Direct Release: Lingkungan Terkoneksi vs Lingkungan Tidak Terkoneksi, Mana Yang Lebih Aman Bagi Fasilitas Industri dan Infrastruktur Publik?

Oleh Andrey Nikishin, Head of Future Technologies Projects, Kaspersky Lab
Secara tradisional, fasilitas industri mengandalkan adanya koneksi langsung ke Internet untuk menjaga infrastruktur kritis mereka jauh dari bahaya. Teknik ‘air gap’ dianggap sesuai untuk melindungi jaringan industri terinfeksi oleh malware atau diserang hacker.
Apabila kita melihat saat ini adanya peningkatan prevalensi Internet yang berarti bahwa fasilitas industri yang sebelumnya terisolasi telah mendapatkan kemampuan dan kebutuhan untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Fasilitas industri semakin terhubung ke Internet untuk alasan yang berbeda. Kontraktor pihak ketiga (vendor dan integrator hardware dan software) perlu melakukan pemeliharaan peralatan mereka, yang sekarang dapat mereka lakukan dari jarak jauh melalui Internet. Staf internal dapat menghubungkan perangkat mereka sendiri ke jaringan industri untuk kebutuhan pribadi. Koneksi ke dunia luar ini telah mengurangi sifat air gap sebelumnya, yaitu air tight atau tanpa celah, dan dapat memberikan hacker dan penjahat rute yang mudah untuk menyerang.
Para penyerang juga menjadi lebih canggih dalam pendekatan mereka, dengan ditemukannya sebuah malware baru, yang disebut Fanny, yang dirancang untuk melewati air gap dan mencuri informasi dari jaringan yang dianggap terisolasi dan jauh dari jangkauan. Dalam kasuslain, sebuah serangan malware, yang melampaui aksi spionase, mampu menyebabkan kerusakan besar bagi tungku baja di pabrik besi Eropa. Ini merupakan contoh yang jelas bagaimana rentannya operasi manufaktur otomatis dapat dengan mudah diserang, dan besarnya skala kerusakan yang dapat disebabkan oleh satu insiden. Hal ini menimbulkan pertanyaan, seberapa jauh spionase cyber dapat terjadi dan seberapa serius kerusakan yang diakibatkannya?
Oleh karena itu fokus utama bagi fasilitas industri adalah diperlukannya perlindungan infrastruktur penting dalam lingkungan terkoneksi serta adanya pengelolaan kerentanan terkait disebabkan cara-cara alternatif ataupun tidak langsung yang dipergunakan untuk terhubung ke jaringan industri.
Skenario penggunaan sebuah fasilitas yang besar, kompleks dan di lokasi yang sulit dijangkau merupakan hal yang tipikal. Contohnya saja seperti sebuah sistem pemurnian air otomatis – fasilitas pengolahan air yang menyediakan seluruh kota dengan air minum. Untuk memenuhi harapan peradaban modern, fasilitas ini harus beroperasi 24 jam, setiap hari dalam seminggu, 365 hari dalam setahun.
Biasanya, peralatan yang dipasang di fasilitas tersebut memerlukan perawatan secara berkala. Untuk alasan ini maka penting untuk diberitahu tentang keadaan fisik peralatan, jika tidak maka akan sulit untuk mengatakan seberapa usangnya peralatan itu dan apakah perlu atau tidak peralatan itu diperbaiki. Tanpa pengetahuan ini, peralatan dapat saja diambil untuk pemeliharaan pada waktu yang salah atau bahkan dibiarkan bekerja terlalu lama.
Untuk dapat mengidentifikasi waktu ketika peralatan telah kritis dan usang serta membutuhkan perawatan, maka dipergunakanlah sensor dan pengendali secara online. Teknologi maju ikut bermain disini, menyediakan jembatan komunikasi antara peralatan fisik dan dunia luar, analisis kondisi peralatan dan menginformasikan tentang keputusan yang perlu dibuat untuk dilakukan pemeliharaan. Ini bukan hanya sekedar kasus komputer yang terhubung ke Internet untuk memberikan pengelolaan serta kontrol dari jarak jauh, tetapi bagi peralatan fisik, yang dapat mengontrol proses fisik nyata untuk dilakukan secara online.
Perkiraan menunjukkan bahwa perusahaan dapat menghemat hingga puluhan juta dolar dengan melakukan pendekatan seperti ini. Tetapi hal itu bisa menjadi pedang bermata dua! Anda dapat dengan mudah membayangkan konsekuensi terjadinya insiden cyber, yang dapat dilakukan karena adanya koneksi internet, seperti tidak adanya air di semua kota, banjir atau bahkan pencemaran air yang meluas.
Air gap tidak lagi dapat memberikan perlindungan tanpa celah untuk infrastruktur kritis seperti ini dan fasilitas industri perlu ditempatkan dalam tempat yang terdapat informasi langkah-langkah keamanan yang dapat dipercaya untuk menutup kerentanan. Bagi kebanyakan orang, fasilitas mereka mungkin saja telah diretas dengan malware atau memiliki jaringan penuh celah. Untuk memahami sejauh mana permasalahan yang dihadapi maka audit keamanan terhadap fasilitas tersebut akan dapat membantu mengidentifikasi kerentanan dan membuat model ancaman. Setelah penilaian risiko, dengan menempatkan model ancaman dalam peta keamanan akan membantu untuk menerapkan solusi keamanan yang tepat untuk daerah-daerah kritis dan mengurangi risiko di mana solusi tersebut belum tersedia.
Tidak ada solusi keamanan yang out-of-the-box tetapi sangat penting bahwa fasilitas industri tidak bergantung pada air gap agar mereka tetap aman. Sebuah solusi yang kuat harus terdiri dari beberapa lapisan, masing-masing meliputi area yang spesifik untuk melindungi dari malware dan phishing, email bersih dari spam dan virus, menangkis serangan ke jaringan, dll. Kami tidak bisa cukup menekankan betapa pentingnya menjaga sistem operasi dan perangkat lunak sepenuhnya diperbarui dan ditambal, sehingga fungsi ini juga harus ada pada daftar ‘must-have’. Idealnya, solusinya harus mencakup berbagai tingkat otomatisasi, mulai dari jaringan perusahaan yang konvensional hingga ke jaringan yang menghubungkan peralatan. Tetapi diatas itu semuanya, keamanan harus dianggap sebagai proses berkembang yang membutuhkan usaha yang terus menerus untuk tetap selangkah lebih maju dari orang-orang jahat.
Untuk memastikan proses keamanan tersebut sekuat mungkin, ancaman yang ditimbulkan oleh karyawan perlu juga dipertimbangkan. Bahkan spam filter, email anti-virus dan alat anti-phishing terbaik sekalipun tidak dapat menjamin efisiensi 100% dalam lanskap ancaman cyber yang terus berkembang. Penjahat cyber akan menemukan lebih banyak lagi kerentanan untuk dieksploitasi dan menciptakan lebih banyak lagi cara-cara untuk memotong solusi keamanan. Bahkan sebagian kecil dari satu persen saja sudah cukup bagi mereka, mengingatjumlah enam kali lipat besarnya ketika kita berbicara tentang jumlah ancaman yang dihadapi setiap hari. Jangan mengandalkan teknologi saja tetapi didiklah juga karyawan Anda, meningkatkan kesadaran dan menumbuhkan budaya cyber untuk mengurangi kemungkinan mereka menjadi korban trik rekayasa sosial.












