Peneliti Kembangkan Revoice, Alat Bantu Bicara Untuk Pasien Stroke
Peneliti dari University of Cambridge mengembangkan perangkat wearable bernama Revoice yang cukup fungsional, khususnya untuk para pasien penyintas stroke. Dengan alat ini, mereka yang mengalami gangguan bicara, akan bisa berkomunikasi secara lebih alami, tanpa perlu operasi implan chip di otak.

Revoice menyasar pengguna dengan dysarthria,yaitu gangguan bicara akibat melemahnya otot-otot penghasil suara yang dialami sekitar 22 hingga 58 persen pasien stroke. Kondisi ini sering membuat pasien kesulitan menyampaikan pikiran, meski mereka tahu persis apa yang ingin dikatakan, dan ini membuat mereka frustasi.
Cara Revoice Bantu Pengguna Bisa Bicara Kembali
Berbeda dengan alat bantu komunikasi yang mengandalkan pengetikan huruf satu per satu, pelacakan mata, atau implan otak, Revoice bekerja hanya dari gerakan mulut tanpa suara. Ucapan yang kurang jelas dari mulut pasien, nantinya bisa diubah jadi kalimat utuh menggunakan AI.
Revoice dikenakan di leher seperti kalung berbahan lembut dan fleksibel. Perangkat ini menangkap getaran halus dari otot tenggorokan serta memantau detak jantung melalui sensor tekstil yang sangat sensitif. Data tersebut diproses oleh dua sistem AI secara bersamaan.
Sistem pertama merekonstruksi kata dari gerakan mulut yang nyaris tak terdengar. Sistem kedua membaca kondisi emosi pengguna dengan menggabungkan data denyut nadi dan konteks, seperti waktu penggunaan. Hasilnya kemudian diperkaya oleh model bahasa berukuran ringan untuk membentuk kalimat lengkap.
Hasil Uji Coba Revoice
Dalam salah satu contoh uji coba, pasien hanya menggerakkan mulut dengan kalimat singkat “We go hospital”. Revoice lalu mengubahnya menjadi kalimat yang lebih utuh dan sesuai situasi, dengan mempertimbangkan detak jantung yang meningkat dan waktu yang sudah larut.
Baca Juga: Mengenang Dr. Gladys West, Sosok Dibalik Teknologi GPS • Jagat Review
Uji coba awal melibatkan lima pasien stroke dengan dysarthria serta sepuluh partisipan sehat, bekerja sama dengan peneliti di China. Hasilnya, tingkat kesalahan kata tercatat 4,2 persen, sementara kesalahan kalimat hanya 2,9 persen. Para peserta juga melaporkan tingkat kepuasan 55 persen lebih tinggi dibandingkan teknologi bantu komunikasi yang biasa mereka gunakan.
Masih Terus Diuji
Meski hasil awalnya menjanjikan, tim peneliti menegaskan bahwa uji klinis berskala besar masih dibutuhkan sebelum Revoice bisa digunakan secara luas. Studi lanjutan untuk pasien dysarthria penutur asli bahasa Inggris dijadwalkan berlangsung di Cambridge tahun ini.
Ke depan, Revoice ditargetkan mendukung banyak bahasa, lebih banyak variasi emosi, serta beroperasi sepenuhnya mandiri untuk penggunaan harian. Teknologi ini juga berpotensi membantu pasien dengan Parkinson dan penyakit neuron motorik. Menurut para peneliti, Revoice bukan sekadar alat bantu bicara, tetapi sarana untuk mengembalikan kemandirian dan martabat pasien dalam berkomunikasi sehari-hari.














