Panduit Technology Day Indonesia Soroti Tantangan Infrastruktur di Era AI
Panduit menggelar Technology Day di Indonesia pada 28 April 2026 dengan fokus pada kesiapan infrastruktur menghadapi lonjakan kebutuhan AI. Acara ini mempertemukan profesional TI, mitra, dan pelaku industri untuk membahas perubahan besar di data center dan lingkungan enterprise. Pembahasan utamanya berkisar pada bagaimana infrastruktur harus menyesuaikan diri dengan beban kerja AI yang semakin berat dan kompleks.

Pertumbuhan AI global yang disebut mencapai CAGR sekitar 40 persen ikut mendorong perubahan desain infrastruktur secara menyeluruh. Data center kini dituntut menangani densitas daya yang lebih tinggi, kebutuhan pendinginan yang lebih ketat, serta konektivitas yang jauh lebih cepat. Kondisi ini membuat fondasi infrastruktur, baik dari sisi listrik maupun jaringan, menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Panduit membagi pembahasan ke dalam tiga domain utama yaitu infrastruktur kelistrikan, jaringan enterprise, dan jaringan data center. Pada sisi kelistrikan, perhatian diarahkan ke stabilitas daya, sistem grounding, serta manajemen kabel untuk menjaga keandalan operasional. Sementara itu, jaringan enterprise dan data center menyoroti peningkatan bandwidth, fiber berdensitas tinggi, serta desain kabinet dan distribusi daya yang lebih efisien.
Kebutuhan AI juga mengubah standar performa di data center, terutama dengan penggunaan GPU yang membutuhkan daya besar dalam ruang terbatas. Beban kerja ini bisa mencapai puluhan hingga ratusan kilowatt per rak, sehingga memunculkan tantangan baru pada pendinginan dan distribusi daya. Infrastruktur yang tidak siap berisiko menimbulkan bottleneck, peningkatan biaya operasional, hingga gangguan layanan.
Selain aspek teknis, acara ini juga menekankan pentingnya ekosistem dan kemitraan dalam implementasi infrastruktur. Kolaborasi antar teknologi dinilai dapat mengurangi kompleksitas sekaligus meningkatkan keandalan solusi yang diterapkan. Pendekatan ini membantu organisasi mendapatkan sistem yang lebih terintegrasi dan siap menghadapi perubahan kebutuhan ke depan.
Di Indonesia, kesiapan menuju implementasi AI skala besar disebut mulai terlihat dengan adanya peningkatan investasi digital dan dukungan kebijakan. Namun, masih ada tantangan yang perlu diselesaikan, terutama pada kapasitas daya, konektivitas, dan ketersediaan tenaga ahli. Tanpa pengembangan infrastruktur yang sejalan, adopsi AI berisiko terhambat dan sulit berkembang optimal.
Panduit juga menyoroti peluang bagi UKM untuk ikut memanfaatkan AI melalui infrastruktur yang modular dan efisien. Integrasi dengan cloud serta pemilihan solusi yang sesuai kebutuhan dinilai bisa menekan biaya sekaligus menjaga performa. Diskusi ini membuka gambaran bahwa transformasi berbasis AI tidak hanya untuk perusahaan besar, tetapi juga bisa diakses lebih luas.













