ReRAM Siap Jadi Alternatif di Tengah Krisis Storage, Apa Itu?
Di tengah kondisi pasar storage yang sedang menghadapi keterbatasan pasokan, teknologi ReRAM atau resistive random access memory kembali mencuat yang dulu sempat digadang bakal menggantikan chip flash. Teknologi ini sebenarnya sudah dikembangkan sejak lama, namun baru belakangan dianggap siap untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Meski mengandung kata “RAM”, ReRAM sejatinya bukan memori seperti DRAM. ReRAM termasuk non-volatile memory, artinya data tetap tersimpan meski perangkat dimatikan, mirip seperti NAND flash yang digunakan di SSD. Keunggulannya ada pada cara akses yang jauh lebih cepat, sehingga sering digambarkan sebagai kombinasi kecepatan RAM dan sifat penyimpanan storage.
Dibandingkan flash konvensional, ReRAM juga diklaim lebih hemat daya dan lebih tahan terhadap proses tulis ulang. Karakter ini membuatnya ideal untuk perangkat mobile seperti smartphone, wearable, hingga laptop yang sangat bergantung pada efisiensi baterai. Selain itu, ReRAM berpotensi meningkatkan keandalan perangkat dalam jangka panjang.
Menariknya, ReRAM bisa diintegrasikan langsung ke dalam SoC sebagai embedded memory. Dengan pendekatan ini, proses booting bisa lebih cepat, desain chip lebih ringkas, dan biaya produksi berpotensi ditekan. Namun, di era itu tantangan utamanya adalah dari segi produksinya yang sulit sehingga adopsinya tidak cukup masif dibandingkan chip NAND flash yang sudah matang.
Sekarang dengan teknologi fabrikasi yang sudah semakin canggih, ReRAM dianggap siap untuk masuk ke skala produksi yang lebih besar dan momentumnya bisa dibilang sangat tepat dikondisi sekarang. Startup Weebit Nano melihat ini sebagai kesempatan dan baru-baru ini mereka menandatangani kerja sama lisensi dengan Texas Instruments untuk produksi ReRAM.
Pertanyaannya, apakah ReRAM akhirnya akan benar-benar menggantikan flash?













