Review Prosesor Core i5-8400 “Coffee Lake”

Reading time:
October 23, 2017

Platform Pengujian

Berikut spesifikasi dari sistem kami gunakan untuk pengujian ini:

Sistem 1

  • Prosesor: Core i5-8400
  • Motherboard: ASUS ROG Strix Z370-I Gaming
  • HSF: Intel Stock
IMG_20171020_164205734_HDR

Sistem 2

  • Prosesor: Core i5-7600
  • Motherboard: ASUS ROG Maximus IX Formula
  • HSF: PC Cooler S90D
IMG_20171020_163732397_HDR

Komponen Umum

  • RAM: Kingston DDR4-3466 2x 8 GB
  • Graphics Card: GeForce GTX 1060 6 GB FE
  • SSD: Samsung 950 Pro M.2 256 GB
  • PSU: Corsair CX500
  • OS: Windows 10  Enterprise Edition
  • Monitor: Dell S2340L

Penjelasan Konfigurasi RAM

Seperti yang kami sebutkan di halaman sebelumnya, Core i5-8400 ini menawarkan dukungan “resmi” untuk DDR4-2666, meningkat dari DDR4-2400 yang secara “resmi” didukung oleh Core i 7th Gen. Namun, bila kami melakukan pengujian dengan menggunakan konfigurasi yang berbeda untuk kedua sistem, beberapa skor benchmark akan terpengaruh perbedaan kecepatan RAM tersebut. Oleh karena itu, untuk pengujian kali ini, kami akan menggunakan konfigurasi DDR4-2400 (CL 15 15-15-36 1T) untuk kedua sistem, untuk mengurangi perbedaan performa yang lebih disebabkan perbedaan kecepatan RAM.

DDR4 kit yang kami gunakan untuk pengujian kali ini memang menawarkan kecepatan hingga DDR4-3466. Namun, kali ini kami tidak akan menjalankan RAM tersebut di kecepatan sesuai XMP 2.0-nya tersebut, hanya di DDR4-2400.

Testbed - RAM

Metode Pengujian

Kami menggunakan beberapa aplikasi benchmark dan aplikasi produktivitas untuk melihat kemampuan dari Core i5-8400, bila dibandingkan dengan dua prosesor dari Core i 7th Gen. Selain itu, kami juga menguji prosesor-prosesor tersebut di beberapa game. Pengambilan data untuk ketiga prosesor tersebut kami lakukan dalam rentang waktu yang sama. Berikut ini adalah penjelasan terkait benchmark dan game yang kami gunakan.

Benchmark

Berikut daftar benchmark yang kami gunakan:

  • Cinebench R15
  • Geekbench 3
  • HWBOT X265 2.0
  • HWBOT Realbench
  • Blender 2.78a & Blenchmark 1.0.6
  • 3DMark Fire Strike
  • 3DMark Time Spy
Untitled-1

Berbagai aplikasi tersebut kami rasa cukup bisa memberikan gambaran terkait performa yang ditawarkan oleh ketiga prosesor dalam pengujian kali ini. Untuk Cinebench R15, kami akan menampilkan skor single core dan multi core yang dicatatkan ketiga prosesor, sementara di Geekbench 3 kami akan menampilkan skor single core, multi core, dan memory – multi core. Di HWBOT Realbench, kami akan melakukan pengujian untuk skenario Image Editing dan H264 Video Encoding, dan menampilkan waktu yang dibutuhkan sistem untuk menjalankan tugas tersebut. Sementara di HWBOT X265 2.0, kami akan menampilkan fps yang dicatatkan oleh sistem. Sedangkan untuk Blender 2.78a, kami menggunakan add-on Blenchmark 1.0.6.

3DMark juga kami gunakan dalam pengujian kali ini, yaitu dengan benchmark Fire Strike dan Time Spy. Keduanya menurut kami sudah sangat mewakili kebutuhan untuk era saat ini, di mana Fire Strike mewakili kebutuhan untuk game-game DirectX 11, sementara Time Spy untuk game-game DirectX 12.

Game

Berikut daftar game yang kami gunakan:

  • GTA V
  • Battlefield 1
  • Ashes of the Singularity

 

GTA V dan Battlefield 1 dimainkan seperti biasa kemudian di-capture framerate + frametime-nya oleh tool FRAPS untuk mengambil nilai average FPS dan 99th percentile FPS (1% Minimum FPS). Sedangkan untuk Ashes of the Singularity, kami memanfaatkan tool benchmark yang ada di dalam game tersebut, dan menjalankannya di mode DirectX 12.

