Direct Release: Akselerasi Penelitian Kendaraan Otonomus di Universitas Nasional Singapura dengan NVIDIA

Reading time:
June 30, 2017
NVIDIA, NUS. Tim NUS dengan kendaraan otonomus SMART-NUS. Singapore-MIT Alliance for Research and Technology (SMART) adalah merupakan perusahaan riset yang didirikan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) dalam kemitraan dengan National Research Foundation of Singapore (NRF) pada tahun 2007.Tantangannya adalah bagaimana mobil yang dapat mengemudi sendiri dapat dibuat menjadi lebih aman lagi berkendara di jalan. Mobil yang dapat bergerak sendiri telah mengetahui bagaimana caranya bernavigasi dengan aman di sepanjang jalan. Namun, penelitian universitas sekarang di fokuskan pada penggunaan pembelajaran yang mendalam untuk memprediksi perilaku benda di sekitar kendaraan. Benda-benda ini bervariasi. Mulai dari sinyal lalu lintas ke pejalan kaki. Karena pelatihan memakan waktu yang lama, dan membutuhkan sejumlah besar daya komputasi untuk di proses, Universitas Nasional Singapura (NUS) sedang mencari sebuah solusi khusus yang dapat memecahkan tantangan litografi kendaraan otonomus (AV). Solusinya? GPU NVIDIA Tesla dan platform komputasi open AI car DRIVE PX 2 memperpendek waktu R&D untuk penelitian AV di NUS. Dua unit sistem NVIDIA DRIVE PX 2 dan perangkat pengembangan software kit (SDK) membantu tim peneliti untuk menguji inferensi algoritma AI. Untuk sisi pelatihan, multiple Pascal graphics processing units* (GPU) digunakan untuk menyalakan jaringan syaraf tiruan yang digunakan untuk pengenalan objek semantik. Teknologi ini mendukung AV eksperimental universitas sekaligus membantu mitra Singapore Technologies Kinetics dalam proyek bis otonomus mereka. DRIVE PX 2 dioptimalkan untuk penelitian AV dan menangani fusi sensor dengan menggunakan algoritma yang kompleks, sehingga memudahkan peneliti NUS untuk lebih fokus membuat AV lebih cerdas pada tingkat yang lebih cepat. Mereka bertujuan untuk mencapai kinerja self-driving yang lebih baik dengan menggunakan pembelajaran yang mendalam, yang meniru sinapsis otak manusia. Selain itu, NUS sedang melakukan penelitian mendalam yang akurat mengenai AV dengan biaya per jam yang lebih rendah dengan menggunakan platform GPU NVIDIA Pascal dan DRIVE PX 2 untuk pelatihan dan inferensi dibandingkan dengan menggunakan solusi komputasi berperforma tinggi lainnya. Selain itu, GPU NVIDIA Pascal menyelesaikan sesi pelatihan secara signifikan lebih pendek, menjaga NUS berada di garis depan penelitian AV global.“Dengan  self-driving car, salah satu hal yang tersulit bisa diprediksi adalah bagaimana kendaraan akan berperilaku dan memprediksi seperti manusia. Dengan NVIDIA DRIVE PX 2 kita tidak perlu menemukan kembali roda; kita dapat membangun di atas yang terbaik dari apa yang sudah tersedia, dan pada gilirannya memberikan kita lebih berkonsentrasi untuk membangun kemampuan baru,” kata Dr Marcelo H Ang, Jr, Acting Director, Advanced Robotics Center and Associate Professor, Department of Mechanical Engineering, National University of Singapore.
NVIDIA, NUS. Tim NUS dengan kendaraan otonomus SMART-NUS. Singapore-MIT Alliance for Research and Technology (SMART) adalah merupakan perusahaan riset yang didirikan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) dalam kemitraan dengan National Research Foundation of Singapore (NRF) pada tahun 2007.

Tantangannya adalah bagaimana mobil yang dapat mengemudi sendiri dapat dibuat menjadi lebih aman lagi berkendara di jalan. Mobil yang dapat bergerak sendiri telah mengetahui bagaimana caranya bernavigasi dengan aman di sepanjang jalan. Namun, penelitian universitas sekarang di fokuskan pada penggunaan pembelajaran yang mendalam untuk memprediksi perilaku benda di sekitar kendaraan. Benda-benda ini bervariasi. Mulai dari sinyal lalu lintas ke pejalan kaki. Karena pelatihan memakan waktu yang lama, dan membutuhkan sejumlah besar daya komputasi untuk di proses, Universitas Nasional Singapura (NUS) sedang mencari sebuah solusi khusus yang dapat memecahkan tantangan litografi kendaraan otonomus (AV).

