[PR] Kaspersky Lab Ungkap Korban Pertama Dari Worm Terkenal Stuxnet

Reading time:
November 21, 2014
Kaspersky_Lab_Logo

Lebih dari empat tahun telah berlalu sejak ditemukannya salah satu program jahat paling canggih dan berbahaya yaitu the Stuxnet worm, yang dianggap sebagai senjata cyber pertama, namun masih banyak misteri yang belum jelas seputar worm ini. Yang menjadi pertanyaan utama adalah: apa sebenarnya tujuan dari keseluruhan serangan worm Stuxnet ini? Maka, setelah menganalisis lebih dari 2.000 file Stuxnet yang dikumpulkan selama periode dua tahun, peneliti Kaspersky Lab mengidentifikasi korban pertama dari worm ini.

Pada awalnya  para peneliti keamanan yakin bahwa worm Stuxnet ini memiliki target. Dikarenakan kode dari worm Stuxnet tampak professional dan eksklusif; juga terdapat bukti bahwa adanya penggunaan dari kerentanan zero-day yang sangat mahal. Namun, belum diketahui jenis organisasi apa yang pertama kali diserang dan bagaimana malware tersebut akhirnya berhasil sampai ke sentrifugal pengayaan uranium di fasilitas rahasia tertentu.

Namun dari analisis terbaru mampu memberikan pencerahan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang selama ini belum terjawab. Ada lima organisasi pertama yang diserang dan ternyata bekerja di area ICS di Iran yang mengembangkan ICS atau memasok bahan serta komponen. Sementara organisasi kelima yang diserang adalah yang paling menarik karena di antara produk-produk lain untuk industri otomatisasi, organisasi ini menghasilkan mesin pemisah untuk pengayaan uranium. Jenis peralatan seperti inilah yang diyakini menjadi target utama dari worm Stuxnet.

Rupanya, para penyerang mengharapkan bahwa organisasi ini akan bertukar data dengan klien mereka – seperti data fasilitas pengayaan uranium – sehingga hal ini akan memudahkan mereka untuk menempatkan malware ke dalam fasilitas yang menjadi sasaran tersebut. Dan ternyata rencana tersebut memang berhasil.

“Dengan menganalisis kegiatan professional dari organisasi pertama yang menjadi korban Stuxnet memberikan epmahaman yang lebih baik tentang bagaimana seluruh serangan direncanakan. Kesimpulannya adalah hal ini merupakan contoh dari serangan terhadap rantai pasokan, di mana malware yang dikirim ke organisasi sasaran tidak secara langsung melainkan melalui jaringan mitra dimana organisasi yang menjadi sasaran bekerja sama  dengan mitra tersebut,” kata Alexander Gostev, Chief Security Expert Kaspersky Lab.

Ahli Kaspersky Lab membuat penemuan menarik lainnya: worm Stuxnet tidak hanya menyebar melalui USB terinfeksi yang dipasang ke PC. Hal tersebut merupakan teori awal yang menjelaskan bagaimana malware bisa menyelinap ke perangkat  tanpa koneksi internet langsung. Namun, dari data yang dikumpulkan ketika menganalisis serangan paling pertama menunjukkan bahwa sampel worm pertama (Stuxnet.A) dibuat hanya beberapa jam sebelum worm tersebut muncul pada PC di organisasi yang pertama kali diserang. Langkah-langkah serangan dengan waktu yang sangat berdekatan ini membuat sulit untuk membayangkan bahwa seorang penyerang membuat sampel, memasukannya ke dalam USB dan mengirimkannya ke organisasi yang menjadi target hanya dalam beberapa jam. Akan masuk akal untuk mengasumsikan bahwa dalam kasus ini dalang di belakang Stuxnet menggunakan teknik lain, bukan menggunakan USB yang terinfeksi.

Informasi teknis terbaru tentang beberapa aspek yang sebelumnya tidak diketahui mengenai serangan Stuxnet dapat dibaca dalam postingan blog di Securelist dan dalam buku–”Countdown to Zero Day” – yang ditulis oleh wartawan Kim Zetter. Buku ini berisi informasi yang sebelumnya tidak diungkapkan tentang Stuxnet; beberapa informasi ini didasarkan pada wawancara dengan anggota Kaspersky Lab Global Research dan Analysis Team.

Share

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

October 29, 2026 - 0

Review Lenovo Legion Pro 5i Gen 10: Laptop Gaming Premium dengan RAM 32 GB Paling Worth It?

Ini adalah laptop High Performance kelas atas yang super worth…
October 28, 2026 - 0

Review HP Omnibook Ultra 14 (2026): Super Tipis, Desain Mewah, Performa Maksimal

Ini adalah laptop kelas premium dari HP yang beneran mewah!…
October 26, 2026 - 0

Review Infinix XBOOK 14 Neo: Laptop 2026 yang Terjangkau, Ringan, dng Warna Bodi Ceria

Laptop dengan nama “NEO” ini ternyata harganya mulai dari 7…
October 23, 2026 - 0

Review Axioo Hype Ai 5 (G3): Kencang & Irit dgn Intel Core Series 3 Wildcat Lake, Harga Terjangkau!

Ini salah satu laptop “Core 5 Series 3” paling terjangkau…

Gaming

October 31, 2026 - 0

Dune: Awakening Umumkan Expansion Gratis Blood and Ice

Dune: Awakening siapkan konten ekspansi gratis Blood and Ice untuk…
October 31, 2026 - 0

Honkai: Star Rail Version 4.7 Bawa Kisah Penutup Planarcadia Arc

Honkai: Star Rail Version 4.7 akhirnya membawa kisah penutup dari…
October 31, 2026 - 0

Visa Gandeng MOONTON Untuk Perkuat Ekosistem Gaming Indonesia

Visa berkolaborasi dengan MOONTON sebagai Global Payment Partner M Series…
October 31, 2026 - 0

GameSir G7 Pro Controller Bawa Nuansa Vice City Dari GTA 6

GameSir luncurkan G7 Pro Sunset Boulevard dan Ocean Breeze, hadirkan…