Data Center Tuai Banyak Kritik, OpenAI Ganti Istilahnya Jadi “Compute Campus”
Data center baru lagi banyak dibangun di mana-mana, bahkan termasuk di Indonesia, seiring dengan kebutuhan AI yang semakin tinggi. Namun, pembangunan data center tersebut menuai banyak kritik dan protes karena dampak lingkungan yang cukup besar. Di tengah istilah “data center” yang jadi semakin negatif belakangan ini, bukan memperkenalkan solusi teknologi baru yang lebih ramah lingkungan, OpenAI justru diam-diam mengganti istilahnya menjadi “compute campus”.
OpenAI Mulai Gunakan Istilah Baru
Perubahan istilah ini terlihat dalam pengumuman Grid Protectors Program, inisiatif OpenAI untuk mengurangi dampak operasional pusat komputasi AI terhadap jaringan listrik lokal. Program tersebut akan dimulai dari proyek di Effingham County, Georgia, Amerika Serikat. Dalam pengumumannya, OpenAI lebih sering menggunakan istilah baru “compute campus” dibandingkan “data center”.
Lewat program tersebut, OpenAI berjanji menanggung biaya tambahan yang timbul akibat kebutuhan listrik fasilitasnya. Perusahaan juga menyebut akan membuat operasional pusat komputasinya lebih fleksibel, terutama ketika jaringan listrik menghadapi tekanan saat cuaca ekstrem atau kondisi darurat. Namun, detail mengenai bagaimana fleksibilitas tersebut diterapkan masih belum dijelaskan secara lebih detail.
Terlepas itu, penggunaan istilah baru ini justru menuai kritik dari kelompok pemerhati lingkungan. Mereka menilai perubahan nama tidak otomatis mengurangi konsumsi energi, dampak lingkungan, maupun beban terhadap sumber daya masyarakat sekitar. Holly Elmore dari PauseAI US bahkan menyebut langkah tersebut sebagai upaya menghindari citra negatif data center tanpa menyelesaikan persoalan utamanya.
Baca Juga: CEO Open AI: “RAM Mending Buat Data Center AI, Daripada PC Rumahan” • Jagat Review
OpenAI sendiri belum memberikan tanggapan mengenai alasan di balik perubahan istilah tersebut. Pada akhirnya, entah bernama data center atau compute campus hal itu tidak akan mengubah fakta dampak lingkungan yang sangat besar di baliknya, jika belum ada solusi teknologi baru yang benar-benar bisa menangani hal tersebut. Pendapat kalian sendiri gimana?














