yang dipakai untuk melihat sejauh mana alat deteksi bisa bekerja.
Dibuat Menggunakan Nano Banana Pro
Masalah pertama muncul dari usia teknologi itu sendiri. Karena Nano Banana Pro belum umum dipakai, banyak alat deteksi belum mengenali pola khasnya. Sebagian besar sistem masih bergantung pada data dari generator populer seperti Midjourney, DALL-E, atau Stable Diffusion. Model baru pun dengan mudah lolos dari radar.
Pada tahap awal pengujian, gambar hanya diubah formatnya dari PNG ke JPG dan metadata dihapus. Watermark Gemini masih terlihat jelas. Namun hasilnya cukup mengejutkan, dua dari enam alat justru menilai kemungkinan gambar AI tersebut rendah.
Baca Juga: NVIDIA Tunda Rilis GeForce RTX 50 SUPER ‘Tanpa Batas Waktu’ • Jagat Review
Tahap berikutnya lebih realistis. Watermark dihapus menggunakan fitur AI eraser bawaan aplikasi Windows Photos. Prosesnya hanya butuh hitungan detik. Setelah itu, satu alat tambahan ikut terkecoh. Tiga layanan bahkan menilai kemungkinan gambar buatan AI di bawah 30 persen.
Tahap terakhir menjadi penentu. Gambar diedit agar terlihat lebih “manusiawi” dengan menambahkan noise, meningkatkan kontras, memberi efek aberasi warna, dan koreksi lensa menggunakan software umum. Tujuannya sederhana, membuat gambar tampak seperti hasil jepretan kamera sungguhan yang tidak sempurna.
Hasil Deteksi: Gambar AI Disebut Asli
Hasil akhirnya benar-benar telak. Keenam alat deteksi menyatakan kemungkinan AI di bawah 5 persen. Bagi sistem tersebut, gambar perempuan dengan pisang itu kini dianggap foto asli tanpa keraguan.

Eksperimen ini menunjukkan bahwa teknologi pendeteksi gambar AI masih jauh dari kata siap. Jika hanya perlu beberapa menit dan software standar untuk mengelabui sistem, alat-alat ini bukan hanya tidak bisa diandalkan, tetapi juga berisiko. Terutama ketika digunakan di ranah serius seperti hukum, media, atau penegakan aturan, rasa aman palsu bisa menjadi masalah yang jauh lebih besar daripada ketiadaan deteksi itu sendiri.













