[PR] Bisnis di Indonesia Memulai Perjalanan Menuju Software-Defined Enterprise di Tahun 2015
![[PR] Bisnis di Indonesia Memulai Perjalanan Menuju Software-Defined Enterprise di Tahun 2015 1 3](https://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2014/11/34-500x333.jpg)
Arah adopsi teknologi TI di Indonesia mengindikasikan bahwa bisnis pada kategori virtualisasi tingkat tinggi diprediksi akan bertambah lebih dari dua kali lipat (dari 15 menjadi 32 persen) di tahun 2016
JAKARTA, November 18, 2014 – VMware Inc (NYSE: VMW), pemimpin global pasar virtualisasi dan infrastruktur cloud, mengumumkan kotmitmen mereka untuk memungkinkan bisnis di Indonesia memulai langkah untuk membangun software-defined enterprises. Sebagai upaya dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan kesempatan di era mobile-cloud, VMware meluncurkan solusi-solusi terbaru produk software-defined data center, manajemen cloud, dan end-user computing. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap hasil temuan terbaru oleh VMware yang mengungkapkan bahwa bisnis di Indonesia memiki pandangan yang positif terhadap bisnis adopsi teknologi di dalam kategori virtualisasi tingkat tinggi diprediksi akan bertambah lebih dari dua kali lipat, dari 15 menjadi 32 persen di dalam dua tahun ke depan.
Sebanyak 1.090 bisnis, para manajer TI dan pembuat keputusan telah berpartisipasi dalam penelitian yang dilakukan dari bulan September sampai dengan Oktober 2014 ini.
Terlebih lagi, sebuah whitepaper dari IDC berjudul “Empowering Organizations in a Software Defined World”, yang dituliskan dengan otorisasi dari VMware di bulan Oktober 2014, mengungkapkan bahwa bisnis di Indonesia dapat mengurangi biaya sebesar USD1.6 milyar dalam rentang waktu tahun 2003 – 2020 sebagai akibat langsung dari virtualisasi pada compute, storage, dan networking, dan menggunakan pendekatan software-defined dalam mengatur TI. Penghematan ini menurut IDC Datacenter Economies Index datang dari empat area utama yaitu perangkat keras (USD802 juta), real estate/pemeliharaan (USD15 juta), administrasi (USD207 juta), dan daya serta pendinginan (USD 217 juta) dalam rentang waktu hanya dari tahun 2014 – 2020.
Sudey Bangah, Associate Research Director and Head of Operations IDC Indonesia mengakatakan bahwa “Kemampuan yang lebih baik lagi dalam memanfaatkan nilai dari datacenter akan menjadi poin pembeda yang sangat penting di tahun 2015 dan setelahnya. IDC Datacenter Economies Index terbaru menggarisbawahi nilai penghematan sebesar USD1.6 milyar akan menaikan potensi sebuah bisnis dan fleksibilitasnya dalam berinvestasi, juga cadangan kekayaan yang dapat dipergunakan lebih baik dalam pasar yang sangat terbatas dalam segi sumber daya.”
“Sejalan dengan masterplan Indonesia yang mengedepankan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi sebagai pilar utama dalam mendorong perkembangan ekonomi Indonesia, kami percaya bahwa pendekatan TI dan software-defined enterprise di pembangunan infrastruktur akan dapat berperan sangat penting dalam memungkinkan bisnis di Indonesia untuk menjadi lebih lincah dan efisien. Dengan dorongan yang besar bagi bisnis di Indonesia untuk menaikkan produktivitas maka peluncuran teknologi yang didukung software-defined data center tidak hanya dapat memperkuat efisiensi sumber daya dan penghematan biaya namun juga memungkinkan bisnis menggunakan teknologi ini untuk mengotomasi proses dan pada akhirnya memungkinkan pertumbuhan bisnis itu sendiri. Efisiensi biaya yang sudah terbukti ini dapat merubah status TI dari cost center menjadi strategic contributor di dalam suatu bisnis.” Jelas Andreas Kagawa, country manager VMware Indonesia.
Temuan Utama dari VMware Indonesia Business Surver (2014):
Penghematan biaya dari pemulihan bencana, keamanan dan enterprise digarisbawahi sebagai prioritas bisnis untuk tahun 2015
- Bisnis di Indonesia mendefinisikan tiga prioritas utama di tahun 2015 yaitu pemulihan bencana dan kelangsungan bisnis (33 persen), penyediaan keamanan TI dan proteksi data (31 persen) dan penurunan biaya perusahaan (25 persen)
Adanya fokus yang tajam terhadap pengalihan kepada software-data center adalah sebuah efek dari bertambahnya keunggulan teknologi dari virtualisasi. Dalam pencarian untuk mendapatkan produktivitas maksimal di antara bisnis, perusahaan di Indonesia yang dapat secara cepat menyediakan berbagai layanan dalam lingkungan yang aman dan dengan ketersediaan yang tinggi, dan dalam saat yang sama dapat secara dinamis berkembang dengan tingkat pengeluaran yang efektif, akan dapat sukses di era baru ini.