Solusinya? GPU NVIDIA Tesla dan platform komputasi open AI car DRIVE PX 2 memperpendek waktu R&D untuk penelitian AV di NUS. Dua unit sistem NVIDIA DRIVE PX 2 dan perangkat pengembangan software kit (SDK) membantu tim peneliti untuk menguji inferensi algoritma AI. Untuk sisi pelatihan, multiple Pascal graphics processing units* (GPU) digunakan untuk menyalakan jaringan syaraf tiruan yang digunakan untuk pengenalan objek semantik. Teknologi ini mendukung AV eksperimental universitas sekaligus membantu mitra Singapore Technologies Kinetics dalam proyek bis otonomus mereka.

DRIVE PX 2 dioptimalkan untuk penelitian AV dan menangani fusi sensor dengan menggunakan algoritma yang kompleks, sehingga memudahkan peneliti NUS untuk lebih fokus membuat AV lebih cerdas pada tingkat yang lebih cepat. Mereka bertujuan untuk mencapai kinerja self-driving yang lebih baik dengan menggunakan pembelajaran yang mendalam, yang meniru sinapsis otak manusia. Selain itu, NUS sedang melakukan penelitian mendalam yang akurat mengenai AV dengan biaya per jam yang lebih rendah dengan menggunakan platform GPU NVIDIA Pascal dan DRIVE PX 2 untuk pelatihan dan inferensi dibandingkan dengan menggunakan solusi komputasi berperforma tinggi lainnya. Selain itu, GPU NVIDIA Pascal menyelesaikan sesi pelatihan secara signifikan lebih pendek, menjaga NUS berada di garis depan penelitian AV global.

“Dengan  self-driving car, salah satu hal yang tersulit bisa diprediksi adalah bagaimana kendaraan akan berperilaku dan memprediksi seperti manusia. Dengan NVIDIA DRIVE PX 2 kita tidak perlu menemukan kembali roda; kita dapat membangun di atas yang terbaik dari apa yang sudah tersedia, dan pada gilirannya memberikan kita lebih berkonsentrasi untuk membangun kemampuan baru,” kata Dr Marcelo H Ang, Jr, Acting Director, Advanced Robotics Center and Associate Professor, Department of Mechanical Engineering, National University of Singapore.

Share
Tags:

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

October 29, 2026 - 0

Review Lenovo Legion Pro 5i Gen 10: Laptop Gaming Premium dengan RAM 32 GB Paling Worth It?

Ini adalah laptop High Performance kelas atas yang super worth…
October 28, 2026 - 0

Review HP Omnibook Ultra 14 (2026): Super Tipis, Desain Mewah, Performa Maksimal

Ini adalah laptop kelas premium dari HP yang beneran mewah!…
October 26, 2026 - 0

Review Infinix XBOOK 14 Neo: Laptop 2026 yang Terjangkau, Ringan, dng Warna Bodi Ceria

Laptop dengan nama “NEO” ini ternyata harganya mulai dari 7…
October 23, 2026 - 0

Review Axioo Hype Ai 5 (G3): Kencang & Irit dgn Intel Core Series 3 Wildcat Lake, Harga Terjangkau!

Ini salah satu laptop “Core 5 Series 3” paling terjangkau…

Gaming

October 31, 2026 - 0

Dune: Awakening Umumkan Expansion Gratis Blood and Ice

Dune: Awakening siapkan konten ekspansi gratis Blood and Ice untuk…
October 31, 2026 - 0

Honkai: Star Rail Version 4.7 Bawa Kisah Penutup Planarcadia Arc

Honkai: Star Rail Version 4.7 akhirnya membawa kisah penutup dari…
October 31, 2026 - 0

Visa Gandeng MOONTON Untuk Perkuat Ekosistem Gaming Indonesia

Visa berkolaborasi dengan MOONTON sebagai Global Payment Partner M Series…
October 31, 2026 - 0

GameSir G7 Pro Controller Bawa Nuansa Vice City Dari GTA 6

GameSir luncurkan G7 Pro Sunset Boulevard dan Ocean Breeze, hadirkan…