[PR] 5 Mitos yang Salah Tentang Berbisnis dan Bekerja di Negara Berkembang

Reading time:
August 26, 2014

5 Mitos yang Salah Tentang Berbisnis dan Bekerja di Negara Berkembang

Portal pencarian properti, Lamudi Indonesia, mengungkapkan 5 mitos yang paling populer dalam menjalankan bisnis dan bekerja di negara berkembang

JAKARTA, 25 Agustus, 2014: Perubahan global saat ini sedang terjadi. Berkat akses serta penggunaan internet yang lebih mudah dan meningkat, tentunya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang signifikan di sejumlah negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Akibatnya adalah terbukanya kesempatan yang lebih besar dan menjanjikan dalam banyak sektor.

Logo Lamudi

Namun seiring dengan perubahan ini, terdapat sejumlah mitos yang beredar seputar berbisnis dan bekerja di Negara berkembang. Lamudi—portal properti global yang beroperasi eksklusif di 28 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah—hendak meluruskan mitos-mitos ini.

1. Cuma Ada 5 Negara Emerging Market
Konon hanya ada lima negara yang diakui sebagai negara berkembang. Disingkat dengan akronim BRICS, negara-negara itu adalah: Brazil, Russia, India, China, South Africa (Afrika Selatan). Anggapan ini, tentu saja tidak benar.

Dipopulerkan oleh Antoine W. Van Agtmael, istilah “emerging market” didefinisikan sebagai negara dengan ekonomi rendah menuju ke level menengah pendapatan per kapita. Karenanya ada banyak negara lain yang bisa dikategorikan sebagai emerging market. Contohnya negara-negara seperti: (Philippines) Filipina, Indonesia, Nigeria, dan Ethiopia (dikenal pula dengan nama ‘The PINEs’).

Keempat negara ini mengalami peningkatan aktivitas bisnis yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Perkembangan masyarakat kelas menengah, kinerja ekonomi yang kuat, kemajuan teknologi, peningkatan kesehatan dan pendidikan semakin baik dari waktu ke waktu.

2. Tak Ada Peluang untuk Bisnis Kecil
Katanya hanya perusahaan-perusahaan besar dan terkenal saja yang bisa sukses di kawasan Negara berkembang. Persepsi ini bisa dimaklumi, walau sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Tentu saja usaha kecil juga punya peluang menjadi bagian dari ekonomi berkembang. Bahkan, bisnis yang tengah tumbuh lebih memungkinkan untuk memberikan pelayanan yang lebih dekat kepada para konsumennya.

Bisnis kecil juga lebih memiliki fleksibilitas dalam bekerjasama dengan perusahaan lokal lainnya untuk membantu memperkuat infrastruktur ekonomi negara. Fenomena banyak lahirnya startup di Indonesia pun menjadi sebuah bukti bahwa kegiatan usaha dengan modal yang ‘kecil’ (dibandingkan korporasi besar) bukanlah hal yang tidak mungkin dilakukan.

3. Akses Internet yang Sulit
Ini mitos yang tidak benar. Sebaliknya, penetrasi internet di negara-negara berkembang meningkat setiap hari, dengan tingkat adopsi smartphone tumbuh hampir dua kali lebih cepat di pasar negara berkembang. Menurut data dari Kemkominfo, penguna aktif internet di Indonesia sudah mencapai angka 82 juta orang, dimana dua tahun lalu jumlahnya ‘hanya’ mencapai 63 juta saja, yang artinya akses internet di negeri ini semakin mudah untuk didapat.

4. Negera Berkembang Terlalu Beresiko
Selalu ada resiko yang perlu dipertimbangkan ketika berinvestasi di lokasi pasar yang baru. Akan tetapi, berinvestasi di negara-negara berkembang memberikan berbagai peluang yang menarik. Misalnya, dalam Emerging Trends in Real Estate Asia Pasifik 2014, sebuah laporan bersama dari Urban Land Institute (ULI) dan PwC, Manila—ibukota Filipina—diperhitungkan sebagai salah satu dari lima kota berpotensi investasi terbaik di kawasan Asia Pasifik, termasuk pula Jakarta.

5. Hanya Euforia
Bukan, ini bukan euforia. Aktivitas ekonomi yang meningkat drastis di sejumlah negara berkembang itu nyata. Meskipun ada tantangan yang harus diperhitungkan ketika menyusun strategi di pasar berkembang, peluang yang sangat luas pun berada di depan mata. Pastikan seluruh keputusan untuk terjun langsung ke bisnis di negara berkembang dibuat dengan teliti, dimana strategi realistis harus disiapkan dengan matang.[]

Share

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

October 29, 2026 - 0

Review Lenovo Legion Pro 5i Gen 10: Laptop Gaming Premium dengan RAM 32 GB Paling Worth It?

Ini adalah laptop High Performance kelas atas yang super worth…
October 28, 2026 - 0

Review HP Omnibook Ultra 14 (2026): Super Tipis, Desain Mewah, Performa Maksimal

Ini adalah laptop kelas premium dari HP yang beneran mewah!…
October 26, 2026 - 0

Review Infinix XBOOK 14 Neo: Laptop 2026 yang Terjangkau, Ringan, dng Warna Bodi Ceria

Laptop dengan nama “NEO” ini ternyata harganya mulai dari 7…
October 23, 2026 - 0

Review Axioo Hype Ai 5 (G3): Kencang & Irit dgn Intel Core Series 3 Wildcat Lake, Harga Terjangkau!

Ini salah satu laptop “Core 5 Series 3” paling terjangkau…

Gaming

October 31, 2026 - 0

Honkai: Star Rail Version 4.7 Bawa Kisah Penutup Planarcadia Arc

Honkai: Star Rail Version 4.7 akhirnya membawa kisah penutup dari…
October 31, 2026 - 0

Visa Gandeng MOONTON Untuk Perkuat Ekosistem Gaming Indonesia

Visa berkolaborasi dengan MOONTON sebagai Global Payment Partner M Series…
October 31, 2026 - 0

GameSir G7 Pro Controller Bawa Nuansa Vice City Dari GTA 6

GameSir luncurkan G7 Pro Sunset Boulevard dan Ocean Breeze, hadirkan…
October 31, 2026 - 0

Nintendo Indie World Showcase Pamerkan 23 Game Indie

Nintendo Indie World Showcase untuk Oktober 2026 menampilkan 23 game…