Bisnis mengharapkan software-defined data center untuk dapat mengoptimalkan penggunaan sumberdaya dan memperbaiki efektivitas operasional
- Optimasi penggunaan sumber daya (31 persen) dan perbaikan efektivitas operasional (27 persen) disebut sebagai alasan utama dari adopsi software-defined data center
Ada pergeseran paradigma di dalam ekspektasi TI terhadap perusahaan dari perannya sebagai pendorong produktivitas dan efisiensi menjadi berperan sebagai katalisator dalam meraih hasil bisnis. Dengan berbagai upaya untuk terus memajukan pertumbuhan ekonomi dan tantangannya, termasuk sumber daya lahan dan manusia yang lebih kecil, bisnis di Indonesia butuh untuk memperitimbangkan adopsi tekonologi seperti virtualisasi dan software-defined data center untuk efisiensi operasional dan penggunaan sumber daya yang lebih optimal. Unsur efisiensi penggunaan storage dari virtualisasi telah memungkinkan penurunan dalam kebutuhan kapasitas storage dalam bentuk fisik. Dari penurunan kebutuhan storage fisik ini, lebih banyak lagi penghematan dapat direalisasikan dalam bentuk penurunan belanja perangkat keras, biaya dari kebutuhan daya dan pendingin, lahan data center, dan administrasi storage.
Biaya dan kultur bisnis sebagai penghalang utama dalam adopsi
- Biaya (46 persen) dan kultur bisnis (27 persen) disebut sebagai halangan utama dalam adopsi Software-Defined Data Centers
Selain biaya, tantangan signifikan lain bagi perusahaan yang ingin mengadopsi teknologi baru datang dari kultur bisnis itu sendiri. Isu ini tampak jelas ketika memperhatikan hasil temuan dalam IDC Asia/Pacific Transformative Infrastructure Index, yang menunjukkan ketertarikan kuat di sekitar berbagai teknologi baru, dan kurangnya fokus kepada eksekusi dari proyek TI yang secara strategis selaras dengan strategi bisnis. Banyak yang berpendapat bahwa isu ini muncul dari kurangnya dana, yang di mana kurangnya dana ini juga bisa disebabkan oleh cara pandang bisnis itu sendiri. Apabila ada keselarasan dari proyek TI dengan hasil bisnis yang terukur, maka kemampuan sebuah perusahaan untuk mencari dana yang dibutuhkan demi penyediaan kapabilitas ini akan meningkat.
Demi menunjang bisnis dalam misi mereka mempebaiki efisiensi dan biaya, VMware juga baru-baru ini mengumumkan solusi terbaru dalam end-user computing, berbagai penawaran dalam cloud management, dan kapabilitas baru untuk hybrid cloud, termasuk di dalamnya VMware Horizon® FLEX™,VMware vRealize™ Suite 6, VMware vRealize Code Stream™ dan VMware vRealize Air™ Compliance.
Ajang VMware Solutions Symposium Indonesia ini juga menampilkan teknologi dan solusi terbaru dari VMware yaitu:
Software-Defined Data Center: Software-defined data center adalah strategi dan masa depan dari bisnis di Indonesia dalam perjalanannya membangun software-defined enterprise. Platform ini menawarkan arsitektur yang ideal di mana semua sumber daya telah divirtualisasi dan disediakan melalui private, public dan hybrid cloud, dan menyediakan fleksibilitas, efisiensi, ketangkasan, kendali, dan pilihan optimal untuk TI dan bisnis.
Hyper-Converged Infrastructure: VMware EVO: RAIL™ memacu pergerakan pelanggan menuju software-defined data center. Perangkat ini menghilangkan beban dari integrasi, optimalisasi, konfigurasi, pengujian, instalasi, dan on-going management, upgrading, dan patching dari tim TI.
Virtualisasi Jaringan: VMware NSX™ adalah platform virtualiasi jaringan dan keamanan untuk software-defined data center. NSX membawa virtualisasi ke jaringan yang sudah ada di perusahaan dan mengubah operasional jaringan dan nilai ekonomisnya.
Software-Defined Storage: VMware Virtual SAN™ secara otomatis dan dinamis dapat menyamakan diri dengan kebutuhan sumber daya storage yang ada. Dengan Virtual SAN, banyak tugas storage manual dapat diotomasi sehingga operasional dapat berjalan dalam bentuk yang efisien dan efektif dalam hal biaya.
Teknologi Open Cloud: Solusi VMware Integrated OpenStack™ memungkinkan perusahaan TI untuk secara cepat dan murah menyediakan OpenStack APIs dan perangkat yang developer-friendly di atas dari infrastruktur VMware yang sudah mereka miliki. Mereka bisa menyediakan infarstruktur yang API-driven untuk developer sendiri, dan memulangkan beban kerja dari clouds yang tidak dapat diatur dan tidak aman. TI bisa mengatur dan memperbaiki OpenStack cloud dengan perangkat VMware yang mereka sudah punya, yang pada akhirnya dapat menghasilkan penghematan biaya operasional dan time-to-value yang lebih cepat secara signifikan.













