Digital Artha Media Beberkan Tren Fintech di Tahun 2018
Bank Indonesia memprediksi total transaksi fintech hingga akhir tahun akan mencapai US$ 18,65 miliar. Berdasarkan dari sumber asosiasi Fintech Indonesia dan OJK, tren fintech di tahun 2017 didominasi dengan aktivitas Payment dan Lending. Payment tentunya tetap menjadi faktor utama pembentuk tren di perkembangan fintech, karena bertransaksi adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh semua orang. Sementera bisnis lending atau peminjaman juga menyumbang angka yang cukup besar, dilihat dari angka peminjaman yang diakomodir oleh pemerintah baru mencapai sekitar 60%. Sehingga perkembangan fintech dalam aktivitas kredit atau peminjaman juga sangat besar.

Digital Artha Media (DAM), perusahaan yang hadir sebagai enabler fintech memprediksi beberapa tren baru untuk perkembangan fintech di tahun 2018. DAM memprediksi peningkatan bisnis fintech akan berkembang lebih banyak pada transisi dan sinergi bank dengan teknologi fintech.
Mau tak mau, indsutri perbankan akan mengkuti tren fintech, karena fintech juga dianggap sebagai salah satu solusi yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas lagi untuk bertransaksi non-tunai. Terutama di daerah-daerah terpencil, masih banyak orang yang belum memiliki akun bank. Fintech diharapkan bisa menjadi alternatif, karena kemudahannya dalam proses registrasi yang tentunya lebih mudah dibandingkan registrasi akun bank.
Adanya tren automated personalisation menggunakan Artificial Intelegent, juga akan menjadi kekuatan dalam perkembangan fintech. Bank akan menggunakan kekuatan fintech, untuk memberikan penawaran yang tepat bagi semua orang. Dengan mengetahui kebiasaan-kebiasaan orang saat beraktivitas di dunia digital, seperti bersosial media, belanja ecommerce dan lain sebagainya, tentunya bank akan lebih mudah memberikan penawaran yang pas dengan profil setiap orang.
Tren lainnya, investasi di bidang fintech juga menjadi potensi yang sangat menjanjikan. Asia disebut-sebut sebagai rumah investasi fintech terbesar. Asia yang notabene kebanyakan adalah negara berkembang mulai menyadari pentingnya transaksi non-tunai, termasuk juga Indonesia. Tentunya ini akan membuka kesempatan lapangan investasi bagi industri-industri yang bermain di bidang finansial. Menurut Kamar Dagang Indonesia (KADIN), investasi fintech di tahun 2018 diprediksi akan menembus angka Rp 105,6 triliun.

Salah satu trend fintech sepanjang tahun 2017 adalah kemunculan transaksi mobile, terutama yang terkait dengan consumer purchase. Perusahaan fintech mengintegrasikan teknologi ini ke dalam aplikasi sehingga mengoptimalkan penawaran melalui platform selular. Trend ini pun akan terus berlanjut di tahun 2018 nanti.
DAM (Digital Artha Media) sebagai fintech enabler sendiri memiliki strategi di tahun 2018 mendatang untuk membangun ekosistem fintech lebih luas lagi. Ekosistem fintech ini sendiri dapat didorong dengan peranan tak hanya perusahaan fintech tetapi juga dari sisi customer, teknologi dan market.
Sosialisasi pentingnya fintech ke sisi customer akan memudahkan fintech berkembang lebih pesat. Bila fintech mulai digunakan, dan menjadi tren nantinya tentu akan diikuti meningkatnya penggunaan teknologi fintech di pasaran. Semakin banyak yang menyediakan transaksi menggunakan fintech dipasaran, fintech akan lebih cepat popular.
DAM sendiri saat ini telah menjadi fintech enabler di beberapa layanan. Termasuk diantaranya adalah Mandiri E Cash, mandiri e-cash, indiepay, indieprint, dan wagon. Di tahun 2018, penetrasi fintech yang akan dilakukan masih pada segmen urban tau kota-kota besar. Penetrasi di kota besar sangat penting, karena nantinya di daerah-daerah akan mengikuti tren yang berkembang tersebut.
Disisi lain keamanan, privasi, dan kepercayaan akan terus menjadi tantangan. Namun uniknya keamanan dan kepercayaan dari konsumen kini tidak lagi terpaku pada besarnya suatu brand. Keamanan dan kepercayaan justru lebih banyak tumbuh dari testimoni pelanggan lain yang kemudian berkembang dari mulut ke mulut.