Tambahan: Sekilas mengenai FPS dan Frame Time

Ada beberapa skenario pengujian dalam gaming yang menghasilkan variasi framerate cukup tinggi yang tidak bisa terdeteksi oleh penghitungan average FPS(frame per second) saja. Kejadian ini membuat kami memutuskan untuk melihat data Frametime log. Frametime adalah waktu dimana 1 (satu) frame akan di-render oleh sistem, biasanya dalam satuan milliseconds (ms). Selama ini kami menggunakan FPS (Frame per second) sebagai unit pengukuran untuk mempermudah perbandingan. Namun, ada kalanya pengukuran frame time ini bisa lebih penting, karena bisa memberi kami data untuk melihat seberapa jauh variance/perbedaan dari waktu render masing-masing frame.

Umumnya, waktu render yang jauh berbeda antar frame, misal frame pertama dirender pada 16.7 ms, lalu frame kedua pada 40 ms, lalu frame ketiga pada 16.7 ms, akan membuat kita merasa adanya ‘stuttering’ dalam game.

Sebagai perbandingan, inilah konversi FPS ke Frametime:
(dengan rumus FPS = 1000/Frametime,  frametime dalam satuan ms. Berlaku sebaliknya, Frametime = 1000/FPS )

  • 120 FPS = 8.3 ms (1000/120 = 8.3)
  • 60 FPS = 16.7 ms (1000/60 = 16.7)
  • 30 fps = 33.3 ms (1000/30 = 33.3)
  • 20 fps = 50 ms (1000/20 = 50)

Ini berarti makin KECIL frametime, makin BESAR FPS-nya, dan berlaku sebaliknya.

Setelah menganalisa lebih lanjut, kami menemukan bahwa ada juga cara mudah untuk menentukan apakah sebuah sistem PC mengalami ‘stutter’ yang parah atau tidak. Salah satunya adalah dengan menganalisa frametime log dari beberapa tool seperti OCATTool sederhana ini dapat menghitung secara otomatis bagian 1% frame yang ‘terburuk’ dari sekumpulan data frame time (a.k.a 99th percentile).

Tentunya, PC yang nilai ‘1% minimum FPS’-nya jauh lebih rendah dari FPS rata-rata, pastinya akan mengalami ketidaknyamanan berupa berbagai kejadian ‘stutter’ dalam game.

[caption id="attachment_12286" align="aligncenter" width="500"]Pada sampel data frametime berikut, terlihat bahwa data Average tidak terlalu mencerminkan 'spike' yang terjadi, sedangkan data 99th percentile-nya lebih mendekati sebagian besar lonjakan yang terjadi sepanjang game berlangsung Pada sampel data frametime berikut, terlihat bahwa data Average tidak terlalu mencerminkan ‘spike’ yang terjadi, sedangkan data 99th percentile-nya lebih mendekati sebagian besar lonjakan yang terjadi sepanjang game berlangsung[/caption]

Share
Load Comments

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

April 29, 2026 - 0

Review Axioo Pongo 755 AMD: Sama Kencangnya, Sama Komplitnya, Lebih Murah Harganya

Bodi Form Factor Clamshell atau Laptop Klasik Material Metal untuk…
April 27, 2026 - 0

Review Acer Predator Helios 16 AI: Laptop Gaming 16″ Paling “Monster” dari Acer!

Bodi Acer Predator Helios 16 AI Nah untuk desain, ini…
April 26, 2026 - 0

Review ASUS ROG Strix G16 (G615): Laptop ROG Kelas Atas dengan RTX 5080, Sekencang Apa?

Bodi ASUS ROG Strix G16 (G615) Form Factor Clamshell atau…
April 13, 2026 - 0

Review Axioo Hype AI 5: Racikan Kencang Merk Lokal dengan Intel Core Ultra

Bodi Axioo Hype AI 5 Form Factor Clamshell atau Laptop…

Gaming

May 2, 2026 - 0

Metro 2039 Tembus 1 Juta Wishlist Hanya Dalam Waktu Dua Pekan

Metro 2039 mencatat permulaan yang sangat kuat dengan menembus 1…
May 2, 2026 - 0

PlayStation Beri Klarifikasi Terkait Isu DRM Game Digital

Sony akhirnya memberi klarifikasi soal kekhawatiran DRM PlayStation yang dikhawatirkan…
May 2, 2026 - 0

Xbox Tampilkan Logo Baru Sebagai Bagian Dari Rebrand Console

Xbox mulai menerapkan identitas visual barunya di console, via logo…
May 1, 2026 - 0

Battlefield 6 Buka Pre-Order Untuk Battle Pass Season 3

EA lakukan manuver monetisasi yang agresif untuk Battlefield 6, dengan…